Bagi orang tua, rumah bukan sekadar tempat untuk pulang. Di sanalah anak pertama kali bermain, belajar, mengenal rutinitas, hingga membangun rasa aman.
Namun, ketika anak mulai tumbuh, kehidupan keluarga juga semakin banyak berlangsung di luar rumah. Anak pergi ke sekolah, bermain dengan teman, mengikuti kegiatan, berolahraga, atau sekadar berjalan-jalan bersama keluarga.
Itulah sebabnya, lingkungan tempat tinggal bisa menjadi salah satu pertimbangan ketika keluarga memilih rumah. Bukan hanya soal seberapa nyaman hunian di dalam, tetapi juga apa yang tersedia di sekitarnya dan seperti apa kehidupan sosial yang terbentuk.
Hal tersebut menjadi salah satu perhatian dalam pengembangan Kota Baru Parahyangan (KBP). Selama 26 tahun, kawasan ini berkembang dengan konsep kota mandiri yang sejak awal menjadikan pendidikan sebagai salah satu fondasinya.
Marketing Manager Kota Baru Parahyangan Joseph Ijong Dachlan mengatakan, pendidikan bahkan menjadi salah satu pertimbangan penting dalam keputusan keluarga memilih hunian.
“Pendidikan itu positioning. Dan pendidikan menjadi utama, keputusan orang membeli properti. Karena budaya Asia itu family oriented sih. Apalagi anak,” ujar Ijong saat diwawancara kumparan, Jumat (7/8).
Ketika Sekolah Menjadi Pertimbangan Penting Memilih RumahBagi keluarga dengan anak, jarak rumah dan sekolah bisa memengaruhi keseharian. Waktu perjalanan, akses, hingga lingkungan tempat anak belajar menjadi bagian dari pertimbangan orang tua.
Menurut Ijong, sejak awal pengembangan KBP, sekolah memang ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem kawasan. Sebab, ketika sekolah berada dekat dengan tempat tinggal, aktivitas keluarga menjadi lebih mudah.
“Pada umumnya orang tua kadang-kadang mengalah untuk anaknya sekolah dulu yang benar, aman, dan nyaman lingkungannya,” katanya.
Kini, kawasan tersebut memiliki sejumlah institusi pendidikan dari jenjang sekolah hingga universitas. Bagi Joseph, keberadaan sekolah tidak hanya menjadi fasilitas, tetapi juga menjadi salah satu alasan keluarga mempertimbangkan sebuah kawasan sebagai tempat tinggal.
Di Kota Baru Parahyangan sendiri ada Al Irsyad Satya Islamic School, Sekolah BPK Penabur, Cahaya Bangsa Classical School, Sekolah Bina Persada, Damian School, Bandung Alliance Intercultural School. Selain itu, juga sudah ada dua universitas di KBP, yaitu Universitas Santo Borromeus dan Universitas Kristen Maranatha.
Anak Bisa Belajar di Luar KelasLingkungan belajar anak sebenarnya tidak berhenti di sekolah. Taman, ruang terbuka, bahkan perjalanan sehari-hari bisa menjadi kesempatan bagi anak untuk mengenal dunia di sekitarnya.
Konsep tersebut juga coba diterapkan di KBP.
Direktur Kota Baru Parahyangan Ryan Brasali mengatakan, sejak awal kawasan tersebut dirancang dengan berbagai tema pendidikan. Beberapa taman bahkan memiliki tema yang berbeda-beda, mulai dari teknologi transportasi, astronomi, hingga geografi.
Selain menyediakan ruang, KBP juga mengembangkan aktivitas yang mempertemukan anak-anak dari sekolah berbeda. Salah satunya melalui kegiatan olahraga dan program lingkungan seperti Duta Hejo.
Dalam program tersebut, siswa mendapatkan proyek mengenai isu hijau dan lingkungan. Setelah beberapa waktu, mereka mempresentasikan proyek tersebut kepada siswa dari sekolah lain.
“Yang penting bukan hanya space-nya, tapi interaksi antara sekolah. Karena itu membuka wawasan,” ujar Ryan.
Bagi anak, pengalaman tersebut bisa menjadi kesempatan untuk mengenal lingkungan sosial yang lebih luas, tidak hanya teman-teman dari satu sekolah.
Ada Ruang untuk Bermain dan BersosialisasiSelain pendidikan, ruang bermain dan ruang terbuka juga menjadi bagian penting dalam kehidupan keluarga. Ryan mengatakan, taman dan ruang terbuka yang dibangun di kawasan tidak ingin hanya menjadi tempat yang indah untuk dilihat.
“Kita nggak mau sebatas bahwa itu hanya indah di dalam foto. Artinya tempat-tempat itu bisa mengakomodir kegiatan masyarakatnya,” ujarnya.
Pedestrian dan jalur sepeda, misalnya, dirancang untuk mendorong masyarakat berjalan kaki, berolahraga, dan berkumpul. Ruang seperti ini juga memberi kesempatan bagi anak untuk bertemu dengan anak lain di lingkungan tempat tinggalnya.
Bagi keluarga, lingkungan sosial semacam ini dapat membuat kehidupan di kawasan tidak terasa sebatas rumah masing-masing. Ryan pun ingin budaya gotong royong yang mungkin semakin jarang ditemukan di kota besar dapat tumbuh kembali.
“Di sini kita coba tumbuhkan gotong royongnya. Jadi banyak sekali yang sudah senior pun ke sini, datang ke sini, jalan, kemudian ketemu dengan komunitas yang lain, jalan sama-sama, akhirnya punya teman,” tuturnya.
Ruang Hijau dan Kehidupan KeluargaSelain sekolah dan ruang sosial, lingkungan hijau juga menjadi bagian dari konsep kawasan. Sekitar 50 persen kawasan KBP dipertahankan sebagai ruang terbuka hijau. Ruang tersebut terdiri dari taman maupun area alami yang tidak dikembangkan untuk dijual.
Ryan pun melihat konsep alami sebagai bagian dari tanggung jawab jangka panjang. Menurutnya, kawasan yang baik bukan hanya nyaman dinikmati oleh penghuni saat ini, tetapi juga perlu dipikirkan untuk generasi berikutnya.
“Bagaimana tempat yang kita tinggal ini menjadi lebih baik, bumi kita menjadi lebih baik,” ujarnya.
Pada akhirnya, bagi keluarga, rumah mungkin menjadi titik awal. Tetapi lingkungan di sekitarnya ikut membentuk keseharian anak, mulai dari tempat mereka belajar, bermain, bertemu teman, hingga mengenal bagaimana hidup bersama orang lain.
Karena itu, ketika berbicara tentang hunian keluarga, mungkin yang perlu dilihat bukan hanya rumah seperti apa yang akan ditempati, tetapi juga kehidupan seperti apa yang ingin dibangun di sekitarnya.






Komentar (0)