PAN soal Prabowo Diapit Jokowi-Gibran: Melenyapkan Spekulasi Keretakan

detik.com
4 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

Wakil Ketua Umum PAN Viva Yoga Mauladi menanggapi posisi duduk Presiden Prabowo Subianto yang berada diapit Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka saat upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Viva mengatakan hal itu adalah biasa.

"Menurut PAN, tempat duduk Presiden Prabowo dan Pak Jokowi adalah hal yang biasa saja, sesuai dengan aturan protokoler kepresidenan dalam acara kenegaraan," kata Viva Yoga kepada wartawan, Rabu (19/8/2026).

Namun, menurutnya momen tersebut bisa mematahkan spekulasi bahwa mereka memiliki hubungan yang renggang. Viva menilai momen itu justru memperlihatkan kegembiraan politik.

"Kehadiran Pak Jokowi yang duduk berdampingan dengan Presiden Prabowo dalam suasana penuh kegembiraan telah melenyapkan spekulasi politik yang menafsirkan adanya keretakan hubungan," ujarnya.

Baca juga: Prabowo Duduk Diapit Jokowi-Gibran di HUT RI, Gerindra: Cerminkan Hubungan Baik

Viva menilai kebersamaan para pemimpin dalam momentum peringatan kemerdekaan merupakan contoh politik yang sehat. Menurutnya, perbedaan politik tidak seharusnya menghilangkan persahabatan antarpemimpin.

"Bagi PAN, jika para pemimpin bisa duduk bersama, berdialog, tersenyum dan menunjukkan suasana persahabatan di tengah peringatan kemerdekaan, itu adalah contoh politik yang sehat penuh dengan kebijaksanaan," tutur Viva.

Dia mengatakan masyarakat tentu akan senang apabila para pemimpinnya kompak, menjaga persahabatan, dan tetap saling bertegur sapa. Para pemimpin, lanjutnya, juga harus memberikan teladan kepada masyarakat.

"Rakyat pasti senang jika para pemimpinnya kompak, menjaga persahabatan, dan saling bertegur-sapa. Pemimpin mesti memberikan suri keteladanan bagi masyarakat," katanya.

Baca juga: Prabowo Duduk Diapit Jokowi-Gibran, PKB: Beda Politik Tak Halangi Silaturahmi

Viva menegaskan perbedaan warna dan aliran politik merupakan sesuatu yang tidak terhindarkan dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Namun, perbedaan tersebut tidak boleh sampai merusak persatuan nasional.

"Keperbedaan warna politik dan aliran pemikiran politik bagi masyarakat Indonesia adalah suatu keniscayaan, taken for granted. Tetapi tidak boleh merusak integrasi nasional, kohesivitas sosial, dan cita-cita kemerdekaan," ucapnya.




(azh/yld)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Saatnya Pusat Mendengar Daerah
• 7 jam lalu
0
thumb
BRIN dan WIKA Perkuat Kolaborasi Riset, Bidik Teknologi Konstruksi Ramah Lingkungan hingga SMR Nuklir
• 10 jam lalu
0
thumb
Bali United Ternyata Jadi Lawan Sesungguhnya untuk Tutup Pramusim Persib, Igor Tolic Catat Evaluasi Keseluruhan untuk Maung Bandung
• 14 jam lalu
0
thumb
Jepang atau China, Mana yang Cocok untuk Liburan Pertama ke Luar Negeri?
• 18 jam lalu
0
thumb
Capai Pertumbuhan Ekonomi 6 Persen, Wamenkeu: Konsumsi Masyarakat Harus Dijaga
• 13 jam lalu
0
Berhasil disimpan.