Produsen peralatan telekomunikasi asal Finlandia, Nokia, dilaporkan berencana memberhentikan sebagian besar karyawannya di Tiongkok sebelum akhir tahun ini dan secara bertahap menutup pabrik-pabriknya di berbagai wilayah, dengan hanya mempertahankan layanan purnajual. Perusahaan tersebut telah mengonfirmasi bahwa mereka akan menutup pusat penelitian dan pengembangan (R&D) di Hangzhou. Setelah beroperasi di Tiongkok selama lebih dari 40 tahun, Nokia kini mempercepat penarikannya dari pasar yang pernah menjadi pasar tunggal terbesar perusahaan tersebut di dunia.
EtIndonesia.com Pada 18 Agustus, South China Morning Post mengutip sumber yang mengetahui masalah tersebut dan melaporkan bahwa pada awal Agustus, Nokia mengumumkan rencana untuk mengurangi bisnisnya di Tiongkok daratan dalam sebuah rapat video internal yang digelar di kantor pusatnya di Helsinki.
Berbagai departemen Nokia di Tiongkok akan melakukan PHK secara bertahap, dan sebagian besar penyesuaian tenaga kerja diperkirakan selesai sebelum akhir tahun ini.
Menurut laporan tersebut, seorang sumber yang mengetahui masalah ini mengungkapkan bahwa setelah restrukturisasi selesai, Nokia hanya akan mempertahankan layanan purnajual, yang pada dasarnya setara dengan penarikan diri secara bertahap dari pasar.
Seorang mantan karyawan Nokia di Shanghai yang pernah bekerja di departemen pengujian perangkat lunak mengatakan bahwa ia meninggalkan perusahaan dalam beberapa minggu terakhir dan menerima pesangon “N+3”, yaitu kompensasi berdasarkan masa kerja ditambah gaji selama tiga bulan.
Beberapa hari sebelumnya, pada 14 Agustus, media teknologi Light Reading mengutip sumber yang mengetahui masalah tersebut dan melaporkan bahwa Nokia telah mengonfirmasi penutupan pusat R&D-nya di Hangzhou, dengan sekitar 1.600 karyawan terkena PHK. Ada pula informasi bahwa sebagai bagian dari rencana restrukturisasi terbaru, beberapa kantor cabang Nokia lainnya di Beijing, Chengdu, Qingdao, dan Shanghai juga mungkin ditutup sebagian.
Menurut laporan tersebut, keputusan Nokia untuk menarik diri dari pasar Tiongkok juga dilatarbelakangi pertimbangan geopolitik.
Pada September tahun lalu, seorang eksekutif Nokia mengungkapkan dalam konferensi pers di Finlandia bahwa perusahaan tersebut telah diberi tahu bahwa Nokia akan dikeluarkan dari pasar Tiongkok karena alasan keamanan nasional. Hal ini secara langsung menyebabkan hilangnya pangsa pasar Nokia.
Tiongkok sebelumnya merupakan pasar tunggal terbesar Nokia di dunia. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, bisnis Nokia di Tiongkok terus menyusut.
Laporan keuangan perusahaan menunjukkan bahwa pendapatan tahunan Nokia di kawasan Tiongkok Raya, yang mencakup Hong Kong dan Taiwan, telah turun dari hampir 2,2 miliar euro pada 2018 menjadi 913 juta euro pada 2025. Jumlah karyawannya juga turun dari 13.700 orang pada 2020 menjadi 7.200 orang pada 2025. (***)






Komentar (0)