Asing Gencar Borong Saham TINS, Simak Prospek dan Targetnya

idxchannel.com
5 jam lalu
Cover Berita

Saham PT Timah Tbk (TINS) menjadi salah satu saham yang paling agresif diborong investor asing dalam beberapa bulan terakhir.

Asing Gencar Borong Saham TINS, Simak Prospek dan Targetnya. (Foto: PT Timah)

IDXChannel - Saham PT Timah Tbk (TINS) menjadi salah satu yang paling agresif diborong investor asing dalam beberapa bulan terakhir.

Tren akumulasi tersebut sejalan dengan prospek bisnis yang dinilai masih solid di tengah ketatnya pasokan timah global.

Baca Juga:
IHSG Dibuka Menguat ke 6.448, JARR-AGAR Pimpin Top Gainers

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (18/8/2026) pukul 09.28 WIB, saham TINS diperdagangkan di level Rp3.910 per saham.

Harga tersebut telah menguat 9,52 persen dalam sebulan terakhir dan melonjak 25,72 persen secara year to date (YtD).

Baca Juga:
Bursa Asia Melemah, Ketegangan AS-Iran Tekan Sentimen

Dari sisi aliran dana, TINS menjadi saham yang paling banyak diborong investor asing dalam satu bulan terakhir, dengan nilai pembelian bersih mencapai Rp977,72 miliar di pasar reguler.

Dalam periode tiga bulan, TINS juga menjadi saham yang paling banyak diburu asing dengan nilai net buy mencapai Rp1,50 triliun.

Penguatan saham dan derasnya akumulasi asing tersebut turut didukung oleh prospek harga timah yang dinilai masih positif.

Dalam riset bertanggal 5 Agustus 2026, analis BCA Sekuritas Hernanda Cahyo mempertahankan rekomendasi beli untuk TINS dengan target harga Rp5.500 per saham.

Dengan harga TINS di Rp3.910, target tersebut mencerminkan potensi kenaikan sekitar 40,7 persen.

Sementara, BRI Danareksa Sekuritas, pada Selasa (18/8), juga mempertahankan rekomendasi beli untuk saham TINS dan menaikkan target harga menjadi Rp4.800 per saham. Target tersebut menggunakan valuasi 8 kali price to earnings (P/E) untuk proyeksi tahun buku 2026, atau sekitar 1 standar deviasi di atas rata-rata valuasi tiga tahun.

Analis BRI Danareksa menilai prospek TINS ditopang oleh pemulihan operasional yang kuat dan harga jual timah yang tetap tinggi.

Kombinasi tersebut dinilai mampu menghasilkan kinerja laba yang berpotensi melampaui ekspektasi, meski asumsi volume produksi dibuat lebih konservatif.

Harga Timah Masih Jadi Penopang

BCA Sekuritas menilai harga timah berpotensi tetap tinggi hingga 2026 seiring persediaan global yang terus mengetat.

Persediaan timah di London Metal Exchange (LME) Asia telah turun menjadi sekitar 5,6 ribu ton dari puncaknya 8,3 ribu ton. Secara global, persediaan juga turun menjadi sekitar 6 ribu ton dari sebelumnya 9 ribu ton.

Kondisi tersebut mencerminkan penarikan persediaan yang berkelanjutan di tengah konsumsi yang lebih kuat. BCA Sekuritas memperkirakan pasokan timah global hanya tumbuh sekitar 3 persen pada 2026, sementara permintaan diproyeksikan meningkat sekitar 3,5 persen.

Defisit pasokan juga telah terlihat pada paruh pertama 2026. Pasar timah global mencatat defisit sekitar 5,7 ribu ton atau setara dengan 3,3 persen dari permintaan. BCA Sekuritas memperkirakan defisit tersebut berlanjut sepanjang 2026 hingga mencapai sekitar 8,1 ribu ton.

Dengan pertumbuhan permintaan yang terus melampaui pasokan inkremental, harga timah diperkirakan tetap berada di atas USD50.000 per ton sepanjang tahun dan menjadi katalis positif bagi kinerja TINS.

Volume Penjualan Mulai Pulih

Selain harga, prospek TINS juga ditopang oleh pemulihan volume penjualan. Ekspor timah Indonesia pada Juni 2026 tercatat mencapai 3,2 ribu ton, meningkat dari 2,5 ribu ton pada Mei 2026.

Pemulihan volume tersebut membuat BCA Sekuritas menilai TINS berada pada posisi yang baik untuk menikmati harga timah yang tinggi, sekaligus tetap menjaga disiplin biaya.

BCA Sekuritas memperkirakan cash cost TINS berada di bawah USD25.000 per ton. Dengan asumsi harga timah sekitar USD50.000 per ton, perusahaan dinilai memiliki ruang margin yang kuat.

Di sisi lain, biaya bahan baku disebut masih berada di bawah 40 persen dari pendapatan. Stabilnya harga bahan bakar di kisaran Rp13.000-Rp17.000 per liter juga membantu menjaga struktur biaya perusahaan.

Prospek margin TINS turut diperkuat oleh perubahan kebijakan royalti. Implementasi rencana kenaikan tarif royalti dari 10 persen menjadi 20 persen dinilai menghapus potensi beban sekitar Rp1,5 triliun terhadap laba.

Hal ini mendukung ekspektasi BCA Sekuritas bahwa margin bersih TINS dapat bertahan di atas 20 persen.

Laba TINS Diproyeksi Melonjak

Dengan kondisi harga dan margin yang lebih kuat, BCA Sekuritas menaikkan proyeksi kinerja TINS.

Pendapatan 2026 diproyeksikan mencapai Rp21,9 triliun, naik 5,5 persen dari proyeksi sebelumnya dan tumbuh 89,8 persen secara tahunan.

Untuk 2027, pendapatan diperkirakan mencapai Rp27,7 triliun, naik 3,7 persen dari proyeksi sebelumnya dan tumbuh 26,3 persen secara tahunan.

Lebih agresif lagi, proyeksi laba bersih TINS 2026 dinaikkan menjadi Rp4,9 triliun, melonjak 120,3 persen dari proyeksi sebelumnya dan 55,8 persen secara tahunan. Laba bersih 2027 juga diperkirakan mencapai Rp4,9 triliun.

BCA Sekuritas pun mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp5.500 per saham. Valuasi tersebut setara dengan sekitar 8,2 kali price to earnings (P/E) FY27.

Meski demikian, sejumlah risiko tetap perlu diperhatikan, terutama apabila pemulihan volume penjualan berjalan lebih lambat, harga timah terkoreksi, biaya meningkat, atau terdapat perubahan kebijakan royalti di sektor pertambangan logam. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Prabowo Direncanakan Hadiri Karnaval HUT Ke-81 RI Sore Ini
• 21 jam lalu
0
thumb
Tak Harus Beli Flagship, Ini Alasan HP AMOLED 120Hz Kelas Menengah Makin Menarik
• 9 jam lalu
0
thumb
Kapal Speedboat Bawa Pekerja Migran Tenggelam di Dumai, 2 Orang Tewas 1 Hilang
• 15 jam lalu
0
thumb
Pangkalan PO Sirnajaya Cikarang Terbakar, 50 Bus Hangus
• 1 jam lalu
0
thumb
Kemenkes Gerak Cepat Pulihkan Layanan Kesehatan di Wilayah Terdampak Gempa NTT
• 18 jam lalu
0
Berhasil disimpan.