5,5 Miliar Serangan Siber, Unhan Ungkap Ancaman AI ke Sektor Strategis

metrotvnews.com
4 jam lalu
Cover Berita

Bogor: Perkembangan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) tidak lagi hanya menjadi isu teknologi, tetapi turut mengubah karakter ancaman keamanan siber. Pemanfaatan AI memungkinkan serangan dilakukan lebih cepat dan terarah, termasuk menyasar infrastruktur yang menopang aktivitas ekonomi.

Kondisi tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Diskusi Strategis bertajuk "Transformasi Peperangan Asimetris di Era Kecerdasan Artifisial (AI): Penguatan Strategi Pertahanan dan Literasi Digital di Ruang Siber" yang diselenggarakan Program Studi Magister Peperangan Asimetris, Fakultas Strategi Pertahanan (FSP), Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI), di Kampus Unhan RI, Sentul, Bogor, Rabu, 19 Agustus 2026.

Forum tersebut mempertemukan pemerintah, akademisi, militer, legislatif, praktisi keamanan siber, dan komunitas digital untuk membahas perubahan pola peperangan asimetris serta implikasinya terhadap pertahanan nasional.

Rektor Unhan RI Anton Nugroho mengatakan perkembangan teknologi AI kini turut dimanfaatkan untuk memperkuat serangan siber, rekayasa sosial, dan disinformasi.

Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2026, pengguna internet di Indonesia telah mencapai 235 juta orang dengan tingkat penetrasi 81,7 persen. Sementara itu, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat sekitar 5,5 miliar serangan siber sepanjang 2025 atau meningkat 714 persen dibanding rata-rata tahunan periode 2020-2024.

"Perubahan lingkungan strategis global berlangsung semakin cepat dan membawa konsekuensi langsung terhadap cara negara memandang ancaman keamanan. Ruang siber telah menjadi arena yang semakin penting karena dapat dimanfaatkan oleh aktor negara maupun non-negara untuk memengaruhi stabilitas, kepentingan nasional, bahkan proses pengambilan keputusan suatu negara," ujar dia.
 

Baca Juga :

Digitalisasi Sektor Keuangan Penting Mengurangi Anomali Serangan Siber
  AI mendorong perubahan karakter ancaman
Dekan FSP Unhan RI Oktaheroe Ramsi menilai perkembangan AI telah mendorong perubahan karakter ancaman yang menuntut penyesuaian cara pandang dan strategi pertahanan.

"Perkembangan AI mengubah karakter ancaman dalam peperangan asimetris. Karena itu, pertahanan tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan teknologi, tetapi membutuhkan pembaruan cara pandang, kebijakan, strategi, dan kesiapan institusi dalam menghadapi dinamika ancaman di ruang siber," tambah dia.

Menurut dia, perubahan tersebut membuat ruang siber tidak dapat lagi dipandang hanya sebagai persoalan teknis. Serangan siber dapat menyasar proses pengambilan keputusan, kepercayaan publik, hingga konfigurasi kekuatan negara.

Kerangka tersebut menjadi penting karena peperangan asimetris memungkinkan aktor dengan sumber daya relatif terbatas memberikan dampak strategis terhadap negara melalui pemanfaatan teknologi, informasi, jejaring digital, maupun kerentanan masyarakat.

Kepala BSSN Nugroho Sulistyo Budi menegaskan ruang siber telah menjadi domain utama dalam perkembangan peperangan asimetris modern.

"Asymmetric warfare memiliki karakteristik non-konvensional yang dikategorikan ke dalam global society 4.0. Domain utamanya adalah ruang siber," ujar Nugroho.



Menurut Nugroho, ruang siber memiliki karakteristik yang membuatnya sangat relevan dalam peperangan asimetris, antara lain bersifat anonim, berbiaya rendah, memiliki ketergantungan digital yang tinggi, memiliki deniability, serta berada dalam wilayah abu-abu (gray zone).

Ia mengatakan ancaman siber kini tidak hanya menyasar sistem komputer, tetapi dapat digunakan untuk melakukan spionase, sabotase, propaganda, operasi kognitif, hingga memanfaatkan aktor perantara (proxy). Dampaknya dapat merambah berbagai sektor strategis, termasuk politik, ekonomi, pertahanan, dan keamanan.

"Cyber warfare dapat berupa cognitive operations, spionase, sabotase, propaganda, maupun proxy yang dampaknya dapat mengikis legitimasi negara dan ketahanan nasional dari berbagai aspek, baik politik, ekonomi, pertahanan, keamanan, maupun aspek lainnya," kata Nugroho.

Menurut dia, ancaman yang perlu mendapat perhatian serius adalah serangan terhadap infrastruktur kritis dan vital negara.

"Yang paling berbahaya adalah ancaman atau serangan yang menyasar infrastruktur kritis dan vital negara seperti sektor energi, komunikasi, pelayanan publik, pangan, transportasi, dan lain-lain," tegas dia.
 

Baca Juga :

Digitalisasi Sektor Keuangan Penting Mengurangi Anomali Serangan Siber

 
AI bisa jadi senjata dan perisai
Di tengah meningkatnya ancaman, AI menghadirkan tantangan sekaligus peluang dalam keamanan siber. Teknologi yang sama dapat digunakan untuk memperkuat pertahanan sekaligus meningkatkan efektivitas serangan.

Nugroho menjelaskan terdapat tiga posisi strategis AI dalam cybersecurity, yakni AI as a weapon, AI as a target, dan AI as a shield. Sebagai senjata, AI dapat digunakan untuk mendukung social engineering, pembuatan deepfake, malware yang dihasilkan AI, hingga automated reconnaissance atau pengintaian otomatis berbasis open-source intelligence (OSINT).

Sementara sebagai target, sistem AI menghadapi ancaman seperti prompt injection dan data poisoning. Sementara sebagai perisai, AI dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi phishing, menganalisis perilaku, mengidentifikasi anomali, hingga mempercepat respons terhadap insiden keamanan.

Pemanfaatan AI juga semakin penting dalam fungsi keamanan siber dan persandian, antara lain untuk deteksi, monitoring, threat intelligence, content filtering, analisis log, serta incident response.

Forum ini menekankan penguatan pertahanan siber tidak dapat hanya bertumpu pada penguasaan teknologi. Diperlukan kebijakan yang adaptif, sumber daya manusia yang siap, tata kelola terintegrasi, serta kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, industri, dan komunitas.
  Literasi digital jadi bagian pertahanan
Kaprodi Magister Peperangan Asimetris Fakultas Strahan Unhan RI Bambang Utomo menempatkan forum tersebut sebagai bagian dari upaya mempertemukan perspektif kebijakan, akademik, teknis, dan komunitas dalam membaca perubahan karakter peperangan.

"AI, peperangan asimetris, dan pertahanan siber merupakan persoalan strategis yang tidak dapat dibaca secara sektoral. Kita membutuhkan pemahaman yang utuh dan kolaborasi lintas sektor agar perkembangan teknologi tidak hanya menghasilkan kemampuan baru, tetapi juga memperkuat ketahanan digital masyarakat dan pertahanan siber nasional," ungkap dia.

Diskusi tersebut juga dirancang untuk memperluas pemahaman mengenai hubungan antara teknologi, pertahanan, dan masyarakat. Sebab, ancaman siber berbasis AI tidak hanya menyasar sistem, tetapi juga memanfaatkan kebiasaan, perilaku, serta relasi sosial manusia sebagai jalur serangan.

Atas dasar itu, penguatan literasi digital dipandang sebagai bagian dari pertahanan siber, bukan sekadar agenda edukasi masyarakat.

"Ruang siber tidak hanya menjadi arena interaksi sosial, tetapi juga ruang kontestasi yang dapat dimanfaatkan untuk memengaruhi kepercayaan publik dan stabilitas nasional," demikian kerangka pemikiran yang menjadi dasar penyelenggaraan diskusi.

Melalui forum tersebut, Prodi Magister Peperangan Asimetris FSP Unhan RI mendorong agar perkembangan AI ditempatkan dalam kerangka yang lebih luas: bukan sekadar perlombaan menguasai teknologi, melainkan bagian dari transformasi strategis pertahanan nasional.

Sebab, dalam peperangan asimetris modern, keunggulan tidak selalu ditentukan oleh siapa yang memiliki teknologi paling canggih, tetapi juga oleh siapa yang paling mampu memahami kerentanan, membaca perubahan ancaman, membangun ketahanan, dan mengintegrasikan teknologi ke dalam strategi pertahanan nasional.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Pemerintah Kirim 253 Ton Logistik ke Wilayah Terdampak Gempa Bumi NTT
• 18 jam lalu
0
thumb
Pria Tanpa Busana Diduga ODGJ di Lenteng Agung Akhirnya Diamankan, Sempat Ngamuk hingga Pukul Pengendara
• 18 jam lalu
0
thumb
Gempa magnitudo 5,7 kembali guncang NTT pada Rabu malam
• 1 jam lalu
0
thumb
Hasil Kejuaraan Dunia BWF 2026: Fajar/Fikri ke 16 Besar, Rehan/Gloria Tersingkir
• 13 jam lalu
0
thumb
Polling kumparan: 55,39% Pembaca Pernah Bayar Subscription yang Tak Terpakai
• 18 jam lalu
0
Berhasil disimpan.