Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, meminta pemerintah tidak hanya melihat dampak negatif perjanjian perdagangan bebas atau Free Trade Agreement (FTA) terhadap industri dalam negeri. Menurutnya, perlu memetakan industri yang masih memiliki peluang untuk diselamatkan dan dikembangkan.
Oleh karenanya, kata Purbaya, diperlukan analisis mendalam terhadap sektor industri yang terdampak perdagangan bebas. Analisis tersebut diperlukan agar pemerintah dapat menentukan kebijakan yang tepat bagi industri yang masih memiliki prospek pertumbuhan.
“Analisis yang masih bisa diselamatkan, untuk dua pilihan terakhir langkah kita apa, Kemenkeu bisa apa, itu yang saya butuhkan,” ujar Purbaya saat menjadi keynote speaker dalam acara Free Trade Agreements on Indonesia Industrialization and Economic Performance di Kementerian Keuangan, Kamis (20/08/2026).
Purbaya mengatakan mulai September mendatang Kementerian Keuangan akan mengubah pendekatan dengan lebih aktif menggali berbagai potensi ekonomi, termasuk peluang yang muncul dari perjanjian perdagangan bebas.
“Bulan September ke depan kita rubah approach Kemenkeu dari potensi ekonomi termasuk free trade agar pertumbuhan ekonomi bisa laju kencang minimal di 6 persen di akhir 2026,” katanya.
Menurut Purbaya, Indonesia sebenarnya telah memiliki pengalaman dalam menghadapi liberalisasi perdagangan. Karena itu, pemerintah perlu memetakan sektor mana yang melemah ketika pasar semakin terbuka.
Purbaya melihat setidaknya terdapat tiga pilihan bagi industri yang terdampak perdagangan bebas. Industri yang sudah tidak memiliki prospek dapat dibiarkan berhenti, industri yang masih mampu bertahan dapat diberikan ruang untuk berkembang, sementara industri yang masih memiliki peluang dapat memperoleh perlindungan dan dukungan pemerintah.
Karena itu, pemerintah perlu membedakan industri yang memang sudah tidak memiliki prospek dengan sektor yang masih dapat dikembangkan. Kebijakan yang diberikan tidak bisa disamaratakan untuk seluruh industri.
Selain industri yang sudah ada, Purbaya juga meminta pemerintah memperhatikan sektor baru yang berpotensi menjadi sumber pertumbuhan ekonomi. Salah satu sektor yang dinilai memiliki prospek besar adalah industri data center.
Menurutnya, peluang investasi data center di Indonesia cukup besar. Namun, pengembangan sektor tersebut harus diikuti dengan kesiapan pasokan energi yang memadai.
Purbaya juga melihat peluang dari kerja sama perdagangan Indonesia dengan Eropa, khususnya untuk produk yang menggunakan energi baru terbarukan. Pemanfaatan energi bersih dinilai dapat meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar Eropa.
Sektor tekstil dan alas kaki menjadi salah satu contoh yang dapat memanfaatkan peluang tersebut. Menurut Purbaya, penggunaan energi terbarukan dalam proses produksi dapat membantu industri memenuhi tuntutan pasar sekaligus meningkatkan daya saing ekspor.
Baca Juga: Masih Menunggu Pendaftaran CPNS? Ini Alasan Pemerintah Tak Akan Gelar Rekrutmen ASN dalam Waktu Dekat
Baca Juga: Purbaya Ungkap Insentif Motor Listrik Turun Jadi Rp3 Juta per Unit
Purbaya bahkan membuka peluang penguatan investasi energi panas bumi melalui PT Geo Dipa Energi untuk memasok kebutuhan energi kawasan industri.
“Saya bisa drill lebih banyak geotermal, saya invest di situ untuk memberi energi ke suatu pusat industri tekstil atau industri tekstil yang sudah ada, sehingga dia bisa ekspor ke Eropa dengan lebih kompetitif,” jelasnya.
Dengan pendekatan tersebut, Purbaya menegaskan FTA tidak seharusnya hanya dipandang sebagai ancaman bagi industri nasional. Perjanjian perdagangan bebas juga harus dimanfaatkan untuk menemukan peluang baru, meningkatkan daya saing industri, menarik investasi, memperkuat energi, dan mendorong ekspor bernilai tambah.






Komentar (0)