Iran Bertahan Lama, AS Disebut Butuh Ratusan Triliun untuk Kembali Produksi Amunisi yang Menipis

wartaekonomi.co.id
2 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Persoalan kesiapan militer Amerika Serikat (AS) tidak hanya terjadi pada armada kapal perang. Konflik berkepanjangan dengan Iran juga mulai menekan persediaan rudal pertahanan udara AS, terutama sistem Patriot dan Terminal High Altitude Area Defense (THAAD).

Penggunaan rudal secara intensif sejak perang dengan Iran pecah pada Februari 2026 membuat stok persenjataan pertahanan udara AS mengalami penurunan tajam. Kondisi tersebut menjadi persoalan tersendiri karena pengisian kembali persediaan rudal membutuhkan biaya besar dan waktu yang tidak singkat.

Estimasi Center for Strategic and International Studies (CSIS) per 27 Juli 2026 menunjukkan stok rudal Patriot turun dari sekitar 2.330 unit menjadi hanya 759-827 unit. Sementara itu, persediaan rudal THAAD menyusut dari 452 unit menjadi sekitar 234-278 unit.

Dengan penurunan tersebut, Amerika Serikat menghadapi tantangan untuk segera memulihkan stok rudal yang telah digunakan. Penggantian persediaan diperkirakan membutuhkan biaya hingga US$10 miliar atau lebih dari Rp178 triliun.

Namun, persoalannya bukan hanya anggaran. Keterbatasan kapasitas produksi membuat pengisian kembali stok rudal diperkirakan membutuhkan waktu hingga tiga tahun.

Kondisi itu mendorong industri pertahanan AS untuk mencari cara meningkatkan kapasitas produksi sekaligus menekan biaya. Executive Director for Integrated Air and Missile Defense Boeing, Jim Bryan, menyebut perusahaan tengah mengubah pendekatan manufaktur agar rudal pencegat dapat diproduksi dengan biaya lebih rendah dan dalam jumlah yang lebih besar.

Baca Juga: Iran Belum Tumbang, Kapal-Kapal AS Sudah Mulai Harus Diperbaiki

Dari sisi militer, efisiensi biaya juga menjadi perhatian. Brigjen RJ Mikesh, pejabat pengadaan senjata Angkatan Darat AS, menilai kemampuan memproduksi rudal secara efisien menjadi semakin penting dalam menghadapi ancaman serangan udara modern.

Tekanan terhadap kesiapan militer AS juga merambah armada kapal perang. Kapal perusak kelas Arleigh Burke yang menjadi salah satu kekuatan untuk menghadapi ancaman rudal balistik Iran disebut menghadapi keterbatasan jumlah.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
RI-Thailand Jajaki Kerja Sama Pendidikan, Tingkatkan Beasiswa hingga Penelitian
• 2 jam lalu
0
thumb
Aturan Teknis Molinas Belum Terbit, Aismoli Sebut Masih Digodok Danantara
• 54 menit lalu
0
thumb
Demo Mahasiswa di Dekat Bundaran HI Usai, Aksi Lebih Besar Disiapkan
• 17 jam lalu
0
thumb
Ketika DPR dan Pemerintah Tentukan Nasib Guru PPPK, Ada Peluang jadi PNS
• 9 jam lalu
0
thumb
Jalur Reo Terputus, Pertamina Kirim 11 Tangki BBM ke Labuan Bajo Pakai Kapal Feri
• 19 jam lalu
0
Berhasil disimpan.