Donald Trump Minta Iran Menyerah, Perundingan Damai Masih Buntu

medcom.id
5 jam lalu
Cover Berita

Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menaikkan tensi dengan Iran. Pada 17 Agustus, Trump mengatakan Iran belum mau menyepakati perjanjian yang menurutnya diperlukan untuk mengakhiri perang dan menegaskan bahwa Teheran seharusnya menyerah.

Trump menyampaikan pernyataan tersebut ketika ditanya wartawan di Ruang Oval mengenai perkembangan negosiasi AS-Iran. Menurutnya, posisi Iran masih belum sesuai dengan kesepakatan yang diinginkan Washington.

Baca juga: Donald Trump Masih Ngotot Ambil Uranium Iran dan Tolak Pungutan di Selat Hormuz

“Mereka tidak akan membuat kesepakatan seperti yang saya rasa perlu,” kata Trump dikutip dari The Strait Times.
 
Ia menegaskan  tujuan utama AS adalah memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir.

Saat ditanya apakah Washington sedang mempertimbangkan untuk memperpanjang kesepakatan sementara dengan Iran, Trump menjawab singkat, “tidak”.

Kesepakatan sementara yang dicapai pada Juni sebelumnya memuat komitmen untuk menghentikan operasi militer di semua lini secara segera dan permanen. Namun, kesepakatan tersebut kemudian runtuh. Trump menyebut kesepakatan itu berakhir pada 7 Juli, sedangkan Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan statusnya ditangguhkan.

Dalam nota kesepahaman atau MoU tersebut, AS dan Iran sebenarnya sepakat membuka jalan menuju perundingan final. Pembahasan tidak hanya menyangkut penghentian konflik, tetapi juga isu yang jauh lebih sensitif, termasuk masa depan program nuklir Iran.

MoU itu memberikan waktu maksimal 60 hari bagi kedua negara untuk merundingkan kesepakatan final. Periode tersebut bahkan dapat diperpanjang jika kedua pihak menyetujuinya. Namun, hingga 17 Agustus, atau tepat 60 hari sejak kesepakatan dibuat, belum ada terobosan berarti.

Beberapa jam sebelum pernyataan di Ruang Oval, Trump bahkan menggunakan bahasa yang lebih keras dalam wawancara melalui telepon dengan Fox News. Ia mengatakan Iran seharusnya “mengibarkan bendera putih” sebagai tanda menyerah.

Di tengah kebuntuan AS-Iran, situasi di Selat Hormuz juga menjadi perhatian besar. Oman dan Iran diketahui tengah melakukan pembicaraan untuk mencari jalan agar pelayaran komersial di jalur strategis tersebut bisa kembali berjalan.

Selat Hormuz bukan jalur laut biasa. Sebelum konflik AS-Israel dengan Iran meletus pada akhir Februari, sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair dunia melewati jalur tersebut. Karena itu, gangguan di Hormuz bisa langsung berdampak ke pasar energi global.

Trump bahkan mengeluarkan ancaman keras terhadap Oman jika negara tersebut dianggap menghambat upaya membuka kembali jalur pelayaran. Namun, ketika ditanya kembali mengenai sikapnya terhadap Oman, Trump mengatakan Washington masih bisa menangani situasi tersebut.

“Tidak,” jawab Trump ketika ditanya apakah kesabarannya terhadap Oman sudah habis. Ia kemudian menilai perilaku Oman memang tidak terlalu baik, tetapi menyebut AS bisa menangani persoalan tersebut dengan mudah.

Persoalan Selat Hormuz menjadi semakin sensitif karena dampaknya sudah terasa ke harga energi. Ketidakpastian mengenai jalur pelayaran tersebut mendorong kenaikan harga bahan bakar sekaligus menambah tekanan terhadap pemerintahan Trump untuk mengakhiri perang.

Situasi ini juga berlangsung menjelang pemilihan umum sela AS pada November. Pemilu tersebut akan menentukan partai mana yang menguasai Kongres. Meski demikian, Trump menegaskan bahwa dinamika politik domestik tidak memengaruhi strateginya menghadapi Iran.

“Pemilu sela tidak ada hubungannya dengan pemikiran saya,” kata Trump kepada Fox News.

Sementara itu, Trump kembali menegaskan posisi pemerintahannya melalui unggahan di Truth Social pada 17 Agustus. Ia menyebut tujuan utama AS sejak awal adalah memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir “dalam bentuk atau cara apa pun”.

Dengan negosiasi yang masih buntu dan ketegangan di sekitar Selat Hormuz yang belum mereda, konflik AS-Iran kini bukan hanya menjadi persoalan geopolitik. Perkembangannya juga berpotensi memengaruhi harga minyak, biaya energi, perdagangan global hingga kondisi ekonomi negara-negara yang bergantung pada pasokan energi melalui kawasan tersebut.


 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(SAW)

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
FULL! Arahan Karo Ops Polda Metro Jaya Jelang Aksi Demo Mahasiswa di WIlayah Jakarta
• 5 jam lalu
0
thumb
Menhut Sebut Kebakaran Bromo Sudah Padam, Bakal Dibuka Lagi 20 Agustus
• 7 menit lalu
0
thumb
Upacara Penurunan Bendera di Istana Selesai, Prabowo Membungkuk dan Cium Sang Merah Putih
• 22 jam lalu
0
thumb
MotoGP Indonesia 2026 Buka 2.500 Lowongan Relawan untuk Warga NTB, Ini Syarat dan Jadwalnya
• 10 jam lalu
0
thumb
Tinjau Lokasi Terparah di NTT, Mendagri Minta Pemda Percepat Pendataan Dampak Gempa
• 21 jam lalu
0
Berhasil disimpan.