Ende: Gempa bumi magnitudo (M) 7,7 yang mengguncang Flores tidak hanya menimbulkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur, tetapi juga memicu tanah longsor di sejumlah titik strategis. Salah satu titik terdampak paling parah berada di Jalur Trans Flores Ende–Bajawa KM 4+350.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Berton SP Panjaitan mengatakan material tanah berpasir dan bebatuan setinggi hampir 30 meter menutupi seluruh badan jalan tersebut.
"Longsoran ini sempat melumpuhkan total akses utama yang menghubungkan Ende dan Nagekeo," kata Berton dalam keterangan tertulis, Kamis, 20 Agustus 2026.
Baca Juga :
Jalan Penghubung 3 Desa di Sikka Tertutup Longsor, Distribusi Logistik Tersendat
Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) NTT Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR melakukan pembersihan jalur dengan mengerahkan tiga unit ekskavator.
Sebagian jalur berhasil dibuka pada hari pertama penanganan dan hanya dapat dilalui kendaraan roda dua secara terbatas. Dua hari kemudian, pembersihan bertahap memungkinkan kendaraan roda empat atau lebih melintas dengan sistem buka-tutup dan kecepatan terbatas.
Berdasarkan pantauan langsung Tim Bidang Komunikasi Kebencanaan BNPB pada Kamis, seluruh badan jalan kini telah terbuka dan transportasi mulai kembali normal. Kendati demikian, penanganan belum sepenuhnya selesai.
"Sebagian material sisa longsoran masih menumpuk di lereng atas tebing," ungkap Berton.
Sejumlah alat berat jenis eskavator Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) NTT Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR membuka akses dan membersihkan material longsor di jalur Trans Flores kilometer 4+350 di Kabupaten Ende, NTT, Kamis, 20 Agustus Ancaman Gempa Susulan dan Keselamatan Tim Proses pembersihan sisa material di tebing terus dilanjutkan dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian. Pasalnya, gempa bumi susulan yang masih sering terjadi sewaktu-waktu dapat memicu runtuhan material susulan ke badan jalan.
"Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi para petugas teknis yang bekerja di lapangan," ujar Berton.
Sesuai prosedur keselamatan, operasional alat berat harus dihentikan sementara setiap kali terjadi guncangan. Hal itu terjadi pada Kamis siang saat gempa susulan magnitudo 6,0 mengguncang wilayah tersebut selama sekitar 10 detik, sehingga seluruh aktivitas dihentikan demi keselamatan personel.
Sejumlah alat berat jenis eskavator Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) NTT Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR membuka akses dan membersihkan material longsor di jalur Trans Flores kilometer 4+350 di Kabupaten Ende, NTT, Kamis, 20 Agustus Pemulihan Jaringan Telekomunikasi Timbunan longsor juga sempat menimpa kabel serat optik dan mengganggu jaringan komunikasi di koridor Ende–Nagekeo. Namun berkat koordinasi lintas sektor, jaringan telekomunikasi kini telah dipulihkan secara bertahap.
Usai pembersihan material dan pemulihan jaringan komunikasi, fokus penanganan kini beralih pada langkah antisipatif. Tim teknis akan memperkuat struktur tebing untuk mencegah longsor susulan serta memetakan revitalisasi infrastruktur agar jalur tersebut lebih tangguh ke depan.
Terbukanya kembali Jalur Trans Flores tidak hanya memulihkan konektivitas darat. Akses tersebut juga kembali mendukung aktivitas ekonomi dan sosial warga.
Sinergi yang solid antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan peran aktif masyarakat setempat menjadi fondasi utama dalam merajut kembali aktivitas warga, menghidupkan kembali denyut roda perekonomian, serta membangkitkan asa bagi Flores untuk bangkit lebih kuat pasca-bencana.





Komentar (0)