Generasi Sandwich dan Self-Reward: Bolehkah Menikmati Gaji?

kompas.com
7 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Ada tagihan yang harus dibayar. Ada kebutuhan anak yang tak bisa ditunda. Ada orangtua yang masih perlu dibantu. Ada pula keluarga lain yang sewaktu-waktu membutuhkan uluran tangan.

Bagi generasi sandwich, penghasilan setiap bulan seolah sudah memiliki tujuan bahkan sebelum masuk ke rekening.

Sebagian untuk kebutuhan rumah tangga, sebagian untuk pendidikan anak, dan sebagian untuk membantu orangtua atau saudara. Setelah semuanya dihitung, ruang untuk diri sendiri sering kali tinggal sedikit.

Namun, di sela-sela himpitan tanggung jawab itu, tetap ada keinginan sederhana untuk menikmati hidup. Secangkir kopi, makanan manis, atau sekadar pergi ke tempat yang membuat pikiran lebih tenang.

Bukan tentang kemewahan. Bagi sebagian orang, pengeluaran kecil itu menjadi cara untuk mengambil napas sebelum kembali menjalani rutinitas.

Baca juga: Wajah Lipstick Effect di Indonesia, Ketika Kepuasan Sesaat Lebih Diminati

Kondisi tersebut dirasakan Rafni (30), seorang generasi sandwich yang menjadi tulang punggung keluarga.

Di tengah berbagai tanggung jawab finansial, Rafni tetap berusaha menyediakan ruang untuk dirinya sendiri dengan mengalokasikan anggaran khusus setiap bulan.

"Jadi aku udah punya hitungan sendiri untuk membaginya. Khususnya untuk healing, aku selalu menyisihkan Rp 500.000 dari gaji aku," jelas dia saat diwawancarai Kompas.com, Jumat (31/8/2026).

Menurut Rafni, healing tidak harus dilakukan dengan mengeluarkan banyak uang.

Ia lebih memilih aktivitas sederhana, seperti berkemah sambil menikmati kopi dan membaca buku, atau membeli makanan manis yang menurutnya dapat memperbaiki suasana hati.

"Biasanya bentuk kompensasi yang aku keluarkan itu dalam bentuk makanan, terutama makanan manis karena itu ngebuat mood aku balik lagi," ujarnya.

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Kompas.com (@kompascom)

Namun, kondisi keuangan Rafni sempat terpukul setelah tabungan yang dikumpulkannya selama bertahun-tahun habis untuk melunasi utang bank peninggalan almarhum ayahnya.

Setelah itu, ia harus kembali menabung dari awal. Sebagian tabungannya kemudian kembali terpakai untuk biaya pindah rumah.

Meski demikian, Rafni tidak merasa bersalah ketika menggunakan uang untuk kebutuhan pribadi selama pengeluaran tersebut berasal dari anggaran yang memang telah disiapkan.

"Aku ngerasa memang aku butuh itu dan aku juga sudah menyisihkan uang aku memang untuk healing. Jadi tidak boleh lebih dari nominal yang aku sisihkan, cumanya boleh kurang dari nominal itu," tuturnya.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Baca juga: Gaji Gen Z dan Self-Reward: Menikmati Hidup, Healing, atau Menabung


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Generasi Sandwich dan Self-Reward: Bolehkah Menikmati Gaji?
• 7 jam lalu
0
thumb
Fadjar Donny Eks Direktur Bea Cukai Jalani Sidang Perdana Kasus Dugaan Korupsi Ekspor CPO
• 3 jam lalu
0
thumb
Menteri HAM Pigai Minta Advokasi Masyarakat di Daerah Konflik di Papua Diperkuat
• 9 jam lalu
0
thumb
PADA Kantongi Pinjaman Rp5 Miliar Garap Proyek Fiber Optik
• 3 jam lalu
0
thumb
Israel kembali serang sejumlah wilayah di Lebanon selatan
• 1 jam lalu
0
Berhasil disimpan.