Band metal asal Seattle, Demon Hunter, resmi melayangkan gugatan hukum terhadap raksasa layanan pengaliran streaming Netflix. Gugatan ini dipicu oleh perilisan film animasi populer Netflix yang berjudul KPop Demon Hunters. Band yang terbentuk sejak tahun 2000 tersebut mengeklaim adanya pelanggaran hak cipta, persaingan tidak sehat, serta kebingungan merek di kalangan konsumen akibat kesamaan nama.
Perselisihan ini semakin memanas setelah Netflix mengumumkan tur konser langsung untuk proyek animasi tersebut bekerja sama dengan promotor AEG Presents. Melalui perusahaan payung mereka, Hyde Lane, band metal tersebut mendaftarkan gugatan ke Pengadilan Distrik California Tengah. Langkah hukum ini diambil demi melindungi identitas merek yang telah mereka bangun selama lebih dari dua dekade di industri musik.
Dalam berkas gugatan yang diajukan, pihak band memaparkan bukti nyata bahwa kesamaan nama ini telah membingungkan publik. Salah satu contoh kasus yang diangkat adalah ketika seorang penggemar membeli tiket konser Demon Hunter di Albany, New York, seharga 500 dolar AS. Penggemar tersebut kemudian meminta pengembalian dana setelah menyadari bahwa konser yang akan dihadirinya bukanlah pertunjukan dari proyek animasi KPop Demon Hunters milik Netflix.
Demon Hunter menilai tumpang tindih ini sangat merugikan posisi mereka sebagai entitas musik yang sah. Kolaborasi antara Netflix dan AEG Presents dalam menggelar tur konser langsung dinilai mengeksploitasi pasar yang sama dengan yang disasar oleh band metal tersebut. Akibatnya, batas antara produk musik metal mereka dan kekayaan intelektual milik Netflix menjadi semakin kabur di mata konsumen.
Melalui badan hukum Hyde Lane, Demon Hunter juga melontarkan kritik tajam terhadap Netflix dan AEG Presents dalam dokumen pengadilan. Mereka menuduh kedua raksasa industri hiburan tersebut bersikap munafik dalam hal perlindungan hak cipta.
Tuntutan Hukum dan Dampak bagi NetflixMelalui persidangan dengan juri yang mereka ajukan, Hyde Lane menuntut pemulihan hak penuh atas merek dagang Demon Hunter. Mereka mendesak pengadilan untuk melarang Netflix menggunakan nama KPop Demon Hunters dalam produk atau acara apa pun di masa mendatang. Selain itu, pihak band juga menuntut ganti rugi restitusi serta ganti rugi tiga kali lipat atau treble damages atas kerugian yang mereka alami.
Di sisi lain, film animasi KPop Demon Hunters mencetak sejarah global lewat kesuksesan lagu soundtrack utamanya yang berjudul "Golden," dengan memenangkan piala Best Original Song di ajang Oscar 2026 serta mendominasi tangga lagu dunia dengan raihan lebih dari 3 miliar streaming global
Selain rencana sekuel dan tur konser yang kini dipermasalahkan, proyek ini juga telah merambah ke penjualan buku seni hingga rilisan fisik Blu-ray. Hingga saat ini, baik pihak Netflix maupun AEG Presents belum memberikan pernyataan resmi terkait gugatan hukum ini.






Komentar (0)