Iran dilaporkan mulai mempertimbangkan kemungkinan memperluas serangan hingga ke Eropa jika Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meningkatkan eskalasi perang. Sejumlah fasilitas militer AS di Eropa bagian selatan dan tenggara disebut masuk dalam pertimbangan Teheran.
Financial Times melaporkan, pasukan Iran telah menilai kemungkinan menyerang aset-aset AS di Eropa tenggara, termasuk Bulgaria. Negara tersebut menjadi salah satu lokasi yang diperhitungkan setelah menyetujui penggunaan Pangkalan Udara Bezmer oleh pesawat pengisian bahan bakar AS.
Selain Bulgaria, pangkalan militer Inggris di Siprus juga disebut berpotensi menjadi sasaran pembalasan jika AS melancarkan serangan baru. Sebelumnya, pangkalan Inggris di Siprus dihantam drone pada Maret 2026.
Iran juga disebut telah mempelajari kemungkinan menyerang kabel serat optik bawah laut di Selat Hormuz apabila konflik semakin memburuk.
Salah satu sumber mengatakan Teheran tengah mempersiapkan langkah untuk memperluas konflik apabila Trump merealisasikan ancamannya menyerang infrastruktur Iran. Iran disebut tidak akan membatasi responsnya hanya di kawasan Timur Tengah jika aksi militer AS benar-benar dilakukan.
Kemampuan Iran untuk menyerang target dalam jarak jauh sebelumnya telah terlihat dari serangan terhadap pangkalan AS di Yordania pada Juli 2026. Serangan tersebut menewaskan tiga personel militer Amerika.
Perkembangan tersebut juga disertai peringatan dari sumber internal Iran kepada negara-negara Eropa agar tidak menganggap wilayah mereka berada di luar jangkauan konflik.
Menurut sumber tersebut, serangan terhadap infrastruktur Iran dapat memicu perluasan perang hingga mencapai Eropa. Eropa disebut perlu mempertimbangkan posisinya apabila konflik antara Iran dan AS kembali meningkat.
Meski demikian, Iran belum memberikan konfirmasi terbuka mengenai rencana serangan terhadap aset-aset AS di Eropa.
Sejumlah analis militer menilai Iran memiliki kemampuan untuk menargetkan aset AS di Eropa selatan dan tenggara menggunakan rudal balistik jarak menengah. Namun, kemampuan tersebut masih dipertanyakan dari sisi akurasi rudal dan efektivitas persenjataan jarak jauh yang dimiliki Teheran.
Kekhawatiran juga meningkat seiring menguatnya posisi tokoh-tokoh garis keras dalam jajaran keamanan dan militer Iran. Perkembangan tersebut dinilai dapat meningkatkan risiko pecahnya kembali konflik baru.
Baca Juga: Presiden Iran Tegaskan Negosiasi dengan AS Bukan Berarti Menyerah
Sumber internal kedua menyebut adanya pesan yang semakin tegas dari kalangan keamanan Iran, dengan merujuk pada Kepala Negosiator Teheran Mohammad Bagher Ghalibaf dan Kepala Keamanan Tertinggi Iran Mohsen Rezaei. Pesan tersebut pada intinya menunjukkan bahwa kegagalan mencapai kesepakatan melalui jalur negosiasi dapat mendorong Iran mengambil langkah yang lebih keras.
Sementara itu, negosiasi mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz hingga kini masih menemui kebuntuan. Trump juga menyatakan tidak ada pembicaraan yang dijadwalkan dengan Teheran.
Kondisi tersebut membuat potensi perluasan konflik menjadi perhatian, terutama jika ancaman serangan terhadap infrastruktur Iran benar-benar diwujudkan dan Teheran memilih merespons dengan memperluas sasaran hingga aset militer AS di luar kawasan Timur Tengah.






Komentar (0)