jpnn.com - Momen Presiden Prabowo Subianto, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, dan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) duduk berdampingan saat HUT ke-81 RI dinilai belum dapat dijadikan bukti bahwa konfigurasi politik menuju Pemilu 2029 telah terbentuk.
Peneliti senior Citra Institute Efriza menyebut kebersamaan ketiga tokoh tersebut lebih tepat dipandang sebagai pesan visual mengenai keharmonisan dan stabilitas.
BACA JUGA: Hadiri HUT ke-81 RI, Jokowi Pakai Adat Bali, Gibran Pilih Budaya NTT
“Visualisasi keakraban Prabowo-Jokowi-Gibran di HUT ke-81 RI memungkinkan akan membuat gede rasa atau GR para pendukung Jokowi-Gibran seolah menjadi sinyal dua periode Prabowo-Gibran,” kata Efriza kepada JPNN.com, Kamis (20/8/2026).
Dia menilai sebagian pendukung Jokowi-Gibran bisa saja menafsirkan momen itu sebagai simbol kuatnya hubungan ketiga tokoh sekaligus sinyal keberlanjutan politik hingga 2029.
BACA JUGA: Pegawai Adaro Andalan Indonesia Dipanggil KPK Terkait Kasus Pajak
Bahkan, menurut dia, ada kemungkinan visual tersebut ditafsirkan sebagai simbol bahwa Prabowo masih sangat dekat dengan Jokowi.
Namun, dia mengingatkan bahwa perubahan posisi duduk tersebut tidak otomatis berkaitan dengan desain politik Pilpres 2029.
BACA JUGA: Info Penting dari BKN soal Guru PPPK jadi PNS, Singgung Mekanisme Alih Status
“Padahal sekadar kebersamaan karena kepentingan pengisian kursi situasional yang dilakukan protokoler kenegaraan,” ujarnya.
Di sisi lain, momentum tersebut dinilai dapat memberikan efek psikologis bagi PDIP untuk tidak terlambat menyiapkan skenario politik alternatif.
PDIP disebut lebih rasional jika memanfaatkan momentum tersebut untuk memperkuat konsolidasi internal, menyiapkan figur alternatif, dan memperluas komunikasi dengan masyarakat.
“Jadi, visualisasi keakraban tersebut memang menarik, tetapi bukan bukti konfigurasi politik menuju Pemilu 2029 sudah terbentuk,” katanya.(Kkp/JPNN)
Redaktur : M. Fathra Nazrul Islam
Reporter : Kenny Kurnia Putra





Komentar (0)