KPK telah sita aset senilai Rp150 miliar terkait kasus Silmy Karim

antaranews.com
1 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkapkan telah menyita sejumlah aset dengan total nilai Rp150 miliar terkait kasus dugaan pemerasan yang menjerat mantan Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Silmy Karim.

Pelaksana Tugas Direktur Penyidikan KPK Achmad Taufik Husein menjelaskan penyitaan tersebut dilakukan lembaga antirasuah sejak penyidikan dimulai hingga 19 Agustus 2026.

“Sampai hari ini tim sudah melakukan penyitaan beberapa aset. Kurang lebih yang sudah tercatat apabila dirupiahkan sekitar Rp150 M yang berupa aset bergerak dan aset tidak bergerak, seperti kendaraan, tanah dan bangunan,” kata Taufik di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Rabu malam.

Di sisi lain, dia mengatakan KPK tengah mengonfirmasi asal-usul perolehan aset-aset tersebut. Terlebih, kata dia, sejumlah aset diatasnamakan orang lain.

“Nah ini sedang didalami apakah nanti ada modus-modus perbuatan pencucian uang atau tidak,” katanya.

Baca juga: Selain Imigrasi Jaksel, KPK turut geledah Imigrasi Jakpus

Sebelumnya, KPK menggelar operasi tangkap tangan (OTT) terkait dugaan korupsi dalam pengurusan izin tinggal warga negara asing.

Pada 4 Juni 2026, KPK menetapkan delapan tersangka dalam perkara dugaan pemerasan pengurusan izin tinggal WNA selama periode 2022–2026 di lingkungan Kementerian Hukum dan HAM yang kemudian menjadi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan.

Selain Silmy Karim yang menjabat Direktur Jenderal Imigrasi periode 2023–2024, KPK juga menetapkan Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Imigrasi periode 2024–2025 Saffar Muhammad Godam sebagai tersangka.

Tersangka lainnya ialah Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi Jawa Barat Jaya Saputra, Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Non-TPI Jakarta Barat Ronald Arman Abdullah, Kepala Subdirektorat Direktorat Izin Tinggal dan Status Keimigrasian Tessar Bayu Setyaji dan Bagus Bramantyo, Ketua Tim Alih Status Izin Tinggal Terbatas Juniadi Sri Priambudi, serta Staf Subdirektorat Izin Tinggal Gusti Benardiansyah.

KPK menduga para tersangka memperoleh keuntungan sekitar Rp145,5 miliar dari praktik tersebut selama periode 2022–2026.

Baca juga: KPK temukan 8.500 dolar Singapura di ruangan Kepala Kanim Jaksel


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Habib Bahar bin Smith Desak Penutupan Pabrik Miras di Bogor: Berantas Kedzaliman Gak Pakai Waktu!
• 14 jam lalu
0
thumb
MINI BOSS MARKET VOL.2: Tempat Mimpi Kecil Tumbuh Menjadi Besar
• 16 jam lalu
0
thumb
Pramono: Ada Dana KLB, Anggaran Perbaikan Sekolah Rusak Lebih Besar
• 16 jam lalu
0
thumb
PURANA Mengobarkan Gerakan Kebanggaan Nasional Ekonomi Sirkular "Renjana Perca" di Grand Indonesia
• 8 jam lalu
0
thumb
Hujan Guyur Jakarta Siang Ini, BMKG: Alami, Bukan Hasil Modifikasi Cuaca
• 14 jam lalu
0
Berhasil disimpan.