Jakarta, tvOnenews.com - Tekanan terhadap Presiden FIFA Gianni Infantino semakin besar setelah CEO Premier League Richard Masters secara terbuka mempertanyakan kepemimpinannya. Masters bahkan menilai FIFA membutuhkan reformasi besar, termasuk kemungkinan hadirnya presiden baru untuk memimpin badan sepak bola dunia tersebut.
Pernyataan itu muncul setelah rencana kontroversial FIFA melibatkan investor swasta dalam pengelolaan hak komersial Piala Dunia mendapat penolakan dari berbagai pihak. Proposal tersebut dikaitkan dengan pembentukan FIFA Forward Enterprise dan sempat diproyeksikan melibatkan investasi hingga miliaran dolar sebelum menuai kritik luas.
Masters menilai sejak awal FIFA tidak semestinya mempertimbangkan untuk melepas sebagian kepemilikan komersial Piala Dunia kepada pihak eksternal. Menurutnya, turnamen tersebut seharusnya dikelola sebagai aset yang dijaga demi kepentingan sepak bola di masa depan.
"Saya rasa FIFA seharusnya tidak pernah mempertimbangkan untuk menjual saham di Piala Dunia," ujas Masters kepada BBC.
"Mereka adalah organisasi nirlaba. Seharusnya mereka mengelola kompetisi itu sebagai amanah untuk masa depan sepak bola. Saya pikir itu ide yang buruk, dan FA telah mengambil posisi yang tepat terkait Gianni [Infantino]," lanjutnya.
CEO Premier League itu kemudian mendorong adanya perubahan dalam struktur kepemimpinan FIFA. Ia berharap kandidat presiden berikutnya membawa agenda reformasi yang dapat mengembalikan kepercayaan terhadap organisasi tersebut.
"Saya pikir kandidat persatuan yang muncul seharusnya memasukkan reformasi FIFA dalam agendanya, dan mungkin bahkan reformasi peran presiden dan bagaimana peran tersebut berinteraksi dengan hal-hal tersebut," ucapnya.
Kritik terhadap Infantino juga datang dari sejumlah federasi sepak bola Eropa. Norwegia sebelumnya menjadi salah satu pihak yang secara terbuka meminta Infantino mundur, sementara Inggris, Skotlandia, Wales, Irlandia, dan terbaru Israel telah menarik dukungan terhadap pencalonannya.
Masters turut menyoroti kontroversi lain yang melibatkan keputusan FIFA mencabut hukuman kartu merah Folarin Balogun di Piala Dunia 2026. Keputusan tersebut menjadi sorotan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengaku menghubungi Infantino untuk meminta peninjauan hukuman sang penyerang.
"Kami mengkhawatirkan episode tertentu itu, dan tentu saja kami tidak tahu apa yang akan terjadi," katanya.





Komentar (0)