CIDES ICMI Sulsel Siap Kawal Kebijakan Pemkot Makassar Berbasis Data dan Kajian Akademik

harianfajar
5 jam lalu
Cover Berita

HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Center for Information Development Studies (CIDES) ICMI Orwil Sulawesi Selatan siap mengambil bagian dalam memperkuat pembangunan Kota Makassar melalui riset, kajian akademik, inovasi, serta pendekatan sosial.

Komitmen tersebut mengemuka dalam audiensi pengurus CIDES ICMI Orwil Sulsel bersama Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, di Kantor Balai Kota Makassar, Selasa (18/8/2026).

Sekretaris CIDES ICMI Orwil Sulawesi Selatan, Dr. A. Luhur Prianto, menyambut baik pendekatan pembangunan yang dilakukan Pemerintah Kota Makassar dengan mengedepankan evidence-based policy atau kebijakan berbasis bukti.

Menurut Luhur, pendekatan tersebut sejalan dengan kapasitas dan sumber daya yang dimiliki CIDES ICMI Orwil Sulsel, khususnya dalam bidang riset, kajian, dan pengembangan kebijakan pembangunan daerah.

“Kita menyambut baik pendekatan pembangunan yang dilaksanakan Pak Wali yang sangat mengedepankan evidence-based policy. Tentu ini sejalan dengan sumber daya yang ada di CIDES ICMI,” ujar Luhur.

Ia mengatakan, kesesuaian pendekatan tersebut menjadi peluang untuk menerjemahkan komunikasi antara CIDES ICMI dan Pemerintah Kota Makassar ke dalam kegiatan yang lebih konkret.

Menurutnya, kolaborasi nantinya dapat disinergikan dengan organisasi perangkat daerah (OPD) yang memiliki tugas dan fungsi berkaitan dengan riset, inovasi, serta pengembangan pembangunan.

“Saya kira akan kita realisasikan dalam bentuk kegiatan-kegiatan yang konkret, tentu disambungkan dengan OPD-OPD yang terkait dengan riset, inovasi, serta pengembangan,” katanya.

Selain mendorong kebijakan berbasis data, Luhur menilai pembangunan daerah juga tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan teknokratik dan kepakaran.

Dekan FISIPOL Unismuh Makassar itu menyebut, pendekatan teknokratik memang dibutuhkan untuk memastikan kebijakan memiliki dasar ilmiah dan perencanaan yang kuat.

Namun, setiap program pemerintah juga perlu disertai persiapan sosial agar dapat diterima dan dijalankan secara efektif oleh masyarakat.

Ia menyebut hal tersebut sebagai kebutuhan untuk membangun desain sosial dalam setiap program pembangunan.

“Pendekatan teknokratik, pendekatan kepakaran memang diperlukan. Tetapi sekali lagi tetap ada kebutuhan persiapan-persiapan sosial, istilahnya desain sosial untuk setiap program,” jelasnya.

Luhur mengatakan, keberadaan organisasi yang memiliki latar belakang sumber daya manusia yang beragam menjadi salah satu kekuatan untuk melengkapi pendekatan pembangunan pemerintah.

Menurutnya, pihaknya tidak hanya diisi oleh kalangan akademisi, tetapi juga terdapat aktivis, jurnalis, penggiat organisasi kemasyarakatan, serta berbagai elemen masyarakat lainnya.

Keragaman tersebut, kata dia, memungkinkan ICMI dan CIDES melihat persoalan pembangunan dari berbagai perspektif, tidak hanya dari sisi akademik atau teknokrasi.

Luhur menilai, kekuatan sumber daya yang beragam tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendukung sekaligus melengkapi berbagai pendekatan pembangunan yang telah dilakukan Pemerintah Kota Makassar.

Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, aktivis, jurnalis, dan organisasi kemasyarakatan dinilai penting untuk memastikan kebijakan tidak berhenti pada perencanaan, tetapi dapat diterjemahkan menjadi program yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

Pada kesempatan tersebut, Ketua Dewan Pakar CIDES ICMI Orwil Sulsel, Prof. Dr. Abd. Hamid Paddu, juga menyampaikan kesiapan CIDES menjadi mitra strategis Pemkot Makassar dalam memperkuat kebijakan berbasis data.

CIDES menawarkan pendekatan evidence-based policy dengan melakukan kajian sebelum kebijakan disusun dan mengukur kembali dampaknya setelah kebijakan dijalankan.

Prof. Hamid menyebut, selain kajian mengenai kemiskinan dan ketimpangan, dampak APBD, serta kesesuaian pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja, pihaknya juga siap mendukung berbagai agenda pembangunan kota yang menjadi perhatian Pemerintah Kota Makassar.

Munafri Arifuddin, kata Prof. Hamid, memberikan perhatian terhadap sejumlah agenda strategis, mulai dari penataan kawasan, relokasi, pengelolaan sampah, pengembangan urban farming, hingga pembangunan stadion.

Menurutnya, berbagai agenda tersebut membutuhkan dukungan masyarakat agar pelaksanaannya berjalan optimal.

Karena itu, CIDES memandang akademisi bukan hanya sebagai pengamat, tetapi juga sebagai mitra pemerintah dalam menyediakan kajian dan rekomendasi kebijakan.

“Kehadiran CIDES adalah untuk menjadi mitra pembangunan daerah yang dijalankan oleh Kota Makassar,” ungkapnya.

Dia menilai, CIDES memiliki modal jaringan akademisi dan peneliti dari berbagai perguruan tinggi yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan Pemerintah Kota Makassar.

“CIDES memiliki jaringan universitas, akademisi dan peneliti. Ada banyak akademisi muda yang relatif banyak dan bisa dimanfaatkan untuk melakukan apa yang diharapkan Pak Wali,” terangnya.

Untuk tahap awal, CIDES menargetkan dapat mulai bekerja dalam 100 hari pertama melalui kajian, penelitian, dan penyusunan policy brief.

Prof. Hamid menyebut, pihaknya membutuhkan akses terhadap data serta jalur koordinasi dengan perangkat daerah terkait agar kajian dapat dilakukan secara konkret.

“Paling tidak untuk 100 hari pertama ada tiga isu yang bisa kita support. Kita membutuhkan jalur ke focal point, seperti Bappeda atau Bapenda, sehingga akses informasi dan data bisa dibuka,” ujarnya.

Luhur menilai, kolaborasi tersebut dapat menjadi ruang untuk menghubungkan kapasitas akademik dengan kebutuhan pembangunan di lapangan.

Menurutnya, data dan kepakaran menjadi dasar penting dalam menyusun kebijakan, sementara pendekatan sosial dibutuhkan agar kebijakan dapat diterima dan dilaksanakan masyarakat.

Dengan sumber daya yang beragam, CIDES ICMI Sulsel siap mengambil bagian dalam memperkuat pembangunan Kota Makassar melalui riset, kajian, inovasi, serta pendekatan sosial yang melibatkan berbagai elemen masyarakat.

Luhur berharap sinergi tersebut dapat menghasilkan kebijakan yang tidak hanya kuat dari sisi data dan kepakaran, tetapi juga memiliki penerimaan sosial yang baik di tengah masyarakat.

“Dengan sumber daya yang majemuk seperti itu, kita bisa menjadi kekuatan yang mendorong dan melengkapi pendekatan pembangunan yang telah dilakukan Pemerintah Kota selama ini,” pungkasnya.

Dalam audiensi tersebut, turut hadir Ketua ICMI Orwil Sulsel, Prof. Arismunandar, M.Pd.; Ketua CIDES ICMI Orwil Sulsel, Dr. Adi Suryadi Culla; Ketua Dewan Pakar CIDES ICMI Orwil Sulsel, Prof. Dr. Abd. Hamid Paddu; serta Wakil Ketua ICMI Sulsel, Dr. Ir. Tahir Burhan.

Hadir pula Wakil Sekretaris CIDES ICMI Orwil Sulsel, Hasdar, serta pengurus CIDES ICMI Orwil Sulsel, AS. Kambie, Kamaruddin Azis, dan Andi Sri Wulandani. (*)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
M Sardjito Diusulkan Jadi Calon Kepala Bursa Mineral dan Komoditas Strategis
• 10 jam lalu
0
thumb
Pelukan Nenek Katarina Lindungi Cucunya dari Runtuhan Tembok saat Gempa NTT
• 17 jam lalu
0
thumb
SMEP Panakkukang, Melinda Aksa Evaluasi Program PKK
• 3 jam lalu
0
thumb
Buntut Kasus di Bangka Belitung, Pemerintah Siap Sokong Harga Beli Timah Rakyat
• 5 jam lalu
0
thumb
Ratusan Mahasiswa UI Gelar Aksi di Bundaran HI, Bawa Tuntutan Soal Ekonomi hingga Ruang Sipil
• 7 jam lalu
0
Berhasil disimpan.