JAKARTA, DISWAY.ID - Rencana impor 1.000 ton beras khusus dari Amerika Serikat (AS) mendapat imbauan dari Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PKS, Johan Rosihan.
Pemerintah diminta menjelaskan secara terbuka alasan impor tersebut, termasuk jenis beras, pengguna, kebutuhan hingga mekanisme distribusinya.
Johan menilai persoalan impor tidak semata-mata dilihat dari jumlah volumenya. Menurut dia, meski hanya 1.000 ton, kebijakan tersebut harus dipastikan tidak menjadi celah bagi peningkatan impor beras di kemudian hari.
“Persoalannya bukan hanya besar atau kecil volumenya. Pemerintah harus terbuka mengenai jenis beras yang diimpor, siapa penggunanya, apa dasar kebutuhannya, dan bagaimana mekanisme distribusinya,” kata Johan di Jakarta, Kamis 20 Agustsu 2026.
Legislator asal Nusa Tenggara Barat itu menegaskan, kebijakan pangan harus tetap berorientasi pada kepentingan nasional.
Impor, kata dia, tidak seharusnya menjadi instrumen kompromi perdagangan apabila pada saat bersamaan produksi dalam negeri dan stok nasional dinilai mampu memenuhi kebutuhan.
“Jangan sampai alasan beras khusus kemudian menjadi pintu masuk impor yang lebih besar. Jika produksi dan stok nasional benar-benar mencukupi, pemerintah harus mengutamakan hasil petani Indonesia,” ujarnya.
Konflik AS-Iran Bisa Tekan Harga PanganJohan juga mengingatkan pemerintah terhadap potensi dampak konflik Amerika Serikat dan Iran terhadap harga energi serta pangan global.
Menurutnya, gangguan keamanan di kawasan Timur Tengah, terutama di sekitar Selat Hormuz, dapat memberikan tekanan terhadap pasokan minyak dunia. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan biaya logistik dan produksi di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Untuk komoditas beras dari Amerika Serikat, Johan mengakui dampaknya tidak serta-merta muncul secara langsung karena jalur pengiriman beras tersebut tidak melewati Selat Hormuz.
Namun, kenaikan harga minyak dunia tetap dapat berpengaruh terhadap berbagai komponen biaya, mulai dari bahan bakar, transportasi, premi asuransi kapal, pupuk hingga distribusi pangan.
"Dampaknya akan bergerak seperti efek domino. Ketika harga minyak dan ongkos logistik naik, harga pangan impor ikut tertekan. Jika pada saat yang sama rupiah melemah terhadap dolar AS, beban impor Indonesia akan semakin mahal,” jelasnya.
Johan meminta pemerintah tidak hanya memperhitungkan dampak terhadap beras. Sejumlah komoditas pangan yang masih bergantung pada impor juga perlu mendapat perhatian.
Komoditas tersebut antara lain gandum, kedelai, gula, daging dan bahan baku pakan ternak. Jika harga komoditas impor meningkat, biaya tersebut berpotensi diteruskan ke konsumen dan pada akhirnya memberikan tekanan terhadap inflasi pangan.
DPR Ingatkan Risiko terhadap Harga BBMSelain pangan, Johan menilai konflik AS-Iran berpotensi memberikan tekanan terhadap kebijakan BBM nasional.
- 1
- 2
- 3
- »






Komentar (0)