Bayang-bayang Risiko Kesehatan di Balik Asap Karhutla Kalimantan

kompas.com
4 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah daerah di Kalimantan dalam beberawa waktu terakhir tak sekadar mengganggu aktivitas masyarakat.

Di balik asap yang mengepul dan mengotori langit, ada sederet risiko yang mengancam kesehatan warga.

Tiga hari sudah Rudi, warga Banjarmasin, mengeluhkan sesak napas setelah selalu menghirup kabut asap sejak bangun tidur.

Meski Rudi sudah mengenakan masker, udara bercampur asap tetap merangsek masuk ke diafragmanya, begitu pula dengan matanya yang menyebabkan perih.

Baca juga: TNI Kerahkan 14.167 Prajurit Tangani Karhutla di Indonesia

"Mata yang cukup perih. Apalagi saat ke kantor bawa motor, itu tambah perih," keluh Rudi kepada Kompas.com, Jumat.

Padahal, Banjarmasin bukan wilayah utama penyebaran titik api, hanya menerima asap "kiriman" dari daerah tetangga.

Di sisi lain, sejumlah warga di Banjarbaru sudah mengeluhkan jarak pandang terbatas.

Jalan dengan jarak pandang terbatas itu di antaranya kawasan Pengayuan, Jalan Jurusan Pelaihari, Liang Anggang, Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Akibat kabut asap, jarak pandang hanya sekitar 5-10 meter sehingga masyarakat perlu ekstra hati-hati ketika melintasi jalan, utamanya jalan yang cenderung ramai.

Baca juga: Api Karhutla Dekati Permukiman, Jalur Trans Kalimantan di Banjarbaru Ditutup Sementara

Lilik, salah seorang pemotor yang melintasi kawasan Liang Anggang, menceritakan bahwa meski jarak pandang kabut asap tidak sepekat pada pagi hari, ia tetap harus ekstra waspada.

"Tadi lewat Liang Anggang mau pulang ke Banjarmasin, napas sempat sesak dan mata perih," tutur Lilik.

Langkah serupa diambil oleh Dika, pengendara motor lainnya yang rela mengambil rute perjalanan memutar demi menghindari paparan asap pekat yang mengganggu pernapasan.

"Tadi dari jauh asapnya sudah kelihatan. Daripada sesak napas, aku pilih memutar lewat Kilometer 17, walaupun sedikit lebih jauh sampai ke rumah," ungkap Dika.

Risiko kesehatan

Ahli Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan dari Griffith University Australia, Dicky Budiman mengatakan, risiko kesehatan saat kabut asap menghalangi pandangan ini berimplikasi serius.

Ia menyampaikan, minimnya jarak pandang menjadi tanda bahwa konsentrasi partikulat PM 2.5 atau PM 10-nya sudah sangat tinggi.

"Jarak pandang berkurang itu justru adalah indikator lapangan, indikator nyata yang lebih cepat dirasakan warga dibandingkan indeks kualitas udara (Air Quality Index/AQI) yang resmi," kata Dicky kepada Kompas.com, Jumat (21/8/2026).

Dosen di Sekolah Pascasarjana YARSI dan Center for Environmental and Population Health di Griffith University ini menyebutkan, setidaknya ada dua risiko yang membayangi masyarakat sekitar, yakni risiko akut dan risiko sub-akut.

Baca juga: Ketua DPR Ungkap Negara Lain Berkali-kali Kirim Nota Keberatan ke RI karena Karhutla

Risiko akut biasanya terjadi karena paparan kabut asap dalam hitungan jam hingga satu minggu, sedangkan risiko sub-akut sampai kronis terjadi karena paparan kabut asap dalam hitungan bulan hingga tahunan.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Risiko akut biasanya meliputi infeksi saluran pernapasan akut (ISPA)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Mobil Terjun ke Sungai Jari Blitar, Pengemudi Tewas
• 20 jam lalu
0
thumb
Kapolri Resmikan Gedung KSPSI AGN Jatim
• 4 jam lalu
0
thumb
Gempa Magnitudo 6,7 Guncang Selatan Peru, Getaran Terasa hingga Lima
• 8 jam lalu
0
thumb
Niat Sembunyikan? Ruben Onsu Kaget Status Tersangka Dibuka ke Publik
• 7 jam lalu
0
thumb
Para Pendukung Industri Global dan Lokal Mendukung Automechanika Jakarta
• 12 jam lalu
0
Berhasil disimpan.