Palu (ANTARA) - Asosiasi Perkebunan Durian Indonesia Sulawesi Tengah (Apdurin Sulteng) mengapresiasi komitmen Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sualaiman mengatasi penyakit bangkalan durian yang menjadi keluhan para petani saat ini.
"Bangkalan penyakit yang menjadi momok menakutkan bagi petani durian, karena hingga saat ini belum ada obat khusus mengatasi penyakit pada buah itu," kata Ketua Apdurin Sulteng Hengky Idrus saat menghadiri kegiatan Dies Natalis ke-45 dan Wisuda Universitas Tadulako yang juga dihadiri Menteri Pertanian di Palu, Kamis.
Ia menjelaskan pengalaman yang dialami petani saat ini di mana buah durian yang mereka tanam terserang penyakit bangkalan rontok sebelum matang, dan dipastikan daging buah tidak dapat dikonsumsi.
Kondisi itu, kata Hengky, sangat mengganggu produksi dan merugikan petani secara finansial. Padahal durian saat ini telah menjadi komoditas ekspor Indonesia pada subsektor hortikultura, terutama durian asal Sulawesi Tengah.
"Kami menaruh harapan kepada pemerintah pusat menyelesaikan masalah penyakit buah durian. Kami juga berterima kasih kepada Mentan yang merespon cepat keluhan para petani di Sulawesi Tengah," ujar dia.
Dari pertemuan itu, menurut Hengky, Mentan Amran memerintahkan jajarannya untuk segera mendatangkan tim ahli untuk melakukan penanganan penyakit pada buah durian.
Pemerintah juga berjanji bahwa seluruh pembiayaan dalam mengatasi masalah tersebut dibiayai negara, lanjutnya.
Berdasarkan data Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Sulteng luas kebun durian di provinsi tersebut saat ini baru sekitar 36 ribu hektare, lalu 12 ribu hektare di antaranya sudah berproduksi.
Apdurin menyebut dampak dari penyakit bangkalan menyebabkan produk menurun hingga 60 persen, meski begitu petani tetap bertahan menghadapi tantangan tersebut.
"Kami bersyukur petani tidak putus asa, mereka tetap konsisten meningkatkan produksi karena nilai ekonomis komoditas itu sangat menjanjikan, bahkan Kementerian Pertanian dan Pemerintah Sulawesi Tengah komitmen mengembangkan kawasan durian Sulteng," kata Hengky.
Ia berharap apa yang dijanjikan pemerintah pusat dapat segera terlaksana, supaya penanganan dan pengendalian penyakit dapat dilakukan secara berkelanjutan.
"Bangkalan penyakit yang menjadi momok menakutkan bagi petani durian, karena hingga saat ini belum ada obat khusus mengatasi penyakit pada buah itu," kata Ketua Apdurin Sulteng Hengky Idrus saat menghadiri kegiatan Dies Natalis ke-45 dan Wisuda Universitas Tadulako yang juga dihadiri Menteri Pertanian di Palu, Kamis.
Ia menjelaskan pengalaman yang dialami petani saat ini di mana buah durian yang mereka tanam terserang penyakit bangkalan rontok sebelum matang, dan dipastikan daging buah tidak dapat dikonsumsi.
Kondisi itu, kata Hengky, sangat mengganggu produksi dan merugikan petani secara finansial. Padahal durian saat ini telah menjadi komoditas ekspor Indonesia pada subsektor hortikultura, terutama durian asal Sulawesi Tengah.
"Kami menaruh harapan kepada pemerintah pusat menyelesaikan masalah penyakit buah durian. Kami juga berterima kasih kepada Mentan yang merespon cepat keluhan para petani di Sulawesi Tengah," ujar dia.
Dari pertemuan itu, menurut Hengky, Mentan Amran memerintahkan jajarannya untuk segera mendatangkan tim ahli untuk melakukan penanganan penyakit pada buah durian.
Pemerintah juga berjanji bahwa seluruh pembiayaan dalam mengatasi masalah tersebut dibiayai negara, lanjutnya.
Berdasarkan data Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Sulteng luas kebun durian di provinsi tersebut saat ini baru sekitar 36 ribu hektare, lalu 12 ribu hektare di antaranya sudah berproduksi.
Apdurin menyebut dampak dari penyakit bangkalan menyebabkan produk menurun hingga 60 persen, meski begitu petani tetap bertahan menghadapi tantangan tersebut.
"Kami bersyukur petani tidak putus asa, mereka tetap konsisten meningkatkan produksi karena nilai ekonomis komoditas itu sangat menjanjikan, bahkan Kementerian Pertanian dan Pemerintah Sulawesi Tengah komitmen mengembangkan kawasan durian Sulteng," kata Hengky.
Ia berharap apa yang dijanjikan pemerintah pusat dapat segera terlaksana, supaya penanganan dan pengendalian penyakit dapat dilakukan secara berkelanjutan.






Komentar (0)