Jakarta, CNBC Indonesia — Bursa saham Asia Pasifik bergerak melemah pada perdagangan Rabu (19/8/2026), dengan bursa Korea Selatan menjadi salah satu yang mengalami tekanan paling dalam.
Melansir CNBC, Indeks Kospi anjlok 5,89%, sementara indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq merosot 3,62%.
Di Jepang, indeks Nikkei 225 turun 1,04%, sedangkan indeks Topix terkoreksi 1,01%. Sementara itu, indeks acuan Australia S&P/ASX 200 melemah 0,50%.
Tekanan terhadap bursa Asia terjadi seiring saham-saham teknologi melemah di tengah lonjakan imbal hasil atau yield obligasi di Amerika Serikat (AS) dan sejumlah negara lainnya. Kenaikan yield obligasi jangka panjang menjadi perhatian investor karena dapat meningkatkan biaya pendanaan sekaligus mengurangi daya tarik valuasi saham, terutama sektor teknologi.
Yield US Treasury tenor 30 tahun mencatat level tertinggi baru dalam 19 tahun pada Selasa (18/8/2026). Di Jepang, yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun mencapai level tertinggi dalam tiga dekade.
Kenaikan yield juga terjadi di Eropa, dengan yield obligasi pemerintah Jerman tenor 30 tahun mencapai level tertinggi sejak 2011. Sementara itu, yield obligasi pemerintah Prancis tenor 30 tahun menyentuh level tertinggi sejak 2008.
Meski yield obligasi jangka panjang mencapai level tertinggi dalam beberapa dekade, reaksi pasar saham sejauh ini dinilai relatif terbatas. Investor masih bertaruh bahwa pertumbuhan ekonomi yang berlanjut serta kinerja laba perusahaan yang secara historis kuat dapat menopang pasar saham meskipun tingkat yield meningkat.
Adam Parker, founder sekaligus CEO Trivariate Research, mengatakan kondisi ekonomi AS masih cukup kuat untuk menopang pasar saham. Ia menilai laba dan arus kas perusahaan-perusahaan besar juga cukup solid untuk melewati berbagai tekanan yang mungkin muncul dari kenaikan yield.
"Saya pikir pada akhirnya ekonomi cukup kuat," kata Parker dalam wawancara dengan CNBC, dikutip Rabu (19/8/2026). Menurutnya, kekuatan laba dan arus kas perusahaan-perusahaan besar dapat membantu pasar melewati gejolak yang terjadi.
Perhatian investor selanjutnya tertuju pada risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang akan dirilis pada Rabu sore waktu AS. Risalah tersebut akan menjadi sorotan mengingat adanya perbedaan pandangan yang cukup tajam di internal bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed).
Dalam pertemuan FOMC Juli, terdapat tiga pejabat yang berbeda pendapat atau dissenters dan memilih kenaikan suku bunga. Investor akan mencermati risalah tersebut untuk mendapatkan gambaran lebih rinci mengenai perbedaan pandangan di antara para pejabat The Fed terkait arah kebijakan moneter.
Selain kebijakan moneter, perhatian pasar juga tertuju pada musim laporan keuangan perusahaan ritel AS yang masih berlangsung. Target, TJX, dan Lowe's dijadwalkan menyampaikan laporan keuangan sebelum pembukaan perdagangan pada Rabu, sementara perusahaan semikonduktor Analog Devices juga akan melaporkan kinerjanya.
(mkh/mkh)





Komentar (0)