Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung pada Selasa (18/8) menegaskan pentingnya aliansi pertahanan dengan Amerika Serikat (AS), setelah Presiden AS Donald Trump memerintahkan pengurangan latihan militer bersama Washington-Seoul dan mengatakan komunikasi dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un berlangsung "sangat positif".
Sementara itu, Jepang menegaskan bahwa kerja sama keamanan dengan Amerika Serikat dan Korea Selatan sangat "krusial" bagi stabilitas kawasan.
Trump pada Minggu (16/8) secara mendadak mengumumkan bahwa Pentagon akan mengurangi latihan militer bersama Korea Selatan yang disebutnya "tidak pantas dan bermusuhan". Sehari kemudian, Trump mengatakan keputusan itu terkait hubungannya dengan Kim serta penolakan Seoul untuk membantu perang AS-Israel melawan Iran.
Dalam rapat kabinet pada Selasa, Lee mengatakan keamanan nasional Korea Selatan akan semakin kuat jika aliansinya dengan Washington tetap kokoh.
"Ketika kita membangun kekuatan kita, nilai dan pentingnya kita sebagai sekutu akan semakin besar," kata Lee.
Trump kurangi latihan, Seoul tegaskan aliansiLatihan Ulchi Freedom Shield selama 11 hari dimulai pada Senin (17/8), sesuai rencana. Latihan tersebut dirancang untuk meningkatkan kesiapan menghadapi kemungkinan perang dengan Korea Utara.
Militer Korea Selatan dan AS sebelumnya mengatakan latihan tahun ini akan memiliki skala yang serupa dengan tahun-tahun sebelumnya dan memasukkan pembelajaran dari konflik terbaru, termasuk pengalaman pasukan Korea Utara di medan perang Rusia-Ukraina. Kedua negara juga menyatakan latihan itu bersifat defensif.
Namun, belum jelas bagian mana dari latihan yang akan dikurangi menyusul perintah Trump.
Kantor kepresidenan Korea Selatan mengatakan latihan tersebut tidak mencerminkan "niat apa pun untuk menyerang Korea Utara atau meningkatkan ketegangan di Semenanjung Korea". Lee juga mengatakan tujuan mendasar latihan bukan "memperlakukan entitas tertentu sebagai musuh, melainkan melindungi kehidupan sehari-hari masyarakat yang aman dan damai".
Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi pada Selasa mendukung kerja sama keamanan antara Jepang, AS dan Korea Selatan.
"Ketika Jepang menghadapi lingkungan keamanan paling serius dan kompleks di era pascaperang, kerja sama antara Jepang, Amerika Serikat dan Korea Selatan sangat penting bagi perdamaian dan stabilitas kawasan," kata Koizumi saat berkunjung ke Australia.
Trump sebelumnya mengaitkan pengurangan latihan dengan keengganan Korea Selatan membantu Washington dalam perang melawan Iran.
"Tunggu sebentar. Kami memiliki 39.000 tentara di sana, menjaga kalian dari Kim Jong Un, tetangga kalian, dan kalian tidak akan membantu kami dalam operasi militer yang sangat mudah di Iran. Itu aneh," kata Trump.
Trump puji Kim, komunikasi kembali disorotPada Senin (17/8), Trump mengatakan Kim telah merespons pendekatan yang disampaikannya. Ketika ditanya apakah Kim benar-benar telah memberikan tanggapan, Trump menjawab, "Ya, dia sudah."
Trump mengatakan komunikasi tersebut berada pada tahap "sangat positif", tetapi tidak memberikan rincian lebih lanjut. Ia juga kembali memuji Kim.
"Saya sebenarnya membuat situasinya jauh lebih aman. Kim Jong Un selalu memperlakukan saya dengan sangat hormat," kata Trump. "Saya memahami dia. Dia memahami saya."
Trump dan Kim telah bertemu tiga kali selama masa jabatan pertama Trump di Gedung Putih, tetapi belum bertemu sejak Trump kembali menjabat.
Kantor kepresidenan Korea Selatan sebelumnya menyatakan harapan bahwa hubungan pribadi yang baik antara Trump dan Kim dapat membuka jalan bagi "dialog yang bermakna" antara kedua negara. Namun, Kementerian Unifikasi Korea Selatan mengatakan pihaknya tidak dapat memastikan apakah komunikasi antara Trump dan Kim benar-benar telah berlangsung.
"Saluran komunikasi antara kedua pihak memang ada, tetapi kami tidak dapat memverifikasi isi spesifik dari pertukaran tersebut," kata seorang juru bicara kementerian.
Korea Utara sendiri belum memberikan tanggapan publik mengenai perkembangan tersebut. Kementerian Luar Negeri Korea Utara sebelumnya menuduh AS dan Korea Selatan merencanakan latihan yang semakin provokatif dan berjanji merespons dengan "tingkat pencegahan baru".
Kekhawatiran atas komitmen AS meningkatPerubahan kebijakan Trump memicu kekhawatiran mengenai keandalan komitmen keamanan Washington di Asia Timur. AS menempatkan sekitar 28.500 tentaranya di Korea Selatan sebagai bagian dari pertahanan negara tersebut sejak Perang Korea 1950-1953, yang berakhir dengan gencatan senjata tanpa perjanjian damai.
Senator Demokrat AS Jack Reed mengecam keputusan untuk mengurangi latihan dan mengatakan Cina serta Rusia sedang "mengamati betapa mudahnya presiden ini meninggalkan sekutu Amerika".
Di Korea Selatan, kekhawatiran juga muncul di tengah menurunnya kepercayaan terhadap AS. Survei JoongAng Ilbo dan East Asia Institute menunjukkan 46,4 persen responden menganggap AS sebagai "mitra yang tidak dapat dipercaya", sementara 45,4 persen menganggapnya "dapat dipercaya". Ini merupakan pertama kalinya sejak pertanyaan tersebut mulai diajukan pada 2017 lebih banyak responden menyatakan tidak mempercayai AS.
Leif-Eric Easley, profesor di Ewha University, mengatakan Trump memandang aliansi sebagai investasi yang harus memberikan keuntungan.
"Trump memandang aliansi sebagai investasi yang seharusnya memberikan dividen secara rutin, atau dana cadangan yang bisa ditarik ketika proyek lain tidak berjalan baik," kata Easley.
Sementara itu, kantor Lee mengatakan Seoul dan Washington masih membahas kontribusi praktis dan militer yang dapat diberikan Korea Selatan untuk membantu memulihkan kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
Di tengah perkembangan tersebut, AS juga memindahkan kapal induk USS George Washington dari kawasan Pasifik ke Timur Tengah untuk menggantikan USS Lincoln yang telah menjalani penugasan panjang. Perubahan tersebut berlangsung ketika sekutu-sekutu AS di kawasan menghadapi tekanan untuk meningkatkan belanja pertahanan mereka.
Editor: Rizki Nugraha
width="1" height="1" />
(ita/ita)






Komentar (0)