New York: Dolar Amerika Serikat (AS) merosot pada Rabu, 19 Agustus 2026, dan mencapai level terendah dalam lebih dari tiga bulan. Pelemahan terjadi setelah imbal hasil (yield) Treasury turun menyusul langkah Departemen Keuangan AS menopang pasar obligasi.
Pelaku pasar juga mencermati risalah rapat terbaru Federal Reserve (The Fed) yang menunjukkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi.
Dilansir dari Investing, Kamis, 20 Agustus 2026, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan mata uang tersebut terhadap enam mata uang utama turun 0,9 persen menjadi 98,80. Indeks tersebut sempat menyentuh 98,77, level terendah sejak 14 Mei. Yield Treasury 30 tahun turun Departemen Keuangan AS mengumumkan akan melipatgandakan operasi pembelian kembali (buyback) obligasi tenor panjang untuk mendukung likuiditas pasar.
Mulai 9 September, nilai operasi buyback untuk sekuritas tenor 10-20 tahun dan 20-30 tahun meningkat dari USD2 miliar menjadi USD4 miliar per operasi.
Langkah tersebut memicu aksi beli obligasi dan menekan yield Treasury tenor panjang. Yield obligasi AS tenor 30 tahun turun 7,2 basis poin menjadi 5,213 persen setelah sehari sebelumnya mencapai 5,337 persen, level tertinggi sejak Juni 2007.
Sebelumnya, obligasi tenor panjang mengalami aksi jual sejak keputusan suku bunga The Fed pada Juli. Kondisi tersebut dipicu kekhawatiran inflasi akibat kenaikan harga minyak serta meningkatnya penerbitan utang oleh perusahaan teknologi besar untuk membiayai pembangunan infrastruktur kecerdasan artifisial (AI).
Sementara itu, obligasi tenor pendek mencatatkan kinerja lebih baik, terbantu data ekonomi terkini yang menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.
Baca Juga :
Wall Street Rebound usai Sentimen Positif di Pasar Obligasi(Ilustrasi. Foto: Freepik) Risalah The Fed soroti kekhawatiran inflasi Risalah rapat The Fed pada Juli menunjukkan sebagian besar pembuat kebijakan masih mendukung keputusan mempertahankan suku bunga. Namun, banyak peserta menilai kenaikan suku bunga dapat diperlukan apabila inflasi tidak kembali menurun.
The Fed juga menilai prospek inflasi masih sangat tidak pasti dengan risiko yang cenderung mengarah ke atas.
Konflik berkepanjangan di Timur Tengah menjadi salah satu perhatian karena berpotensi memperpanjang gangguan rantai pasok dan meningkatkan tekanan terhadap inflasi.
Tiga presiden bank sentral regional sebelumnya menyatakan perbedaan pendapat terhadap keputusan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Juli. Yen, Euro, dan Poundsterling kompak menguat Pelemahan dolar AS mendorong penguatan sejumlah mata uang utama. Yen Jepang menguat, dengan pasangan USD/JPY turun 0,9 persen menjadi 158,21.
Euro melonjak 0,8 persen menjadi USD1,1674, level tertinggi sejak 14 Mei. Poundsterling juga menguat 0,6 persen menjadi USD1,3606, level tertinggi sejak 11 Mei.
Sementara itu, won Korea Selatan menguat hampir 2 persen terhadap dolar AS. Pasangan USD/KRW turun 1,7 persen menjadi 1.389,02.
Rupee India juga menghentikan tren pelemahan, dengan pasangan USD/INR turun 0,1 persen menjadi 95,568.





Komentar (0)