PERAYAAN 17 Agustus telah berlalu. Setelah berbagai upacara, perlombaan, dan peringatan kemerdekaan selesai dilaksanakan, masyarakat Indonesia kembali pada rutinitasnya.
Mereka kembali bekerja, membanting tulang sejak pagi hingga malam demi memenuhi kebutuhan keluarga.
Namun, ada satu hal patut kita renungkan bersama. Menjelang peringatan kemerdekaan, pemimpin tertinggi di negeri ini telah menyampaikan pidato kenegaraan di hadapan para wakil rakyat.
Dalam pidato tersebut, berbagai capaian, tantangan, serta arah pembangunan Indonesia dipaparkan secara panjang lebar.
Bagaimana respons masyarakat? Tentu tidak mudah menjawab pertanyaan tersebut secara presisi.
Namun, ada satu kecenderungan cukup menarik. Masyarakat sering kali lebih mudah menyoroti kesalahan, kekeliruan data, atau potongan kalimat yang dianggap kurang tepat daripada melihat gambaran besar dari pesan yang ingin disampaikan.
Fenomena ini menunjukkan, bangsa Indonesia masih perlu membangun pola pikir lebih apresiatif.
Pola pikir apresiatif adalah cara berpikir yang berusaha melihat, menghargai, dan mengembangkan berbagai hal baik yang telah berhasil dicapai, tanpa mengabaikan berbagai kekurangan masih harus diperbaiki.
Mengapresiasi bukan berarti menutup mata terhadap kritik. Kritik tetap diperlukan sebagai bagian dari proses perbaikan.
Namun, kritik konstruktif berbeda dengan sikap yang hanya berfokus pada kesalahan. Jauh berbeda dari sekedar nyinyir dan nyindir.
Pertanyaannya, sampai kapan bangsa ini akan terjebak dalam budaya saling menyalahkan, saling merendahkan, dan selalu berprasangka negatif?
Baca juga: Siapa Mau Jadi ASN?
Jika setiap perbedaan hanya melahirkan cemoohan, jika setiap kebijakan hanya dipandang dari sisi kekurangannya, dan jika setiap keberhasilan selalu dianggap tidak berarti, maka akan sulit membangun sinergi dan kolaborasi sehat.
Padahal, perubahan besar sering kali dimulai dari kemampuan untuk melihat apa yang sudah berhasil dilakukan.
Tidak ada manusia sempurna. Tidak ada kebijakan sepenuhnya tanpa kekurangan.
Komentar (0)