Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kesehatan mengatakan, memasuki awal musim kemarau yakni minggu ke 27-31 tahun 2026, kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menunjukkan tren peningkatan hingga mencapai lebih dari 400 ribu kasus per minggu.
Peningkatan kasus tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan minggu yang sama pada 2025.
"Kalau lihat trennya, salah satu faktor utama karena masuk musim kemarau. Karhutla juga memberi dampak," kata Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman di Jakarta, Jumat.
Dia menjelaskan, tren ISPA pada 2026 secara umum lebih tinggi dibandingkan 2025. Puncak musim kemarau terjadi pada minggu ke 32–44, terlihat bahwa kasus di minggu tersebut pada 2025 menunjukkan tren yang relatif tinggi dan konsisten. Pada M32 2025, terdapat sekitar 300–350 ribu kasus, kemudian meningkat hingga hampir 400 ribu kasus pada M44.
Pihaknya mencatat, pada 2026, di M30 terdapat sekitar 400 ribu kasus, sementara pada M31 sedikit berkurang.
"Musim kemarau di Indonesia berlangsung secara bertahap antarwilayah, dengan sebagian besar wilayah diprediksi mencapai puncak kemarau pada Juli-Agustus 2026," ujar Aji.
Baca juga: Kiat menanggulangi penyakit ISPA di musim kemarau
Dia menyebutkan, periode kemarau menjadi periode kewaspadaan karhutla. Berdasarkan penelitian dan publikasi ilmiah, aktivitas kebakaran hutan mulai meningkat sekitar bulan Juli dan mencapai puncak pada Agustus-September.
Selain itu, katanya, peningkatan kasus ISPA terjadi saat musim hujan atau musim dingin, saat suhu lebih rendah dan kelembapan tinggi.
Jika cakupan vaksin influenza dan COVID-19 rendah, risiko infeksi meningkat terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Dalam kesempatan itu, dia juga menyebutkan bahwa per 17 Agustus 2026, sebanyak 90 tenaga kesehatan dan berbagai bantuan logistik kesehatan dikerahkan merespons gangguan kesehatan akibat karhutla di sejumlah wilayah tanah air.
Tenaga kesehatan tersebut terdiri dari antara lain dokter, perawat, apoteker, bidan, ahli gizi, pengemudi ambulans, sanitarian, epidemiolog.
Dia menyebutkan, para tenaga kesehatan dikirimkan ke wilayah terdampak karhutla, yakni 40 ke Kalimantan Selatan, empat ke Riau, 27 ke Kalimantan Tengah, sembilan ke Kalimantan Barat, lima ke Jambi, dan lima ke Kalimantan Timur.
Kemudian, bantuan logistik untuk daerah-daerah tersebut mencakup 267.630 masker, 54 unit OC, 1.000 pasang handscoon, 36 tabung Oxycan, 33 dus PMT, 40 faceshield, dan delapan Alat Pelindung Diri (APD).
Baca juga: Palangka Raya laksanakan CKG pada anggota satgas penanganan karhutla
Aji mengimbau publik untuk menerapkan pola hidup bersih sehat tiap hari untuk menjaga daya tahan tubuh di kala musim kemarau dan peningkatan risiko ISPA karena karhutla.
"Terapkan PHBS setiap hari. Konsumsi makanan bergizi, cuci tangan pakai air dan sabun, istirahat cukup, dan hindari merokok," katanya.
Dia juga mengingatkan untuk membatasi aktivitas di luar ruangan saat udara berasap atau berdebu. Jika harus keluar rumah untuk beraktivitas, gunakan masker yang tepat menutupi hidung dan mulut, serta tutup pintu dan jendela saat asap pekat.
"Lindungi kelompok rentan. Bayi, balita, ibu hamil, lansia, serta penderita asma, penyakit paru, atau penyakit jantung sebaiknya menghindari paparan asap dan segera berkonsultasi jika keluhan memburuk," katanya.
Dia juga mengimbau untuk menjaga kebersihan lingkungan dan air. Pastikan air minum dan makanan tetap bersih, serta lakukan 3M Plus agar tempat penampungan air tidak menjadi sarang nyamuk selama musim kemarau.
"Kenali gejala ISPA dan segera periksa ke fasilitas kesehatan terdekat. Jangan menunda berobat bila mengalami batuk yang tidak membaik, sesak napas, demam tinggi, nyeri dada, atau keluhan lain yang mengganggu, terutama pada kelompok berisiko," katanya.
Baca juga: Penerbangan ke Muara Teweh dibatalkan akibat kabut asap
Peningkatan kasus tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan minggu yang sama pada 2025.
"Kalau lihat trennya, salah satu faktor utama karena masuk musim kemarau. Karhutla juga memberi dampak," kata Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman di Jakarta, Jumat.
Dia menjelaskan, tren ISPA pada 2026 secara umum lebih tinggi dibandingkan 2025. Puncak musim kemarau terjadi pada minggu ke 32–44, terlihat bahwa kasus di minggu tersebut pada 2025 menunjukkan tren yang relatif tinggi dan konsisten. Pada M32 2025, terdapat sekitar 300–350 ribu kasus, kemudian meningkat hingga hampir 400 ribu kasus pada M44.
Pihaknya mencatat, pada 2026, di M30 terdapat sekitar 400 ribu kasus, sementara pada M31 sedikit berkurang.
"Musim kemarau di Indonesia berlangsung secara bertahap antarwilayah, dengan sebagian besar wilayah diprediksi mencapai puncak kemarau pada Juli-Agustus 2026," ujar Aji.
Baca juga: Kiat menanggulangi penyakit ISPA di musim kemarau
Dia menyebutkan, periode kemarau menjadi periode kewaspadaan karhutla. Berdasarkan penelitian dan publikasi ilmiah, aktivitas kebakaran hutan mulai meningkat sekitar bulan Juli dan mencapai puncak pada Agustus-September.
Selain itu, katanya, peningkatan kasus ISPA terjadi saat musim hujan atau musim dingin, saat suhu lebih rendah dan kelembapan tinggi.
Jika cakupan vaksin influenza dan COVID-19 rendah, risiko infeksi meningkat terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Dalam kesempatan itu, dia juga menyebutkan bahwa per 17 Agustus 2026, sebanyak 90 tenaga kesehatan dan berbagai bantuan logistik kesehatan dikerahkan merespons gangguan kesehatan akibat karhutla di sejumlah wilayah tanah air.
Tenaga kesehatan tersebut terdiri dari antara lain dokter, perawat, apoteker, bidan, ahli gizi, pengemudi ambulans, sanitarian, epidemiolog.
Dia menyebutkan, para tenaga kesehatan dikirimkan ke wilayah terdampak karhutla, yakni 40 ke Kalimantan Selatan, empat ke Riau, 27 ke Kalimantan Tengah, sembilan ke Kalimantan Barat, lima ke Jambi, dan lima ke Kalimantan Timur.
Kemudian, bantuan logistik untuk daerah-daerah tersebut mencakup 267.630 masker, 54 unit OC, 1.000 pasang handscoon, 36 tabung Oxycan, 33 dus PMT, 40 faceshield, dan delapan Alat Pelindung Diri (APD).
Baca juga: Palangka Raya laksanakan CKG pada anggota satgas penanganan karhutla
Aji mengimbau publik untuk menerapkan pola hidup bersih sehat tiap hari untuk menjaga daya tahan tubuh di kala musim kemarau dan peningkatan risiko ISPA karena karhutla.
"Terapkan PHBS setiap hari. Konsumsi makanan bergizi, cuci tangan pakai air dan sabun, istirahat cukup, dan hindari merokok," katanya.
Dia juga mengingatkan untuk membatasi aktivitas di luar ruangan saat udara berasap atau berdebu. Jika harus keluar rumah untuk beraktivitas, gunakan masker yang tepat menutupi hidung dan mulut, serta tutup pintu dan jendela saat asap pekat.
"Lindungi kelompok rentan. Bayi, balita, ibu hamil, lansia, serta penderita asma, penyakit paru, atau penyakit jantung sebaiknya menghindari paparan asap dan segera berkonsultasi jika keluhan memburuk," katanya.
Dia juga mengimbau untuk menjaga kebersihan lingkungan dan air. Pastikan air minum dan makanan tetap bersih, serta lakukan 3M Plus agar tempat penampungan air tidak menjadi sarang nyamuk selama musim kemarau.
"Kenali gejala ISPA dan segera periksa ke fasilitas kesehatan terdekat. Jangan menunda berobat bila mengalami batuk yang tidak membaik, sesak napas, demam tinggi, nyeri dada, atau keluhan lain yang mengganggu, terutama pada kelompok berisiko," katanya.
Baca juga: Penerbangan ke Muara Teweh dibatalkan akibat kabut asap






Komentar (0)