REPUBLIKA.CO.ID,TEL AVIV — Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, memicu kecaman internasional setelah menyerukan pembunuhan massal di Jalur Gaza. Dalam sebuah podcast yang dipublikasikan akhir pekan lalu, menteri berpaham ekstremis tersebut mendesak agar Israel membunuh "30 hingga 40 orang" warga Palestina setiap malam melalui operasi pembunuhan berencana (targeted assassination).
Saat membahas respons Israel terhadap serangan 7 Oktober 2023 dan kebijakan terkini Tel Aviv yang mengurangi intensitas serangan di wilayah Palestina yang hancur tersebut, Ben-Gvir terang-terangan menyatakan ketidaksetujuannya dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Baca Juga
Hidup di Dunia Hanya Sementara, Ini Pesan Nabi Muhammad
81 Tahun Indonesia Merdeka, HMI Merauke Harap Keadilan di Papua Jadi Wajah Nyata Indonesia
Jejak Abbasiyah di Tapanuli: Temuan Koin Dirham dan Korespondensi Sriwijaya dengan Khalifah Muawiyah
"Bukan rahasia lagi, saya tidak sependapat dengan perdana menteri... Saya menilai pembunuhan berencana harus terus dilakukan di Gaza, menghabisi 30 hingga 40 orang setiap malamnya,"ujar menteri sayap kanan tersebut.
Dilansir dari CBS News, Ben-Gvir dikenal sebagai pengikut Kahanisme, sebuah gerakan ekstremis yang mengusung etnonasionalisme kekerasan. Gerakan ini mendesak pengusiran warga Palestina dari Gaza dan Tepi Barat.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Ben Gvir pertama kali mencuri perhatian publik pada 1995 ketika mencuri lambang mobil Cadillac milik Perdana Menteri Israel saat itu, Yitzhak Rabin.
Beberapa pekan setelah Ben-Gvir memamerkan lambang tersebut di depan kamera televisi, Rabin tewas dibunuh oleh seorang nasionalis ekstrem kanan Yahudi.
Politikus sayap kanan Israel Itamar ben Gvir menerobos Kompleks Masjid al-Aqsa, Kamis (14/5/2026). - (WAFA)
Komentar (0)