Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan pemulihan infrastruktur pascagempa bumi magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT) terus dilakukan.
Sejumlah titik longsor, patahan jalan, dan jembatan yang rusak kini telah ditangani sehingga kembali dapat difungsikan.
Berton SP Panjaitan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB mengatakan, Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) NTT telah melakukan penanganan pada sejumlah ruas jalan nasional dan jembatan yang terdampak gempa.
Dalam pembaruan penanganan pascagempa yang disiarkan BNPB melalui kanal YouTube BNPB Indonesia, Selasa (18/8/2026), Berton menyebut bahwa 32 dari 33 titik longsor yang tercatat telah berhasil ditangani dan kembali fungsional.
“Sebanyak 32 dari 33 titik longsor telah ditangani dan kembali fungsional,” kata Berton.
Selain longsor, empat titik patahan jalan juga telah diperbaiki dan dapat kembali digunakan. Ruas jalan Wolowaru-Maumere yang sebelumnya tertutup material longsor juga sudah bisa dilalui kendaraan setelah dilakukan pembersihan.
BNPB juga mencatat empat jembatan yang mengalami kerusakan akibat gempa telah mendapatkan penanganan dan kembali berfungsi.
Salah satunya adalah Jembatan Wae Pesi di ruas Ruteng-Kedindi, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai. Jembatan tersebut sebelumnya mengalami kerusakan pada bagian celah expansion joint.
Setelah dilakukan perbaikan, bagian yang rusak telah berhasil ditutup sehingga jembatan kembali dapat digunakan.
Untuk mempercepat pemulihan akses transportasi sekaligus mendukung distribusi bantuan kepada masyarakat terdampak, pemerintah juga mengerahkan sejumlah alat berat.
Dilansir dari Antara, Berton mengatakan bahwa tujuh unit excavator dan empat unit loader telah dimobilisasi ke sejumlah titik yang dinilai rawan.
Alat berat tersebut digunakan untuk mempercepat pembersihan material longsor, penanganan kerusakan jalan, serta membuka akses menuju wilayah yang terdampak gempa.
Selain infrastruktur jalan dan jembatan, pemerintah juga melakukan asesmen terhadap kondisi sumber daya air di wilayah terdampak.
Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara II telah melakukan koordinasi dan penilaian terhadap kondisi infrastruktur daerah aliran sungai (DAS) di sejumlah wilayah yang terdampak gempa.
Untuk mendukung penanganan, BBWS Nusa Tenggara II mengerahkan 13 unit excavator. Sebanyak tiga unit ditempatkan di Kabupaten Sikka, delapan unit di Bendungan Mbay, satu unit di Kabupaten Manggarai Barat, dan satu unit di Nangaroro.
Selain excavator, satu unit drilling rig dan dua unit truck crane juga disiagakan di workshop SNVT Air Tanah dan Air Baku Flores. (ant/saf/ipg)





Komentar (0)