-
-
-
-
-
Bagi Country Manager Smile Train Indonesia, Deasy, hitungan tahun bekerja menangani pasien bibir sumbing kadang membuat wajah dan nama satu per satu pasien memudar dari ingatan. Namun ternyata, hal itu tidak berlaku sebaliknya bagi para pasien yang pernah ia bantu.
Deasy menceritakan momen mengharukan yang ia alami baru-baru ini, saat menerima pesan dari seorang pasien yang pernah ditanganinya belasan tahun silam. Semua bermula dari sebuah kegiatan operasi sumbing yang ia jalani pada 2010.
"Yang selalu membuat saya amazing itu misalnya, saya ketemu pasien ini di salah satu kegiatan saya tahun 2010," kenang Deasy ketika menghadiri acara podcast Special Interview, di kanal Youtube Cumicumi
Bertahun-tahun kemudian, tanpa disangka, Deasy mendapat pesan di media sosialnya dari keluarga pasien tersebut. Sang pasien bahkan mengirimkan foto lama mereka berdua saat operasi dilakukan puluhan tahun lalu.
"Tiba-tiba di 2026 saya dapat message di sosial media. Dia kirim foto ini, Bu, ini dia kirim foto saya sama dia dulu waktu 2010," ujarnya.
Momen itu semakin terasa berkesan, lantaran sang pasien yang saat dioperasi bahkan belum bisa berbicara, kini telah tumbuh besar dan bersekolah. Tak jarang, mereka bahkan menyempatkan diri merekam video khusus untuk menyapa Deasy.
"Sekarang ini anak saya sampai dia rekam video. Halo Bu Deasy, gitu," tutur Deasy menirukan isi video tersebut.
Deasy mengakui, di tengah kesibukannya menangani ribuan pasien setiap tahun, ia sendiri sampai lupa dengan sosok pasien tersebut. Namun rupanya, si pasien dan keluarganya tak pernah melupakan jasa yang pernah diberikan kepada mereka.
"Saya mungkin lupa sama dia, ya. Saya memang lupa sama dia. Tapi waktu dioperasi belum bisa ngomong. Saya juga mungkin lupa sama keluarga ini, tapi dia enggak pernah lupa saya," ungkapnya.
Menurut Deasy, keluarga pasien tersebut ternyata terus memantau media sosialnya selama bertahun-tahun, hingga akhirnya memutuskan mengirimkan pesan sebagai bentuk terima kasih.
"Selama itu orang tuanya pun masih follow saya punya sosial media, sampai dia menyempatkan waktu," katanya.
Momen tersebut, kata Deasy, menjadi pengingat betapa besar makna dari sebuah operasi yang bagi timnya mungkin terasa rutin, namun bagi pasien dan keluarganya adalah titik balik kehidupan.
"Itu kata-kata yang membuat saya, suatu hal yang enggak ada nilainya sih buat saya," ujarnya.
Ia berharap, kisah-kisah seperti ini bisa membuka mata masyarakat, bahwa sekecil apa pun kontribusi, bahkan sekadar memberi informasi tentang keberadaan program Smile Train saja, bisa berarti besar bagi masa depan seorang anak.
"Semua orang bisa kok terlibat ini dengan memberi informasi saja, itu suatu bentuk kontribusi yang sangat besar," pungkasnya.






Komentar (0)