Kuliner yang Bikin Orang Sengaja Datang, Teras Malioboro Perkuat Positioning

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Teras Malioboro terus mencari positioning yang membuat kawasan tersebut memiliki daya tarik kuat bagi wisatawan dan masyarakat Yogyakarta. Setelah berbagai program pengelolaan berjalan, tahun ini salah satu fokus diarahkan pada pengembangan kuliner sebagai bagian dari upaya menjawab perubahan kebutuhan wisatawan dan persaingan destinasi yang semakin ketat.

Kepala PLUT KUMKM Teras Malioboro, Wisnu Hermawan, mengatakan pengembangan tersebut merupakan kelanjutan dari proses pengelolaan Teras Malioboro yang telah berjalan. Tantangannya bukan lagi sekadar menyediakan tempat berjualan bagi tenant, tetapi membangun alasan yang cukup kuat agar masyarakat memilih datang ke Teras Malioboro di tengah banyaknya pilihan destinasi di Yogyakarta.

Salah satu positioning yang sedang diperkuat adalah kuliner. Teras Malioboro ingin melahirkan produk yang memiliki kekhasan dan tidak mudah ditemukan di tempat lain. Targetnya, wisatawan maupun warga Yogyakarta kelak datang bukan hanya karena sedang berada di Malioboro, tetapi sengaja menuju Teras Malioboro untuk mencari produk tertentu.

Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari strategi menjaga keberlanjutan ekonomi tenant. Jika produk yang dijual memiliki daya tarik sendiri, pergerakan konsumen tidak sepenuhnya bergantung pada tinggi-rendahnya kunjungan wisatawan ke Malioboro.

Untuk menjalankan strategi tersebut, Teras Malioboro melibatkan konsultan UMKM profesional dalam program pengembangan dan inkubasi tenant. Pendampingan dirancang untuk menerjemahkan kebutuhan pasar menjadi pengembangan produk, penguatan digital hingga pengelolaan usaha yang dapat diterapkan langsung oleh tenant.

Konsultan UMKM senior yang terlibat dalam program tersebut mengatakan salah satu targetnya adalah menciptakan kuliner yang mampu menjadi destinasi. Pola semacam itu telah berkembang di berbagai tempat di Yogyakarta, ketika konsumen bersedia menempuh perjalanan khusus karena sebuah makanan telah identik dengan lokasi tertentu.

“Kalau ada kuliner yang khas, dia bisa grabbing ke sini. Terutama orang-orang yang memang di sekitar Jogja yang memang mau kulineran. Kuliner ini adanya di Teras, seperti itu,” katanya.

Tiga Tahap Pengembangan Tenant

Keseriusan membangun positioning tersebut diterjemahkan melalui program inkubasi yang dimulai pada awal Agustus dan dibagi menjadi tiga tahap. Tahap pertama berfokus pada inovasi produk. Tenant mengikuti kelas selama tiga hari, kemudian menjalani pendampingan sekitar satu bulan untuk memastikan hasil pelatihan diterapkan dalam usahanya.

Pendampingan tidak berhenti pada penciptaan menu baru. Pengelolaan usaha tenant ikut diperiksa, mulai dari pencatatan keuangan hingga pemanfaatan media sosial. Perkembangan tersebut menjadi bagian dari evaluasi karena peserta akan menjalani proses seleksi untuk melanjutkan ke tahap berikutnya.

Tahap kedua diarahkan pada penguatan digital. Tenant didorong memanfaatkan TikTok dan berbagai kanal digital, membuat konten hingga melakukan siaran langsung untuk memperluas pasar. Penguatan inovasi produk tetap dapat diberikan apabila dalam proses pendampingan ditemukan kebutuhan untuk mengembangkan menu lebih lanjut.

Pada tahap ketiga, perhatian beralih pada penguatan pengelolaan usaha, proposal bisnis dan keuangan. Peserta yang berhasil melewati proses tersebut kemudian mempresentasikan rencana pengembangan usahanya untuk memperoleh bantuan modal.

Sebanyak 20 tenant ditargetkan memperoleh bantuan modal sekitar Rp10 juta per usaha. Dengan skema tersebut, anggaran yang disiapkan untuk bantuan pengembangan usaha mencapai sekitar Rp200 juta.

Proses tersebut mulai dirasakan tenant. Ali Imran (43), pemilik Kedai Pak Ali, mengikuti pelatihan pengembangan menu meski selama ini kedainya identik dengan nasi goreng dan penyetan. Tenant mendapatkan kesempatan mempelajari berbagai menu baru, termasuk masakan China dan Nusantara.

Bagi Ali, program tersebut membuat keberadaannya di Teras Malioboro tidak sebatas menyediakan tempat untuk menjalankan usaha. Tenant juga memperoleh kesempatan meningkatkan kemampuan dan mengembangkan produknya.

“Jadi saya anggap di sini satu untuk mencari uang dan untuk belajar,” kata Ali.

Pengembangan kuliner juga diarahkan agar sejalan dengan karakter Teras Malioboro Ketandan. Wisnu mengatakan kawasan tersebut secara fisik telah memiliki bangunan yang representatif dan karakter tersendiri. Tantangan berikutnya adalah membuat pengalaman pengunjung tidak berhenti pada arsitektur, tetapi berlanjut hingga produk yang mereka temukan di dalamnya.

Karena itu, pencarian produk ikonik menjadi bagian dari proses Teras Malioboro menentukan posisinya ke depan. Kekhasan produk diharapkan membangun aset brand yang semakin kuat sekaligus menjaga kehidupan ekonomi tenant di tengah perubahan selera konsumen dan persaingan destinasi.

Tujuan akhirnya adalah membuat Teras Malioboro memiliki tempat yang jelas dalam benak konsumen. Ketika orang mencari pengalaman kuliner tertentu di Yogyakarta, Teras Malioboro diharapkan ikut muncul sebagai tujuan.

Seperti konsep yang sedang dibangun pengelola, pertanyaannya bukan lagi, “Di luar sudah ada, ngapain ke Teras?” melainkan, “Harus ke Teras karena di luar tidak ada.”


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Viral Bocah Dibacok hingga Tangan Nyaris Putus di Tangerang, Polisi Selidiki
• 6 jam lalu
0
thumb
Bangkit dari Abu Semeru, Warga Supiturang Kembangkan Bata Ringan dan Olahan Salak
• 4 jam lalu
0
thumb
BMKG Catat 3.002 Gempa Susulan, Aktivitas Diprediksi Meluruh dalam 30 Hari
• 11 jam lalu
0
thumb
Saling Dorong! Ricuh 2 Kubu Raja Keraton Solo di Acara Gamelan Sekaten
• 5 jam lalu
0
thumb
Jet Tempur F-15 Patah Roda di Landasan Pacu, Bandara Lumpuh 4 Jam
• 15 jam lalu
0
Berhasil disimpan.