Gempa bumi yang mengguncang Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus lalu mengakibatkan kerusakan infrastruktur yang masif. Salah satu dampak terparah dilaporkan terjadi di Ruteng, di mana bangunan RSUD Manggarai hancur dan tidak dapat berfungsi optimal.
Kerusakan di RSUD Manggarai meliputi ruang perawatan yang runtuh serta hancurnya berbagai peralatan medis akibat tertimpa puing bangunan. Kondisi ini memaksa pelayanan kesehatan dialihkan sementara ke tenda-tenda darurat.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa gempa tersebut dipicu oleh aktivitas sesar dorong belakang Flores (Flores Back-arc Thrust). Hingga kini, ribuan warga memilih tetap bertahan di posko pengungsian atau tidur di ruang terbuka karena trauma dan kekhawatiran akan adanya gempa susulan.
Seorang warga setempat, Ardo Ceha, menceritakan kengerian saat gempa terjadi sekitar pukul 05.40 WITA tersebut. Ia menyaksikan gedung-gedung besar, termasuk Gereja Katedral Ruteng, bergoyang hebat sementara banyak rumah warga di sekitarnya roboh.
“Terus saya lihat bangunan di sekitar itu banyak bangunan yang rubuh, baik rumah warga. Kondisi atau suasana batin kami sendiri dan warga saya lihat, itu pada trauma semua dengan situasi gempa ini karena jujur bagi saya ini gempa yang sangat luar biasa dalam seumur hidup,” ujar Ardo dalam tayangan Breaking News Metro TV, Selasa, 18 Agustus 2026.
Baca Juga :
Pemkab Manggarai Barat Distribusikan 36 Ton Beras untuk Korban Gempa NTT
Operasi penyelamatan dan pendataan kerugian terus dilakukan oleh otoritas terkait. Pemerintah fokus pada penyaluran logistik dan penanganan warga di lokasi pengungsian guna memastikan kebutuhan dasar mereka terpenuhi selama masa tanggap darurat.
Pada 15 Agustus 2026, gempa bumi berkekuatan awal bermagnitudo 7,0 dengan parameter pemutakhiran menjadi bermagnitudo 7,7 terjadi pada pukul 05.58 WITA . Episenter gempa berada pada koordinat 8,41 derajat Lintang Selatan dan 121,39 derajat Bujur Timur. Pusat gempa bumi tektonik itu terjadi di wilayah laut, sekitar 30 kilometer arah timur laut Nagekeo, NTT.
Berdasarkan pemberitaan sebelumnya, BMKG sempat menerbitkan peringatan dini tsunami sesaat usai terjadi gempa tektonik tersebut. Peringatan dini tsunami berakhir pada pukul 08.30 Wita setelah hasil observasi menunjukkan tidak ada lagi kenaikan muka air laut secara signifikan.
Hasil observasi tinggi muka laut mencatat kenaikan muka air laut di sejumlah wilayah. Ketinggian tertinggi yang tercatat dalam laporan BMKG mencapai 0,94 meter di Maurole, Ende, pada pukul 06.27 Wita. Kenaikan muka air laut juga tercatat di Pelabuhan Kewapante-Sikka 0,38 meter, Flores Timur 0,25 meter, Labuan Bajo 0,36 meter, Dompu 0,17 meter, Bakalang-Alor 0,14 meter, serta sejumlah wilayah lainnya.





Komentar (0)