JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menargetkan seluruh warga ibu kota mendapat akses air bersih melalui jaringan perpipaan pada 2029. Target tersebut dipercepat satu tahun dari rencana awal 2030 melalui perluasan jaringan sekaligus penambahan pasokan air baku.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meminta PAM Jaya mempercepat pencapaian target tersebut agar kebutuhan air bersih warga dapat dipenuhi melalui layanan perpipaan.
“Secara khusus saya sudah meminta kepada jajaran Pemprov Jakarta dan juga Pak Dirut (PAM Jaya) untuk mudah-mudahan target mengejar air bersih Jakarta sampai dengan 100 persen di tahun 2029 ini bisa terpenuhi. Awalnya 2030, tapi saya meminta 2029,” ujar Pramono saat peresmian dua reservoir komunal di Tambora dan Gandaria Utara serta penyerahan Kartu Air Sehat di Rusunawa Tambora, Jakarta Barat, Rabu (26/3/2025).
Hingga Agustus 2026, cakupan layanan air minum perpipaan Jakarta telah mencapai 82 persen dan ditargetkan meningkat menjadi 86 persen pada akhir tahun.
Baca juga: Keluhan Pengungsi di Nagekeo: Mau Mengadu ke Siapa, Air Minum Saja Tak Ada
Ribuan kilometer jaringan baru disiapkanUntuk memperluas cakupan layanan, PAM Jaya menyiapkan sekitar 7.000 kilometer (km) jaringan pipa baru. Pembangunan tersebut akan meningkatkan total jaringan perpipaan Jakarta dari sekitar 13.000 km menjadi 20.000 km.
Direktur Teknik PAM Jaya Akhmad Santika mengatakan pembangunan jaringan akan dilakukan secara masif, bersamaan dengan revitalisasi jaringan lama yang sebagian telah berusia lebih dari 100 tahun.
“Pekerjaan pembangunan jaringan ke depan akan semakin masif,” kata Akhmad dalam keterangan resminya, Senin (9/8/2026).
Perluasan layanan juga telah dilakukan melalui penambahan sambungan rumah. Sepanjang 2025, PAM Jaya menambah 206.537 sambungan rumah. Capaian itu mengantarkan PAM Jaya memperoleh penghargaan Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) untuk penyambungan pipa air minum kepada pelanggan terbanyak dalam satu tahun.
Namun, bertambahnya jaringan belum cukup untuk mencapai cakupan 100 persen. Jakarta juga butuh tambahan air baku agar jaringan yang dibangun dapat beroperasi optimal.
Baca juga: Krisis Air Bersih di Jember Kian Parah: Sumur Warga Menguning, 862 KK Kesulitan Air Minum
Kebutuhan air masih lebih besar dari pasokanSenior Manager Corporate & Customer Communication PAM Jaya Gatra Vaganza mengatakan pasokan air yang tersedia saat ini masih di bawah kebutuhan untuk melayani seluruh Jakarta.
“Hingga Agustus 2026 ini sudah mencapai 82 persen dengan target di akhir 2026 sekitar 86 persen layanan,” ujar Gatra saat dihubungi Kompas.com melalui WhatsApp, Rabu (12/8/2026).
Saat ini, volume air yang didistribusikan PAM Jaya mencapai sekitar 22.000 liter per detik (L/s). Sementara itu, untuk mencapai cakupan layanan 100 persen, kebutuhan air diperkirakan mencapai 33.000 liter per detik.
“Sehingga progres perluasan layanan dilakukan bertahap, mengikuti progres peningkatan supply air dari hulunya,” kata Gatra.
Kondisi tersebut membuat Pemprov DKI tidak hanya membangun jaringan di dalam kota, tetapi juga menyiapkan tambahan sumber air baku dari wilayah sekitar.
Baca juga: El Nino Mengancam, Air Minum dan Sawah Jadi Taruhan, Apa Upaya Pemerintah?
Salah satu langkah yang dilakukan adalah kerja sama dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten melalui pengembangan Bendung Polor. Pemprov DKI juga mengandalkan peningkatan pasokan dari Waduk Jatiluhur dan Waduk Karian.






Komentar (0)