Bagi warga asing, masakan Indonesia mungkin terasa terlalu berempah, pedas, atau bahkan saking kompleksnya, membuat mereka takut mencoba. Padahal, kita dengan sangat bangga memperkenalkan kekayaan cita rasa kuliner Nusantara yang begitu beragam tersebut ke mancanegara. Siapa sangka, kekayaan ini justru menjadi salah satu kesulitan, semisal yang dirasakan oleh chef owner Bobi Bowl di Dubai, Bobi Susanto.
Membangun restoran masakan Indonesia bersama sang istri, Sylvana Sari, yang juga merupakan mantan awak kabin Emirates, mereka mencoba mengolah keresahan ini dengan pendekatan yang lebih modern. Mereka mengkreasikan masakan Indonesia dengan cara sendiri tanpa mengubah cita rasa aslinya. Bobi dan Sylvana menyebut strategi mereka sebagai "chef-driven".
"Indonesia itu kan memang luas, dari situlah aku berpikir untuk enggak hanya membuat klasik Indonesian restaurant. Tapi aku mau semua orang bisa menikmati makanan Indonesia dengan cara yang berbeda. Makanya kita juga selalu bilang bahwa Bobi Bowl itu chef-driven, based on creativity of Chef Bobi," ujar keduanya saat wawancara eksklusif dengan kumparanFOOD beberapa waktu lalu (3/8).
Kreativitas chef Bobi tidak terjadi secara otodidak, melainkan dia sudah memiliki pengalaman di dunia kuliner sejak 12 tahun lalu. Pengalamannya bekerja sebagai juru masak di berbagai restoran di beberapa negara, seperti Singapura, mengasah kreativitas chef Bobi hingga begitu tajam.
Hal ini terbukti dengan dirinya yang mengaku tak kesulitan saat mengolah bahan makanan yang tersedia di Dubai, menjadi masakan khas Indonesia. Misalnya saja rendang yang level kepedasannya ia turunkan agar bisa masuk dengan selera warga asing di Dubai.
"Kayak misalnya, nih kita punya menu nasi ayam pop. Biasanya kan kalau nasi Padang pakai daun singkong. Nah karena daun singkong jarang ditemukan di sini, dan kalaupun ada biasanya akan mahal harganya, jadi chef Bobi berkreasi dengan menggunakan kale karena tekstur seratnya mirip," jelas Sylvana.
Tak hanya itu, mereka juga mampu menyuguhkan nasi bungkus kikil yang mungkin terasa lebih asing lagi bagi masyarakat di Dubai. Mengingat, tekstur dan bahan dasar asli kikil merupakan bagian dari tubuh sapi yang tak awam dikonsumsi manusia. Meski rasanya agak asing bagi sebagian orang, tapi Sylvana mengaku nasi bungkus kikil buatan Bobi Bowl menjadi salah satu menu yang akhir-akhir ini best seller.
Masakan Indonesia lainnya yang juga mereka sukses hadirkan di Dubai seperti buntut bakar rica, mi goreng, nasi ayam geprek, soto oseng Betawi, sampai bakso urat.
Kesuksesan Bobi Bowl juga terlihat dengan review bintang 5 yang mereka dapatkan di Google review.
"Kalau lihat di Google maps kita dapat rating bintang 5 itu benar-benar pure honest feedback yang kami dapat. Sejauh ini, i would say, 95 persen pelanggan kami puas dengan makanan yang disediakan, mereka juga suka merekomendasikan ke orang lain setelah makan di tempat kami," tambah Sylvana.
Marketing Organik Berbuah 800-1.000 Orderan per BulanSylvana mengungkapkan juga kepada kumparan bahwa dalam membangun bisnis tempat makan ini, ia dan suaminya tak memiliki budget marketing sama sekali. Mereka juga membangun usaha tersebut dari modal kantong sendiri.
"Kita buka Bobi Bowl itu 2014 dan itu semua kita, enggak ada investor. Cuma dari personal saving sama support family. Di bulan-bulan awak kita juga enggak punya marketing budget sama sekali. Jadi benar-benar dari recommendation. Jadi ada orang datang, lalu mereka merekomendasikan ke orang lain," tutur perempuan dengan satu orang putri tersebut.
Dua tahun menjalankan Bobi Bowl, keduanya kini mampu menjual rata-rata 800 sampai 1.000 porsi per bulan. Dengan tujuan utama yang sederhana yakni pengin memperkenalkan cita rasa Indonesia ke dunia, jalan Bobi Bowl yang tergolong "santai" dan enggak banyak "gimmick" tersebut mampu membuat warga Dubai dan bahkan masyarakat asing lainnya di sana mau mencicipi masakan Indonesia.
"Kami berharap bisa semakin banyak orang non-Indonesia yang tahun dengan makanan Indonesia. Visi kita itu pengin ketika orang non Indonesia mencari comfort food mereka lari ke Indonesian food bukan ke yang lain, karena selama ini orang hanya mengenal Indonesia sebagai Bali dan Bali lagi, padahal Indonesia itu sangat luas," harap keduanya.
Bobi dan Sylvana juga melanjutkan bahwa potensi masakan Indonesia di Dubai masih sangat besar untuk bisa dikenal lebih. Terlebih menurut mereka saat ini di Dubai baru tersedia sekitar lima restoran bertema masakan Indonesia. Mereka juga berharap, Bobi Bowl bahkan bisa memiliki cabang di Indonesia.
"Tantangannya memang untuk masakan Indonesia dan pemilik restoran Indonesia adalah untuk membuat makanan Indonesia itu tidak hanya approachable untuk orang Indonesia, diaspora, tapi juga orang-orang non Indonesia. Itulah tujuan Bobi Bowl juga untuk memperkenalkan masakan Indonesia kepada non Indonesia," tutur Sylvana.
"Dan sebenarnya Dubai itu tempat yang sempurna untuk membangun beragam bisnis, karena Dubai itu ada lebih dari 200 nasionality, jadi seperti ada pelanggan kita banyak dari Norwegia cocok dengan makanan Bobi Bowl, mereka bisa kembali makan sampai tiga kali balik, ada orang India juga cocok. Jadi, Dubai bisa jadi little market research untuk melihat preference dari orang-orang dari macam-macam negara, itulah kehebatan Dubai," tutupnya.






Komentar (0)