REPUBLIKA.CO.ID, LUMAJANG — Pemulihan pascaerupsi Gunung Semeru bagi warga Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur bukan sekadar memulihkan lingkungan dan membangun kembali sarana fisik. Lebih dari itu, masyarakat perlu menemukan kembali sumber penghidupan dan membangun aktivitas ekonomi yang mampu bertahan setelah bencana.
Upaya tersebut dilakukan melalui Program Pemberdayaan Desa Binaan (PDB) yang memadukan teknologi tepat guna dengan potensi sumber daya lokal. Program ini melibatkan Kelompok Tani Wana Semeru Lestari dan PKK Desa Supiturang sebagai mitra sasaran.
Melalui program tersebut, material vulkanik yang berada di sekitar wilayah terdampak diarahkan menjadi bahan baku usaha bata ringan nonstruktural berbasis Cellular Lightweight Concrete (CLC). Di sisi lain, komoditas salak dikembangkan menjadi produk olahan bernilai tambah untuk membuka peluang usaha bagi anggota PKK.
Program dilaksanakan oleh tim dosen Universitas Panca Marga (UPM) bersama Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), mitra, dan Pemerintah Desa Supiturang. Tim pelaksana terdiri atas Dr Judi Suharsono sebagai ketua, bersama Prof Ridho Bayuaji Linda Kurnia Supraptiningsih, dan Triyan Bayu Pratama. Program ini merupakan tahun pertama dari rencana pelaksanaan tiga tahun.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Mengubah Dampak Bencana Menjadi Peluang
Erupsi Gunung Semeru memberikan dampak terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat. Di Desa Supiturang, sebagian warga yang menggantungkan penghidupan pada sektor pertanian menghadapi kondisi lahan yang belum sepenuhnya dapat dimanfaatkan secara optimal.
Situasi tersebut membuat masyarakat membutuhkan alternatif kegiatan ekonomi. Potensi yang tersedia di sekitar desa kemudian menjadi dasar dalam merancang kegiatan pemberdayaan. Material vulkanik dan komoditas salak dipandang memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi kegiatan produktif.
Bagi Kelompok Tani Wana Semeru Lestari, pengembangan bata ringan menjadi alternatif usaha nonpertanian. Sebelum program berjalan, kelompok masih menghadapi keterbatasan teknologi dan keterampilan dalam memanfaatkan material vulkanik menjadi produk bernilai ekonomi. Kemampuan administrasi usaha, pencatatan keuangan, dan pemasaran juga masih perlu diperkuat.
Pendampingan kemudian dilakukan dengan pendekatan learning by doing. Anggota kelompok tidak hanya mendapatkan penjelasan, tetapi juga terlibat langsung dalam proses produksi dan pengoperasian teknologi.
Belajar Memproduksi Bata Ringan
Teknologi produksi bata ringan CLC menjadi salah satu bagian utama kegiatan bersama kelompok tani. Peralatan yang disiapkan mendukung proses mulai dari persiapan bahan baku, pencampuran, pencetakan, pemotongan, hingga curing.
Anggota kelompok juga mendapatkan pelatihan penggunaan dan perawatan peralatan serta penerapan keselamatan dan kesehatan kerja. Kapasitas teknologi yang dirancang berada pada kisaran 300–500 unit bata ringan per hari dengan ukuran sekitar 60 × 20 × 10 sentimeter. Pada tahap awal, unit usaha tersebut ditargetkan mampu melibatkan sekitar 8–10 anggota kelompok tani.
Namun, program tidak berhenti pada kemampuan menghasilkan produk. Kelompok juga diarahkan untuk memahami bagaimana sebuah unit usaha dikelola. Pendampingan mencakup penyusunan SOP, pembagian tugas, pencatatan pemasukan dan pengeluaran, penghitungan biaya produksi, hingga evaluasi hasil usaha.
Pembagian tugas mulai diarahkan secara lebih jelas, antara lain pada bagian produksi, pengadaan bahan baku, pemeliharaan peralatan, pencatatan keuangan, dan pemasaran. Dengan demikian, teknologi yang diberikan diharapkan dapat menjadi bagian dari sistem usaha yang mampu dikelola kelompok secara mandiri.
Menyiapkan Produk untuk Pasar
Selain produksi, pemasaran menjadi perhatian penting. Sebelum program berjalan, Kelompok Tani Wana Semeru Lestari belum memiliki strategi pemasaran dan jaringan distribusi untuk produk bata ringan.
Pendampingan dilakukan dengan mengenalkan calon konsumen, menentukan harga berdasarkan biaya produksi dan kondisi pasar, membangun identitas usaha, serta mengembangkan jejaring dengan calon pengguna. Pasar lokal dan kebutuhan material bangunan menjadi sasaran awal, dengan peluang pengembangan jaringan melalui pemerintah desa, pelaku usaha konstruksi, dan calon pengguna di wilayah sekitar.
Pemanfaatan media sosial dan kemitraan usaha juga diarahkan untuk memperluas jangkauan pemasaran. Pendekatan ini menempatkan teknologi produksi sebagai bagian dari ekosistem usaha yang mencakup tata kelola, biaya produksi, identitas produk, dan akses pasar.
PKK Kembangkan Olahan Salak
Sementara itu, PKK Desa Supiturang mendapatkan pendampingan untuk mengembangkan potensi salak. Selama ini, pengolahan salak di tingkat kelompok masih dilakukan secara sederhana. Kapasitas produksi, konsistensi mutu, teknologi pengolahan, kemasan, branding, dan pemasaran masih membutuhkan penguatan.
Melalui program pemberdayaan, anggota PKK mendapatkan pelatihan pengolahan salak menggunakan teknologi vacuum frying. Prosesnya mencakup pemilihan dan sortasi bahan baku, persiapan, penggorengan, penirisan, hingga pengemasan.
Teknologi tersebut diarahkan untuk membantu kelompok menghasilkan produk olahan dengan kualitas yang lebih baik, umur simpan lebih panjang, dan nilai jual yang lebih tinggi. Pengembangan produk juga disertai pendampingan kemasan dan identitas merek agar produk lebih menarik dan mudah dikenali. Target pengembangan diarahkan pada terbentuknya minimal dua jenis produk olahan salak sekaligus peningkatan kapasitas produksi kelompok.
Memperkuat Manajemen dan Pemasaran
Pemberdayaan PKK tidak hanya menyentuh aspek produksi. Manajemen usaha juga menjadi bagian penting dari pendampingan. Anggota kelompok diarahkan melakukan pencatatan modal, biaya bahan baku, biaya produksi, pengemasan, hasil penjualan, hingga keuntungan.
Kelompok juga didorong menyusun administrasi usaha dan SOP sebagai pedoman kegiatan produksi. Pada aspek pemasaran, pendampingan mencakup pengembangan identitas usaha, kemasan, penentuan harga, dan strategi promosi. Pemasaran diarahkan tidak hanya di lingkungan desa, tetapi juga melalui media sosial untuk memperluas jangkauan konsumen.
Program turut mencakup fasilitasi legalitas usaha yang masih dalam proses. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya membangun fondasi kelembagaan usaha yang lebih kuat.
Masyarakat Menjadi Pelaku
Salah satu pendekatan penting dalam program ini adalah menempatkan masyarakat sebagai pelaku kegiatan. Program menggunakan pendekatan Participatory Rural Appraisal (PRA) melalui lima tahapan, yakni koordinasi dan identifikasi kebutuhan mitra, persiapan program dan teknologi, implementasi solusi, pendampingan dan penguatan kapasitas, serta monitoring dan evaluasi.
Melalui pendekatan tersebut, masyarakat dilibatkan sejak proses identifikasi masalah. Mereka kemudian mengikuti pelatihan, mempraktikkan teknologi, terlibat dalam proses produksi, menyusun SOP, hingga mengevaluasi hasil kegiatan.
Pada kelompok tani, keterlibatan terlihat dalam praktik produksi bata ringan dan pengoperasian teknologi. Sementara pada kelompok PKK, anggota terlibat dalam pengolahan salak, diversifikasi produk, pengemasan, branding, hingga pemasaran.
Keterlibatan tersebut diharapkan membangun rasa memiliki terhadap teknologi dan usaha yang dikembangkan. Dengan demikian, setelah program berakhir, kelompok memiliki kemampuan untuk melanjutkan kegiatan secara lebih mandiri.Mempertemukan Teknologi dan Potensi Lokal
Program pemberdayaan di Supiturang mempertemukan dua potensi yang berada di tengah kehidupan masyarakat, yakni material vulkanik dan komoditas salak. Material vulkanik yang berkaitan dengan kondisi pascabencana diarahkan menjadi bagian dari pengembangan usaha bata ringan. Sementara salak dikembangkan menjadi produk olahan bernilai tambah.
Keduanya memiliki karakter berbeda, tetapi diarahkan pada tujuan yang sama, yakni menciptakan aktivitas ekonomi produktif bagi masyarakat.
Laporan pelaksanaan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan pada kedua kelompok. Kelompok tani memperoleh kemampuan baru dalam produksi bata ringan dan pengelolaan usaha. Sementara kelompok PKK mendapatkan keterampilan dalam pengolahan salak, pengemasan, branding, dan pemasaran.
Program juga mendorong penguatan kelembagaan, kerja sama antaranggota, kepercayaan diri dalam mengembangkan usaha, serta budaya belajar dan inovasi di tingkat kelompok.
Menuju Kemandirian Ekonomi
Program Pemberdayaan Desa Binaan di Desa Supiturang masih berada pada tahun pertama dari rencana tiga tahun. Karena itu, berbagai hasil yang telah dicapai akan terus dikembangkan melalui pendampingan lanjutan.
Pada kelompok tani, tahapan berikutnya diarahkan pada penyempurnaan proses produksi bata ringan, pengendalian mutu, peningkatan kapasitas, serta penguatan kemampuan anggota dalam mengoperasikan teknologi secara mandiri.
Sementara bagi PKK, pendampingan akan dilanjutkan untuk meningkatkan kualitas dan konsistensi produk olahan salak, mengembangkan diversifikasi sesuai kebutuhan pasar, serta meningkatkan efisiensi produksi.
Aspek manajemen dan kelembagaan juga akan diperkuat melalui penyempurnaan administrasi, pencatatan keuangan, rencana usaha, pembagian tugas, dan fasilitasi legalitas. Dari sisi pemasaran, pengembangan identitas produk, media promosi, pemasaran digital, serta jejaring dengan pelaku usaha dan distributor menjadi bagian dari tahapan berikutnya.
Pada akhirnya, keberhasilan program tidak semata-mata diukur dari jumlah teknologi yang diberikan atau pelatihan yang dilaksanakan. Ukuran pentingnya adalah sejauh mana masyarakat mampu memanfaatkan teknologi tersebut untuk membangun usaha yang dapat terus berjalan.
Di Desa Supiturang, bata ringan dan olahan salak menjadi dua pintu masuk untuk membangun kembali aktivitas ekonomi masyarakat. Dari material vulkanik yang tersisa setelah erupsi, muncul peluang usaha baru. Dari komoditas salak, terbuka kesempatan menghadirkan produk dengan nilai tambah.
Pemulihan pascabencana pun diarahkan tidak hanya untuk kembali pada kondisi sebelum bencana, tetapi juga membangun kemampuan baru, usaha yang lebih produktif, dan fondasi ekonomi masyarakat yang lebih kuat.





Komentar (0)