Persoalan sampah rumah tangga kerap terlihat sederhana: selesai digunakan, lalu dibuang. Dari satu rumah, jumlahnya mungkin terlihat tidak seberapa. Namun, ketika dikumpulkan dari banyak rumah setiap hari, sampah rumah tangga dapat menjadi beban besar bagi lingkungan.
Beban itu terlihat dari besarnya tantangan pengelolaan sampah di tempat pemrosesan akhir. Di TPST Bantargebang, misalnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai menutup sejumlah zona pembuangan menggunakan media pelindung dan geomembrane sebagai bagian dari transisi menuju sistem controlled landfill. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi bau, membantu mengendalikan emisi gas, serta meminimalkan terbentuknya air lindi akibat masuknya air hujan ke area timbunan sampah.
Upaya di hilir seperti itu penting. Namun, pengelolaan sampah tidak bisa hanya bertumpu pada tempat pembuangan akhir. Jika sampah terus datang dalam kondisi tercampur, beban pengelolaannya akan tetap besar. Karena itu, pengurangan dan pemilahan sampah sejak dari sumber menjadi bagian penting dari solusi.
Di tingkat rumah tangga, persoalannya sering kali dimulai dari kebiasaan kecil. Sampah organik, plastik, kertas, hingga barang bekas masih kerap tercampur jadi satu, sehingga lebih sulit diproses ulang atau dimanfaatkan kembali. Padahal, sebagian sampah tersebut masih memiliki nilai jika dipilah sejak awal.
Masalahnya bukan hanya soal fasilitas pengangkutan sampah. Kesadaran memilah dari rumah, sistem pencatatan yang rapi, serta keterlibatan warga juga menjadi bagian penting agar pengelolaan sampah dapat berjalan berkelanjutan.
Hal itulah yang menjadi perhatian Desty Eka Sari Putri. Berangkat dari persoalan sampah di lingkungan tempat tinggalnya di Kabupaten Serang, Banten, Desty melihat bahwa pengelolaan sampah tidak bisa hanya berhenti pada proses angkut dan buang. Warga perlu dilibatkan sejak dari rumah, mulai dari memilah, menimbang, menabung, hingga tumbuh kesadaran bahwa sampah yang dikumpulkan bisa memberi manfaat ekonomi bagi keluarga.
Pada 2020, Desty mulai membangun bank sampah dengan pendekatan digital. Sistem tersebut digunakan agar proses pencatatan, penimbangan, hingga transaksi menjadi lebih transparan dan mudah dipantau. Dengan begitu, warga tidak hanya menyerahkan sampah, tetapi juga dapat melihat bahwa sampah yang dipilah memiliki nilai dan manfaat nyata.
Pendekatan ini perlahan mengubah cara warga memandang sampah. Barang yang sebelumnya dianggap tidak berguna mulai dilihat sebagai sumber daya yang masih bisa diolah. Sampah rumah tangga yang dipilah dapat dikonversi menjadi tabungan, dimanfaatkan untuk kebutuhan keluarga, bahkan mendukung kegiatan sosial di lingkungan sekitar.
Gerakan yang awalnya tumbuh dari satu lingkungan kecil itu kemudian berkembang ke lebih banyak titik. Bank Sampah Digital kini menjangkau ratusan unit bank sampah di wilayah Serang dan Cilegon. Dari ruang-ruang komunitas inilah, pengelolaan sampah tidak lagi dipandang sebagai urusan teknis semata, tetapi juga sebagai gerakan sosial yang melibatkan banyak warga.
Yang menarik, mayoritas penggerak bank sampah tersebut adalah perempuan, terutama ibu rumah tangga. Mereka menjadi pihak yang dekat dengan aktivitas domestik sehari-hari, termasuk pengelolaan sampah dari rumah. Karena itu, ketika perempuan dilibatkan secara aktif, perubahan perilaku di tingkat keluarga dan lingkungan dapat bergerak lebih cepat.
Melalui bank sampah, para perempuan tidak hanya ikut menjaga kebersihan lingkungan. Mereka juga memperoleh manfaat ekonomi dari hasil tabungan sampah. Dana yang terkumpul dapat digunakan untuk kebutuhan keluarga, kegiatan sosial, hingga mendukung usaha mikro di komunitas.
Bank Sampah Digital juga memperlihatkan bahwa pemberdayaan masyarakat dapat berjalan beriringan dengan inovasi. Teknologi digital membantu sistem menjadi lebih tertata, sementara kekuatan komunitas membuat gerakan ini tetap dekat dengan kebutuhan warga. Keduanya saling melengkapi: teknologi mempermudah proses, sedangkan partisipasi warga memastikan program tetap hidup.
Dampak gerakan ini terus berkembang. Sepanjang 2025, Bank Sampah Digital di Banten berhasil menghimpun 109 ton sampah yang dipilah dari masyarakat dan dikonversi menjadi tabungan senilai Rp192 juta. Sampah yang semula berpotensi berakhir di TPA, kini dapat memiliki nilai ekonomi bagi warga sekitar yang memilahnya dari rumah.
Inisiatif ini juga membuka ruang kolaborasi yang lebih luas. Selain pengelolaan sampah, Bank Sampah Digital mengembangkan berbagai program pemberdayaan seperti sedekah sampah, lumbung pangan, modal usaha bergulir, hingga edukasi lingkungan bagi masyarakat dan anak-anak sekolah. Dengan cara ini, isu sampah tidak berhenti pada kebersihan, tetapi berkembang menjadi pintu masuk untuk membangun kesadaran sosial dan ekonomi.
Sebagai Penerima Apresiasi SATU Indonesia Awards 2022 Bidang Lingkungan, Desty menunjukkan bahwa aksi iklim dapat dimulai dari komunitas paling dekat. Gerakannya tidak berangkat dari program besar yang jauh dari warga, melainkan dari persoalan yang mereka hadapi setiap hari.
Dari pengelolaan sampah rumah tangga, Desty membuka jalan bagi pemberdayaan perempuan, penguatan ekonomi keluarga, dan pengembangan ekonomi hijau berbasis masyarakat. Ia membuktikan bahwa perubahan lingkungan tidak selalu dimulai dari langkah yang rumit. Kadang, perubahan justru lahir dari kebiasaan sederhana: memilah sampah dari rumah, mencatatnya dengan rapi, lalu menjadikannya bagian dari gerakan bersama.
Ke depan, gerakan seperti Bank Sampah Digital menjadi semakin relevan di tengah meningkatnya tantangan pengelolaan sampah dan perubahan iklim. Ketika warga dilibatkan sejak dari rumah, sampah tidak lagi hanya menjadi beban di hilir. Ia dapat dikelola sejak awal, dikurangi dampaknya, dan diubah menjadi manfaat bagi masyarakat.
Kisah Desty juga memperlihatkan bahwa perempuan memiliki peran besar dalam mendorong perubahan lingkungan. Dari rumah, komunitas, hingga jejaring bank sampah, mereka dapat menjadi penggerak yang membantu membangun kebiasaan baru di tengah masyarakat.
Bagaimana Bank Sampah Digital menjadi ruang pemberdayaan perempuan? Seperti apa cara Desty mengubah persoalan sampah menjadi gerakan komunitas yang berdampak bagi lingkungan dan ekonomi warga? Baca kisah lengkapnya dalam ASTRA MAGZ edisi Juli 2026.






Komentar (0)