"Dari gim pertama sampai kedua, kami fokus pikirannya selalu goyah, naik turun. Selalu dari sudah unggul atau poin yang mepet-pepet, fokusnya hilang," ujar Bimo usai laga.
Ia menambahkan bahwa dari segi teknik dan strategi, mereka sebenarnya tidak kalah bersaing dari pasangan Jepang tersebut. Namun, tingkat konsistensi mental di atas lapangan masih menjadi pekerjaan rumah terbesar.
"Dari cara bermain, pola permainan kami merasa kami bisa mengimbangi, tapi kami masih perlu konsisten di pikiran dan mentalnya," tambah Bimo. Pelajaran Berharga dan PR Kekuatan Fisik Baca juga: Kejuaraan Dunia BWF 2026: Debut Amri/Nita Berbuah Tiket 16 Besar! Senada dengan Bimo, Arlya Nabila Thesya Munggaran memetik banyak pelajaran berharga dari kekalahan ini. Menurutnya, laga melawan Shimogami/Hobara memberikan gambaran jelas mengenai area mana saja yang harus segera dibenahi untuk menghadapi turnamen level atas berikutnya.
Selain aspek mental dan strategi bertanding, Arlya juga menyoroti kebutuhan untuk meningkatkan performa fisik, khususnya daya tahan dan kekuatan otot tangan agar lebih siap menghadapi reli panjang.
"Banyak pelajaran yang bisa kami ambil hari ini. Dari cara mainnya, fokusnya, bagaimana mengatasi poin-poin kritis, bagaimana cara mempertahankan keunggulan. Kami juga harus menambah kekuatan tangan," jelas Arlya.
Kekalahan ini menjadi bahan evaluasi penting bagi pelatih dan Bimo/Arlya guna meningkatkan kematangan bertanding di level dunia.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(KAH)






Komentar (0)