Harga Minyak Mentah Naik 2,65 Persen, Pasar Khawatir Trump Ancam Serang Oman

kumparan.com
7 jam lalu
Cover Berita

Harga minyak mentah global naik lebih dari USD 2 per barel pada perdagangan Senin (17/8). Pendorongnya adalah kekhawatiran pasar terhadap pasokan global setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mendesak Iran untuk menyerah, dan mengancam menyerang Oman jika menghalangi hal tersebut.

Dikutip dari Reuters, minyak mentah Brent berjangka ditutup naik USD 2,35 atau 2,65 persen menjadi USD 90,87 per barel. Sementara minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) naik USD 2,10 atau 2,55 persen menjadi USD 84,50 per barel.

Trump mengatakan AS tidak sedang mencari perpanjangan nota kesepahaman dengan Iran. Dia juga menilai Iran tidak akan membuat kesepakatan sesuai dengan yang dibutuhkan AS.

“Iran harus mengibarkan bendera putih tanda menyerah,” kata Trump dikutip dari Reuters, Selasa (18/8).

Trump juga mengancam Oman yang terlibat dalam upaya diplomatik antara AS dan Iran. “Jika Oman menghalangi, kami akan menghancurkan mereka,” ujar Trump.

Sementara seorang pejabat senior Iran mengatakan Teheran akan meningkatkan ketegangan di Selat Hormuz dan wilayah sekitarnya. Iran juga akan melancarkan serangan jika AS gagal menerapkan kesepakatan perdamaian sementara secara penuh dalam beberapa pekan.

Meski demikian, harga minyak diperkirakan belum akan naik signifikan kecuali terjadi penghentian arus minyak mentah yang saat ini masih keluar melalui Selat Hormuz pada malam hari dan atau penutupan Selat Bab el-Mandeb.

Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan Trump memiliki ruang untuk menunggu Iran tertekan akibat sanksi ekonomi dan embargo minyak.

“Saya pikir dia punya. Presiden sedang memainkan permainan jangka panjang. Iran tidak bisa mengekspor minyak sekarang. Itu bagian dari pencekikan ekonomi kami. Tetapi dunia tidak membutuhkan minyak Iran,” ujarnya.

Pada akhir pekan, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan Iran belum memutuskan untuk kembali melakukan pembicaraan dengan AS. Sementara Trump meminta masyarakat AS menerima harga bensin yang lebih tinggi selama konflik berlangsung.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan pembicaraan dengan Oman mengenai kesepakatan untuk mengelola Selat Hormuz masih berlangsung. Namun, proses tersebut membutuhkan waktu karena kompleksitas persoalan, keterlibatan banyak pihak, serta adanya negara-negara yang berupaya menggagalkan proses tersebut.

Analis pasar dari platform perdagangan Naga.com Frank Walbaum mengatakan aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz masih terbatas dan negosiasi telah menemui jalan buntu. Kedua kondisi tersebut membatasi potensi penurunan harga minyak lebih lanjut.

“Tanpa adanya katalis baru, harga minyak bisa terus berkonsolidasi di sekitar level saat ini,” kata Walbaum.

Data pelacakan kapal menunjukkan aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz melambat pada akhir pekan. Hanya lima kapal komoditas yang melintasi selat tersebut pada Sabtu, sementara tidak ada kapal yang tercatat melintas pada Minggu. Jumlah tersebut turun jauh dibandingkan 31 kapal pada akhir pekan sebelumnya, berdasarkan data pelacakan kapal Kpler.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
DPRD Jember Tolak Penggusuran Warga untuk Gerai KDMP Jatimulyo
• 22 jam lalu
0
thumb
KDM Kaget Temukan Sampah tak Dibersihkan Selama 32 Tahun di Bandung
• 18 jam lalu
0
thumb
Donggi Senoro Targetkan Produksi LNG 41 Jargo di 2026, 15 untuk Domestik
• 2 jam lalu
0
thumb
Bocah 8 Tahun di Kukar Hilang Terseret Arus Sungai Belayan, Ditemukan Meninggal
• 12 jam lalu
0
thumb
PDIP Kirim Kader Bantu Bencana NTT, Siapkan Kapal Laksamana Malahayati
• 14 jam lalu
0
Berhasil disimpan.