Jakarta: Perubahan regulasi dan perkembangan teknologi mendorong industri perbankan menyesuaikan pola operasional. Efisiensi, kepatuhan, produktivitas, serta kualitas layanan menjadi sejumlah aspek yang perlu diperhatikan perbankan dalam menghadapi perubahan lingkungan bisnis.
Persoalan tersebut dibahas dalam Banking Connect 2026 bertajuk Building Future-Ready Banking Operations: Lean, Smart and Sustainable yang digelar ISS Indonesia. Forum ini mempertemukan regulator, asosiasi dunia usaha, dan pelaku industri perbankan untuk membahas perkembangan ketenagakerjaan, pengelolaan tenaga alih daya, serta pemanfaatan teknologi dalam operasional perbankan.
Lebih dari 40 praktisi perbankan dari berbagai institusi di Indonesia mengikuti forum tersebut. Sejumlah narasumber dari pemerintah, dunia usaha, dan industri perbankan turut menyampaikan perspektif masing-masing.
Dari Kementerian Ketenagakerjaan, hadir Andi Awaluddin selaku Ketua Tim Pengembangan Pengupahan sekaligus Ketua Tim Perancangan UU Ketenagakerjaan. Sementara dari kalangan dunia usaha, hadir Ketua Komite Regulasi dan Hubungan Kelembagaan Bidang Ketenagakerjaan APINDO Myra M Hanartani.
Sektor perbankan diwakili Vice President Outsourcing Management PT Bank Central Asia Tbk Norwin Zebua. Forum tersebut juga menghadirkan perwakilan ISS Indonesia untuk membahas transformasi pengelolaan tempat kerja.
Myra menilai pelaku usaha menghadapi sejumlah tantangan dalam menjaga keberlangsungan bisnis di tengah perubahan ekonomi, regulasi, dan teknologi.
Baca Juga :
Industri Kripto-Bank Digital Perkuat Akses Layanan Finansial Digital
Ia menyebut kenaikan biaya operasional, perubahan regulasi, serta kebutuhan terhadap sumber daya manusia yang sesuai dengan perkembangan industri menjadi sejumlah persoalan yang perlu diantisipasi.
"Dunia usaha saat ini menghadapi tantangan berupa kenaikan biaya operasional, dinamika regulasi, dan kesiapan sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan industri. Untuk menghadapi kondisi tersebut, perusahaan perlu menerapkan lima langkah utama, yaitu comply, prepare, streamline, productive, dan adapt agar tetap kompetitif dan berkelanjutan di tengah perubahan bisnis dan teknologi yang terus berkembang," ujar Myra M Hanartani, Jumat, 21 Agustus 2026.
Dari sisi pemerintah, Andi Awaluddin menekankan perlunya keseimbangan antara perlindungan pekerja dan keberlangsungan kegiatan usaha dalam penyusunan regulasi ketenagakerjaan.
"Pembangunan ketenagakerjaan berlandaskan pada prinsip keseimbangan, yaitu melindungi hak pekerja atas penghidupan yang layak sekaligus mendukung iklim investasi dan keberlangsungan dunia usaha. Ke depan, regulasi ketenagakerjaan tidak hanya adaptif terhadap dinamika pasar kerja, tetapi juga visioner dalam mengantisipasi berbagai perubahan, termasuk perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan gig economy," ujar Andi Awaluddin.
(Ilustrasi. Foto: Medcom.id)
Perubahan pola kerja dan kebutuhan efisiensi turut mendorong perbankan menata pengelolaan tempat kerja. Pendekatan workplace solution menjadi salah satu topik yang dibahas dalam forum tersebut, terutama dalam kaitannya dengan integrasi sumber daya manusia, proses kerja, dan teknologi.
Bagi industri perbankan yang memiliki tingkat regulasi tinggi, pengelolaan operasional juga berkaitan dengan pemenuhan standar kepatuhan dan pengendalian risiko.
ISS Indonesia, sebagai penyedia layanan Integrated Facility Management (IFM), menilai pengelolaan tempat kerja perlu diarahkan pada hasil yang terukur. Pendekatan tersebut mencakup pengelolaan fasilitas, sumber daya manusia, serta pemanfaatan teknologi dalam mendukung kegiatan operasional.
Muhammad Sofyan mengatakan kebutuhan perbankan terhadap transformasi pengelolaan tempat kerja semakin berkaitan dengan efisiensi, kepatuhan, serta pengalaman karyawan dan nasabah.
"Perbankan membutuhkan transformasi workplace solution yang mampu mengintegrasikan manusia, proses, dan teknologi. Melalui layanan Integrated Facility Management (IFM) yang berorientasi kepada hasil, ISS Indonesia membantu perbankan melakukan transformasi workplace untuk meningkatkan efisiensi operasional, mendukung kepatuhan terhadap regulasi, serta memperkuat engagement dengan karyawan dan nasabah," ujar Muhammad SofyaN.
Teknologi Dukung Operasional PerbankanPemanfaatan teknologi juga menjadi bagian pembahasan dalam Banking Connect 2026. Digital operations dan smart building dinilai dapat digunakan untuk membantu pengelolaan fasilitas serta pemanfaatan sumber daya secara lebih efisien.
Penggunaan teknologi berbasis data juga dapat mendukung proses pengambilan keputusan secara lebih cepat. Pengelolaan energi dan fasilitas menjadi salah satu area yang dapat diintegrasikan dengan sistem digital dalam operasional gedung.
Transformasi tersebut berjalan seiring dengan perubahan pola kerja di sektor perbankan, termasuk penerapan sistem kerja hibrida pada sejumlah organisasi. Integrasi manusia, proses, dan teknologi menjadi salah satu pendekatan dalam menyesuaikan operasional dengan kebutuhan tersebut.
Melalui Banking Connect 2026, ISS Indonesia mendorong pembahasan antara pemerintah, dunia usaha, dan pelaku industri perbankan mengenai perubahan regulasi serta kebutuhan transformasi operasional.
Forum tersebut menempatkan efisiensi, kepatuhan, pemanfaatan teknologi, dan kesiapan sumber daya manusia sebagai sejumlah aspek yang perlu diperhatikan dalam membangun operasional perbankan yang adaptif terhadap perubahan.





Komentar (0)