Seorang nenek berusia 82 tahun di Italia mengalami sakit perut tak biasa akibat kutu kayu yang hidup di dalam ususnya. Kutu itu ditemukan saat ia menjalani operasi. Kasus unik tersebut telah dilaporkan di BMJ Case Reports dan menjadi contoh langka bagaimana benda asing dapat menyebabkan small bowel obstruction (SBO), atau sumbatan pada usus halus.
Kasus bermula ketika lansia tersebut dibawa ke rumah sakit setelah mengalami sakit perut yang semakin parah selama empat hari. Keluhan tersebut disertai sembelit, mual, dan muntah. Saat diperiksa, dokter mendapati perut pasien membesar dan terasa nyeri ketika ditekan. Hasil pemeriksaan darah juga menunjukkan peningkatan jumlah sel darah putih, yang umumnya menjadi tanda adanya respons sistem kekebalan tubuh terhadap infeksi.
Dokter kemudian melakukan pemeriksaan menggunakan sinar-X. Hasilnya menunjukkan sebagian usus pasien melebar akibat penumpukan gas atau cairan, sementara bagian lainnya justru mengempis.
Pemeriksaan CT scan perut kemudian mengungkap adanya benda padat yang menyumbat lilitan usus di sisi kanan. Kondisi tersebut dikenal sebagai small bowel obstruction (SBO). SBO dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, termasuk tumor. Bagian usus juga dapat terpuntir dan membentuk volvulus. Selain itu, jaringan tubuh dapat menembus robekan pada dinding usus dan menyebabkan hernia.
Namun, dalam laporan kasus tersebut, dokter menjelaskan bahwa sumbatan usus juga dapat terjadi akibat benda asing. Penyebabnya bisa berupa benda yang tidak sengaja tertelan, batu empedu yang berpindah ke usus, kumpulan parasit seperti cacing gelang, maupun bezoar.
Bezoar merupakan gumpalan material yang tidak tercerna dan kemudian menumpuk di saluran pencernaan. Jika berasal dari material tumbuhan, kondisi tersebut disebut phytobezoar.
Sumbatan usus dapat mengancam nyawa apabila penyumbatan menutup saluran usus sepenuhnya dan tidak segera ditangani. Kondisi tersebut dapat menyebabkan strangulation, yakni terputusnya aliran darah ke bagian usus hingga jaringan mengalami kematian.
Karena itu, dokter merekomendasikan operasi darurat untuk menghilangkan sumbatan sekaligus mencegah kerusakan jaringan usus. Tim bedah kemudian melakukan laparotomi, yakni prosedur dengan membuat sayatan pada perut untuk mengakses bagian dalam rongga perut dan usus.
Dokter menemukan lokasi gumpalan tersebut dan mengangkatnya melalui pembedahan. Benda yang dikeluarkan berukuran lebih dari 5,5 sentimeter dan diketahui merupakan phytobezoar, yakni gumpalan yang tersusun dari material tumbuhan yang tidak tercerna.
Namun, ada kejutan lain saat dokter mengeluarkan gumpalan tersebut, sesuatu seperti serangga kecil yang masih hidup tiba-tiba melompat keluar dari gumpalan sayuran yang menyumbat di usus. Hewan itu kemudian merayap di atas kain steril yang digunakan selama operasi.
Tim medis segera menangkap hewan tersebut dan mengirimkannya ke laboratorium untuk diperiksa. Hasil analisis menunjukkan bahwa hewan itu bukan serangga, melainkan hewan artropoda darat dari kelompok Isopoda. Kelompok ini masih berkerabat dengan kepiting dan udang karena termasuk dalam kelompok krustasea.
Isopoda darat memiliki tubuh pipih, kerangka luar yang keras dan bersegmen, serta tujuh pasang kaki. Hewan tersebut memiliki berbagai nama umum, seperti pill bug, sow bug, roly-poly bug, dan woodlouse. Di Indonesia, kelompok hewan ini umumnya dikenal sebagai kutu kayu.
Diduga Tertelan Bersama SayuranIsopoda darat biasanya memakan tumbuhan yang membusuk. Karena itu, dokter menduga perempuan tersebut secara tidak sengaja menelan kutu bersama sayuran atau buah yang belum dicuci.
Meski terdengar tidak biasa, sistem pencernaan manusia pada umumnya dapat menghancurkan serangga, laba-laba, atau artropoda kecil yang tidak beracun jika tertelan secara tidak sengaja. Asam dan enzim pencernaan akan memecahnya seperti halnya protein lainnya.
Namun, dalam kasus kali ini, dokter menduga gumpalan material tumbuhan yang padat di dalam saluran pencernaan telah melindungi isopoda, sehingga hewan itu dapat bertahan hidup untuk sementara waktu di dalam tubuh pasien.
Pasien kemudian pulih setelah menjalani operasi. Tak lama setelah itu, ia pindah ke sebuah panti jompo. Dalam kunjungan tindak lanjut 18 bulan kemudian, pasien dilaporkan masih tinggal di panti jompo.
Kasus ini terbilang unik karena hanya sekitar 25 persen SBO yang disebabkan benda asing, termasuk bezoar. Pada orang berusia di atas 50 tahun, penyebab SBO yang paling umum justru adalah volvulus, atau usus yang terbelit.
Kelompok isopoda sendiri terdiri atas lebih dari 11 ribu spesies, dan sekitar setengahnya hidup di laut. Beberapa isopoda laut bahkan diketahui menjadi parasit pada ikan. Salah satunya adalah spesies yang dikenal sebagai tongue biter, yang dapat memakan lalu menggantikan lidah ikan inangnya. Namun, dokter menegaskan bahwa belum ada isopoda darat yang diketahui dapat menjadi parasit pada manusia.
Dalam kasus perempuan berusia 82 tahun tersebut, keberadaan kutu kayu hidup di dalam gumpalan tumbuhan kemungkinan besar hanyalah kejadian yang sangat tidak biasa—bukan karena hewan itu sengaja hidup sebagai parasit di dalam tubuh manusia.






Komentar (0)