HARIAN.FAJAR.CO.ID, PALOPO — Tim dosen Politeknik Dewantara melaksanakan Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) melalui pendampingan sistem pemasaran digital terintegrasi dan Standar Operasional Prosedur (SOP) layanan di Kursus Bahasa Inggris Merah Putih ILS.
Program bertajuk “Pendampingan Sistem Pemasaran Digital Terintegrasi dan SOP Layanan untuk Meningkatkan Penerimaan Siswa di Kursus Bahasa Inggris Merah Putih ILS” tersebut memperoleh pendanaan melalui Hibah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Tahun 2026.
Kegiatan diketuai Tenri Ampareng, S.Pd., M.Pd., dengan anggota tim Wafdah, S.Pd., M.Kom., dan Alviani, S.Pd., M.Pd. Program tersebut turut melibatkan mahasiswa Politeknik Dewantara sebagai bagian dari implementasi pembelajaran berbasis pengabdian kepada masyarakat.
Pendampingan dilakukan untuk membantu Kursus Bahasa Inggris Merah Putih ILS menghadapi tantangan promosi lembaga pendidikan di era digital. Selain itu, program diarahkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada calon siswa dan orang tua.
Selama ini, pemasaran melalui media digital dan proses penerimaan siswa membutuhkan sistem yang lebih terencana, terintegrasi, serta dapat diterapkan secara konsisten oleh seluruh pengelola lembaga.
Ketua tim pelaksana, Tenri Ampareng, mengatakan pemasaran digital tidak cukup hanya dilakukan dengan mengunggah konten di media sosial.
Menurutnya, lembaga pendidikan perlu memiliki strategi yang jelas, mulai dari mengenali sasaran calon siswa, menyusun perencanaan konten, menyampaikan informasi program secara menarik, merespons pertanyaan calon siswa, hingga melakukan tindak lanjut kepada masyarakat yang menunjukkan minat.
“Pendampingan ini diarahkan agar mitra tidak hanya mampu melakukan promosi secara digital, tetapi juga memiliki sistem pelayanan yang cepat, ramah, konsisten, dan profesional. Promosi yang baik harus didukung oleh pelayanan yang baik agar dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat,” jelas Tenri.
Program PkM tersebut mencakup penyusunan panduan operasional sistem pemasaran digital, pengelolaan media sosial, perencanaan konten promosi, serta penyusunan SOP layanan penerimaan siswa.
SOP yang disusun mengatur sejumlah tahapan pelayanan. Mulai pemberian informasi, konsultasi program, proses pendaftaran, pembayaran, penempatan kelas, hingga tindak lanjut terhadap calon siswa.
Tidak hanya menyusun dokumen, tim pelaksana juga memberikan pelatihan kepada pengelola dan pihak Merah Putih ILS.
Materi pelatihan meliputi implementasi SOP, manajemen pelayanan, strategi pemasaran digital, hingga pengelolaan media sosial.
Melalui pelatihan tersebut, pengelola diharapkan mampu menjalankan sistem pemasaran dan pelayanan secara mandiri setelah program pendampingan berakhir.
Keterlibatan mahasiswa juga menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Mahasiswa diberikan kesempatan menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama perkuliahan secara langsung di tengah masyarakat.
Mahasiswa turut terlibat dalam identifikasi kebutuhan mitra, penyusunan materi promosi, pendampingan pengelolaan media sosial, dokumentasi kegiatan, hingga evaluasi pelaksanaan program.
Tim berharap kegiatan tersebut menghasilkan sistem pemasaran digital yang lebih terarah, SOP pelayanan yang mudah diterapkan, serta peningkatan kapasitas pengelola Kursus Bahasa Inggris Merah Putih ILS.
Dengan sistem tersebut, jangkauan informasi mengenai program kursus diharapkan semakin luas dan mampu menjangkau lebih banyak calon siswa.
Program ini sekaligus menjadi bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam membantu lembaga pendidikan nonformal meningkatkan tata kelola, kualitas pelayanan, dan daya saing.
Dukungan pendanaan Kemendiktisaintek melalui hibah PkM Tahun 2026 menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program tersebut.
Integrasi antara pemasaran digital dan pelayanan yang profesional diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan penerimaan siswa di Kursus Bahasa Inggris Merah Putih ILS.
Pada akhirnya, penguatan promosi digital tanpa dibarengi pelayanan yang baik hanya akan membuat calon siswa datang untuk bertanya lalu menghilang. Program pendampingan ini diarahkan agar proses tersebut berubah menjadi sistem yang terukur, konsisten, dan mampu mendukung keberlanjutan lembaga. (nas/adv)






Komentar (0)