REPUBLIKA.CO.ID, Sebagai salah satu peserta yang berkesempatan hadir langsung dalam Majelis Ijazah Dalailul Khairat Angkatan ke-21, saya merasa tergetar sekaligus menaruh rasa hormat yang sangat mendalam. Pengalaman spiritual ini seketika membongkar dua stereotip "paten" yang selama ini membelenggu benak publik: bahwa sosok kritis-progresif selalu jauh dari amalan tirakat, dan bahwa pengamal tirakat selalu identik dengan keterasingan zaman serta kehidupan serba papa.
Di hadapan KH Imam Jazuli, dogmatisme itu runtuh secara amat elegan. Beliau menghadirkan artikulasi spiritualitas yang tidak hanya menyentuh relung kalbu, tetapi juga membanggakan secara intelektual. Amalan tirakat shiyam dan Kitab Dalailul Khairat—mahakarya shalawat Syekh Muhammad bin Sulaiman al-Jazuli abad ke-15—yang saya terima sanadnya, bukan sekadar lantunan teks ritual. Ia hadir sebagai benteng spiritual Nusantara yang diampu dengan cara yang luar biasa bermartabat.
Baca Juga
Situs Bongal Bikin Rontok Teori Orientalis Belanda, Islam Masuk Nusantara dari Arab Bukan India
Momen Fatimah Azzahra Ajari Polisi Fungsi Mobil Komando
PoinPoin Tuntutan BEM UI Minta Setop Jajah Rakyat
Kehadiran saya di tengah ribuan jamaah angkatan ke-21 membuktikan bahwa konservasi tradisi salaf di tangan KH Imam Jazuli tidak berhenti pada nostalgia pesantren, melainkan melesat menjadi sebuah gerakan ihya’ut turats yang segar, ilmiah, dan penuh keagungan.
Angka-angka menjadi saksi bisu dari gerakan ini. Hingga angkatan ke-21, lebih dari 60.000 pengamal yang tersebar dari berbagai kota dan wilayah telah mengikatkan sanad shalawat ini. Setiap angkatan menghimpun sekitar 3.000 jamaah dalam satu majelis pengijazahan yang masif.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Namun, hal paling memikat bukanlah jumlah pengamalnya, melainkan kemasan pendekatannya yang berani. Pengijazahan tidak digelar di lorong-lorong sempit, melainkan selalu di hotel berbintang terbaik di Cirebon. Ini bukan bentuk hedonisme, melainkan penegakan kemuliaan (izzah) bagi tradisi keilmuan Islam.
Sebelum kalimat ijazah diikrarkan, jamaah dibekali dengan riset akademis dan pemaparan mendalam. Tradisi dikaji secara ilmiah, dipadukan dengan kehadiran para pakar dan pendakwah ternama Tanah Air. Turats tidak lagi diajarkan secara dogmatis, melainkan melalui dialektika intelektual yang bernas.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Komentar (0)