Jakarta: Teknologi dan layanan seluler diproyeksikan berkontribusi sebesar USD1,4 triliun bagi perekonomian Asia Pasifik pada tahun 2030, meningkat 40 persen dari USD1 triliun yang dihasilkan saat ini, menurut laporan terbaru GSMA, Mobile Economy Asia Pacific 2026.
Dirilis hari ini di Kuala Lumpur menjelang perhelatan M360 ASEAN 2026 bulan depan, laporan tersebut menemukan bahwa fase pertumbuhan digital berikutnya tidak hanya dibentuk oleh konektivitas semata, tetapi juga oleh cara pemerintah, operator, dan penyedia teknologi merespons empat prioritas yang saling berkaitan: pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI), menurunnya tingkat kepercayaan digital, tingginya permintaan akan infrastruktur digital yang lebih tangguh, serta minat yang kian besar terhadap kedaulatan digital.
Baca juga: Transaksi Belanja di Asia Pasifik Makin Bergeser ke Media SosialTemuan ini hadir di tengah upaya pemerintah di berbagai belahan Asia Pasifik dalam mengatasi peningkatan penipuan online, melonjaknya permintaan infrastruktur AI, ketidakpastian geopolitik yang semakin intensif, dan ekspektasi yang terus meningkat terhadap kedaulatan digital.
Laporan ini mengidentifikasi berbagai tantangan tersebut, beserta peluang yang diciptakannya, sebagai tema utama diskusi dalam M360 ASEAN pada bulan September mendatang.
Laporan ini juga menyoroti pentingnya kedaulatan digital yang kian meningkat di kawasan Asia Pasifik. Pemerintah dan industri secara proaktif berinvestasi pada infrastruktur AI lokal, layanan cloud yang tepercaya, lingkungan data yang aman, serta kapabilitas digital guna mendukung prioritas nasional dengan tetap menjaga keterbukaan, inovasi, dan kolaborasi lintas batas.
Julian Gorman, Head of Asia Pacific, GSMA berkata Industri seluler memainkan peran yang semakin krusial dalam membentuk masa depan digital Asia Pasifik.
“Sebagaimana ditunjukkan dalam laporan ini, perekonomian dan masyarakat di seluruh kawasan mengalami digitalisasi yang pesat, di mana jaringan seluler bertindak sebagai fondasi bagi adopsi AI, kepercayaan digital, dan infrastruktur digital yang tangguh,” tegas dia.
Seiring dengan penekanan pemerintah pada kedaulatan digital dan harapan masyarakat akan perlindungan yang lebih kuat dari penipuan (scam, fraud) serta ancaman siber, tanggung jawab yang diemban oleh industri kita terus bertambah.
M360 ASEAN mempertemukan para pembuat kebijakan, pemimpin industri, dan inovator untuk mengatasi berbagai tantangan ini, memperkuat kepercayaan, serta memastikan bahwa transformasi digital memberikan manfaat ekonomi dan sosial jangka panjang bagi semua pihak.
Laporan tersebut menemukan bahwa 5G, AI, dan IoT akan menghadirkan peningkatan produktivitas yang signifikan di kawasan Asia Pasifik, terutama di sektor manufaktur dan jasa yang secara bersama-sama diperkirakan menyumbang lebih dari separuh manfaat ekonomi dari teknologi seluler canggih.
Operator seluler semakin memperluas peran mereka dari sekadar penyedia konektivitas menjadi penyedia infrastruktur AI, layanan cloud, dan solusi korporat yang mendukung inovasi di seluruh lini ekonomi.
Kepercayaan digital menjadi keharusan ekonomiSeiring dengan semakin mendarah dagingnya layanan digital dalam kehidupan sehari-hari, upaya menjaga kepercayaan pada ekosistem digital menjadi kian penting.
Laporan ini mencatat bahwa persentase konsumen di ASEAN yang melaporkan diri mereka pernah menjadi korban penipuan meningkat dari 31% pada tahun 2024 menjadi 45% pada tahun 2025, yang menggarisbawahi urgensi tinggi dalam mengatasi penipuan serta memperkuat keamanan online.
Operator menanggapinya dengan berinvestasi pada bidang keamanan, pencegahan penipuan, serta kolaborasi lintas sektor untuk melindungi konsumen dan bisnis.
Kedaulatan digital semakin pentingLaporan ini menyoroti minat yang terus tumbuh terhadap kedaulatan digital, seiring upaya pemerintah di Asia Pasifik untuk memperkuat kapabilitas digital nasional, mendukung pengembangan AI yang tepercaya, serta memastikan infrastruktur digital kritikal mampu memenuhi kebutuhan ekonomi dan keamanan lokal.
Operator semakin mengambil peran melalui investasi pada infrastruktur cloud, platform AI, lingkungan data yang aman, serta layanan digital yang tepercaya.
Ketahanan bergeser dari isu teknis menjadi prioritas strategisLaporan ini menekankan bagaimana ketahanan kini menjadi ciri utama infrastruktur digital.
Gangguan akibat iklim, ketegangan geopolitik, risiko rantai pasok, dan ketergantungan yang kian tinggi pada layanan digital mendorong fokus yang lebih besar untuk memastikan jaringan tetap andal, aman, dan beroperasi selama masa gangguan.
Pemerintah dan industri kini kian bahu-membahu memperkuat ketahanan pada infrastruktur komunikasi kritikal.
Temuan Utama Lainnya dari Mobile Economy Asia Pacific 2026:• Koneksi 5G diproyeksikan mencapai 1,5 miliar pada tahun 2030, yang mewakili 50% dari seluruh koneksi seluler di Asia Pasifik.
• Operator diperkirakan akan menggelontorkan belanja modal (capital expenditure) lebih dari USD 200 miliar antara tahun 2025 dan 2030.
• Ekosistem seluler menyokong 18 juta lapangan kerja di seluruh kawasan pada tahun 2025.
• Lebih dari 700 juta orang dewasa masih belum tersambung ke internet (offline), meskipun wilayah tempat tinggal mereka telah tercakup oleh jaringan pita lebar seluler (mobile broadband).
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda






Komentar (0)