Harga minyak acuan dunia naik selama empat hari berturut-turut, di tengah buntunya perundingan antara AS - Iran untuk penyelesaian perang Timur Tengah.
Harga Brent naik 0,3% menjadi US$ 91,28 per barel pada pukul 08.05 waktu Singapura. Sementara West Texas Intermediate (WTI) naik 0,4% menjadi US$ 85,31 per barel.
Harga minyak mentah melonjak sejak pecahnya konflik di Timur Tengah pada akhir Februari, sehingga meningkatkan tekanan inflasi. Perang antara Rusia dan Ukraina juga turut memperketat pasar energi setelah serangan terhadap kilang-kilang minyak.
Pada saat yang bersamaan, harga produk olahan minyak terutama diesel, melonjak jauh lebih tinggi dibandingkan harga minyak mentah, sehingga memberikan tekanan besar kepada pengendara dan pengemudi truk, serta sektor industri.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengatakan tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung dengan Teheran. Kendati demikian, AS berencana meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran dalam upaya memaksa Teheran menyerah, sembari mempertahankan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan negara tersebut.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan paket langkah-langkah baru yang keras kemungkinan akan diumumkan pekan ini.
Sebelum itu, Uni Emirat Arab (UEA) menyebut akan menangguhkan seluruh perdagangan dan transaksi keuangan dengan Teheran menyusul apa yang disebutnya sebagai eskalasi di kawasan. UEA, yang terletak di seberang Teluk Persia dari Iran, sering menjadi sasaran serangan, terutama terhadap sektor pelayaran.
Kebuntuan perundingan antara AS-Iran membuat status Selat Hormuz masih tidak pasti. Kedua negara masih berselisih mengenai pengelolaan selat tersebut. Saat ini hanya sedikit kapal yang melintas di jalur perairan yang menghubungkan produsen minyak di Teluk Persia dengan pasar global.
Sementara itu, di AS, muncul tanda-tanda baru persediaan minyak mereka menurun. American Petroleum Institute (API) melaporkan penurunan moderat pada stok minyak mentah nasional, termasuk di pusat penyimpanan minyak di Cushing, Oklahoma. Persediaan produk sulingan, yang mencakup kategori diesel juga diperkirakan turun.
Pasar diesel global saat ini sangat ketat, dengan arus pasokan dari Timur Tengah terganggu dan Moskow menghentikan ekspor. Margin pengolahan minyak mentah menjadi bahan bakar di AS telah menembus US$ 100 per barel, mencetak rekor tertinggi sepanjang masa.





Komentar (0)