Karhutla Jatim Meluas, WALHI Soroti Gagalnya Tata Kelola Hutan Negara

disway.id
11 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, DISWAY.ID - Kebakaran hutan san lahan (karhutla) di Jawa Timur (Jatim) semakik meluas di musim kemarau 2026.

Kondisi tersebut dinilai menjadi alarm serius terhadap tata kelola dan pengawasan kawasan hutan negara.

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jatim mencatat, dari pemantauan sistem monitoring karhutla (Sipongi) Kementeruan Kehutanan hingga 3 Agustus 2026, ada titik panas atau hotspot yanh tersebar di 12 Kabupaten/kota di Jatim.

BACA JUGA:Pramono Sebut Aktivitas Industri di Bodetabek Jadi Penyumbang Utama Polusi Jakarta

Potensi luas area terbakar juga telah mencapai 2.927,08 hektare. Angka tersebut tercatat bahkan sebelum memasuki puncak musim kemarau. Kondisi itu terjadi ketika Jawa Timur menghadapi anomali iklim ekstrem. 

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat Juni 2026 menjadi Juni terkering kedelapan sejak 1991.

Sementara Juli 2026 tercatat sebagai Juli paling kering sejak 1991.

Curah hujan bahkan berada di bawah 20 milimeter per bulan. 

Sedangkan peluang terjadinya El Nino pada periode Agustus hingga Oktober 2026 mencapai 75 persen.

Ancaman karhutla diperkirakan semakin besar lantaran fenomena tersebut berpotensi beriringan dengan fase positif Indian Ocean Dipole (IOD). 

BACA JUGA:Trump Umumkan Ancaman Tegas, Siapa pun Negara yang Berani Bantu Iran, Siap-siap Kehancuran Ekonomi!

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama BMKG memproyeksikan fenomena yang disebut sebagai Godzilla El Nino atau super El Nino. 

Kombinasi tersebut diperkirakan dapat menurunkan curah hujan secara drastis dan memperpanjang hari tanpa hujan (HTH) ekstrem hingga lebih dari 60 hari di sejumlah wilayah Jawa Timur hingga Oktober 2026. 

Manajer Kampanye WALHI Jawa Timur, Lucky Wahyu, mengatakan kebakaran hutan tidak semestinya hanya dipandang sebagai bencana alam.

"Kebakaran hutan tidak boleh terus diperlakukan sebagai bencana alam semata. Kekeringan dan perubahan iklim memang meningkatkan kerentanan, tetapi besarnya dampak kebakaran juga sangat ditentukan oleh bagaimana kawasan tersebut dikelola dan diawasi," kata Lucky, Kamis, 20 Agustus 2026.

  • 1
  • 2
  • 3
  • »

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Kisah Haru Pemilik Toko Maci Mart: Gratiskan Kebutuhan Pokok untuk Korban Gempa
• 7 jam lalu
0
thumb
Membaca Data BPS, Siapa Penutur Bahasa Daerah 30 Tahun Lagi?
• 11 jam lalu
0
thumb
Memilih Rumah untuk Keluarga, Kenapa Lingkungan Sekitar Tak Kalah Penting?
• 7 jam lalu
0
thumb
Update Gempa M7,7 NTT: 75 Orang Meninggal Dunia, 92.735 Warga Mengungsi
• 9 jam lalu
0
thumb
170 SPPG di NTT Siap Beroperasi, Pemerintah Percepat Program MBG di Wilayah 3T
• 15 menit lalu
0
Berhasil disimpan.