MANGGARAI TIMUR, KOMPAS.TV – Seorang dokter di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Dampek Nusantara Sehat, Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) Melinda Bella, menangani ratusan warga terdampak gempa seorang diri berbekal stetoskop.
Gempa bumi berkekuatan M7,7 yang terjadi di NTT pada Sabtu (15/8/2026) menyisakan luka, duka, dan cerita. Salah satunya adalah yang dialami oleh Mellinda.
Sebagai satu-satunya dokter yang ada di lokasi gempa, ia menjadi sandaran bagi warga setempat untuk memeriksa dan menangani mereka yang terluka akibat gempa.
Melinda, dokter muda dengan tahi lalat di sisi kanan hidung mengisahkan bagaimana dirinya mengalami dilema saat membantu warga terluka.
Baca Juga: 4.084 Gempa Susulan Guncang Flores, Terbaru M5.2 Jumat Dini Hari Tadi
Berlatar belakang tenda medis berwarna putih dan aktivitas sejumlah tenaga kesehatan lain, Mellinda dengan lancar menuturkan detik-detik awal terjadinya bencana.
Rekaman memorinya seperti terpampang di depan mata, saat ia menyelamatkan diri dari gempa bumi tersebut.
Kala itu, ia sempat merasa bingung bagaimana menangani sekitar dua ratus warga terdampak bencana karena dirinya hanya sempat membawa satu stetoskop saat menyelamatkan diri.
“Saya hanya bawa stetoskop. Semua orang ikut teriak, ‘Dokter, dokter, tolong dokter, tolong.’ Saya bingung, saya apa yang saya bisa lakukan sedangkan saya tidak punya apa-apa, hanya stetoskop,” ungkapnya, Jumat (21/8/2026) dalam Kompas Pagi KompasTV.
“Sudah. Jadi, saya hanya bisa menenangkan pasien-pasien. Saya bilang, ‘Iya, Bu. Iya. Saya periksa dulu ya.’ Hanya dengan stetoskop,” kenangnya.
Ia menduga pasien merasa lebih tenang karena mengetahui bahwa dirinya adalah seorang dokter, meski hanya dengan satu stetoskop.
Iya, benar, Pak. Saya satu-satunya dokter di sana saat terjadi gempa. Dengan begitu banyak pasien yang saya tangani pada hari pertama sekitar 200-an pasien.
Bukan tanpa tantangan, Mellinda mengaku sempat stres menangani pasien dalam jumlah banyak seorang diri.
Tapi, sisi kemanusiaan pada dirinya tak bisa membiarkan warga terluka tanpa penanganan. Terlebih, saat itu hanya dia tenaga medis yang menjadi sandaran.
“Saat itu, saya benar-benar benar-benar stres sebenarnya untuk diri saya sendiri.”
Saat itu, ia membuktikan bahwa tekad dan sisi kemanusiaan yang ada pada dirinya lebih kuat daripada fisik Melinda sebagai seorang perempuan.
Meski, Mellinda sempat mengeluh pada camat setempat bahwa dirinya tidak mampu dan hampir pingsan kelelahan.
“Saya bilang, ‘Pak, jujur saya sudah tidak mampu’. Saya benar-benar sudah tidak mampu karena saya hampir pingsan tiga kali, saya hipoglikemi, saya belum istirahat, dan saya berjalan untuk memeriksa pasien terus, tidak duduk-duduk selama hampir mau dua hari. Sampai kaki saya juga bengkak,” ungkapnya.
Namun, jawaban camat seperti menjadi penyemangat baginya. Kala itu, camat mengatakan, jika seorang dokter saja tidak mampu, lalu bagaimana dengan masyarakat yang bukan tenaga kesehatan.
Padahal, kata Melinda, sebenarnya saat itu dirinya bisa saja pergi dan meninggalkan warga jika ia hanya memikirkan dirinya sendiri. Tapi itu tidak dia lakukan.
Cari Obat di PuskesmasSeiring berjalannya waktu, Melinda yang hanya berbekal stetoskop merasa sejumlah pasien membutuhkan obat-obatan dan penanganan lanjutan.
Ia bersama warga pun sempat membangun semacam posko setelah turun dari dataran tinggi pascaperingatan dini tsunami dicabut.
Melihat kebutuhan obat-obatan merupakan hal mendesak, ia bersama kepala puskesmas pun meminta tolong pada warga untuk mengambil obat di puskesmas.
Awalnya, tak seorang pun warga yang bersedia mengambilnya, karena gedung puskesmas rusak akibat gempa. Terlebih gempa-gempa susulan masih terjadi. Warga tak berani mengambil risiko.
“Tetapi untung saja ada dua orang yang mau akhirnya, dua bapak-bapak yang mau mengorbankan dirinya karena mereka melihat banyak pasien yang harus ditolong dengan obat-obatan,” tuturnya.
Baca Juga: Gempa NTT: PUPR Kerahkan 3 Ekskavator Buka Akses Jalur Trans Flores, Tertutup Longsoran 30 Meter
Kala itu Melinda menyampaikan pada mereka bahwa harus ada yang bersedia mengambil obat, karena dirinya hanya membawa stetoskop, padahal sejumlah pasien membutuhkan penanganan akibat luka.
Akhirnya kedua warga menuju puskesmas dan mengambil beberapa jenis obat-obatab, yang meski jumlahnya sedikit, tapi cukup menolong.
“Dan yang paling bikin saya frustrasi itu dari sekian banyaknya pasien yang mempunyai luka-luka robek, terus perdarahan aktif, itu saya hanya mempunyai 5 obat bius, Pak. Nah, 5 obat bius ini satu ampul itu hanya 2 cc,” kata dia mengenang.
“Dua cc itu kan harusnya untuk satu pasien. Tetapi 2 cc itu saya memberikan untuk 4 pasien. Jadi, satu pasien itu dosisnya 0,5 cc. Itu sangat menurut saya dosis yang sangat-sangat tidak mencukupi.”
Ia pun menjelaskan pada pasien bahwa stok obat sangat terbatas, sehingga ia harus mengurangi dosisi yang diberikan.
“Jadi, mau tidak mau pasien-pasien itu saya edukasi, saya bilang, Ibu, Bapak, Ibu, kalau misalnya saya mau jahit lukanya ini harus dengan obat bius, tapi obat bius ini dosisnya tidak cukup. Jadi, mau tidak mau pasti akan merasa sakit,” bebernya.
Melinda memberikan pilihan pada pasien dan mereka yang menentukan apakah bersedia untuk ditangani atau tidak.
Ia bersyukur, saat ini bantuan sudah berdatangan, termasuk obat-obatan dan peralatan medis yang sudah mulai tercukupi.
Terlebih dengan adanya relawan tenaga kesehatan, seperti dokter, perawat, bidan, maupun apoteker, penanganan pasien pun menjadi lebih baik.
“Tetapi sudah sangat membantu dibandingkan saya harus bekerja sendiri dengan keterbatasan perawatnya kami di sini. Karena perawat kami juga kan terdampak oleh bencana ini,” jelasnya.
Korban Jiwa 75 OrangGempa bumi berkekuatan M7,7 yang terjadi pada Sabtu (15/8/2026) mengakibatkan 75 orang meninggal dunia.
Data tersebut merupakan data sementara per Kamis (20/8/2026) yang disampaikan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan (Kapusdatin) BNPB Berton SP Panjaitan menyatakan terdapat penambahan korban jiwa yang ditemukan di Kabupaten Sikka, Manggarai, dan Nagekeo.
"Hari ini bertambah empat jiwa dengan rincian di Kabupaten Sikka bertambah dua, Kabupaten Manggarai bertambah satu, Nagekeo bertambah satu," kata Berton SP Panjaitan dalam konferensi pers virtual BNPB, Kamis petang.
Baca Juga: Korps Marinir Kirim 217 Personel dan Bantuan 3 Ton ke Wilayah Terdampak Gempa NTT
"Kami sekali lagi menyampaikan rasa duka yang sedalam-dalamnya teruntuk untuk keluarga, handai tolan, tetangga, dan seluruh kenalan serta seluruh masyarakat Indonesia."
Berton menambahkan, BNPB mencatat korban luka akibat gempa M 7,7 di NTT pada Sabtu (15/8) lalu mencapai 907 jiwa.
Sementara, jumlah pengungsi yang tercatat per Kamis, sebanyak 92.735 jiwa. Menurutnya, masyarakat masih memilih mengungsi mengingat banyaknya gempa susulan di NTT.
Download KompasTV Apps di TV kamu, sekarang juga di https://app.kompas.tv/. Satu apps untuk semua Video Premium, Breaking News, dan Live Streaming 24/7 dari Kompas Gramedia.
Penulis : Kurniawan Eka Mulyana Editor : Gading-Persada
Sumber : Kompas TV
- manggarai timur
- melinda bella
- gempa bumi ntt
- gempa bumi
- ntt
- dokter melinda






Komentar (0)