Podium MI: Belajar Merdeka

metrotvnews.com
6 jam lalu
Cover Berita

DELAPAN puluh satu tahun merdeka. Umur Republik sudah kepala delapan, tetapi agaknya kita masih saja harus belajar menjadi orang merdeka. Seperti anak sekolah yang setiap tahun naik kelas, tetapi entah mengapa pelajarannya selalu itu-itu juga. Pelajaran itu ialah bagaimana tidak takut, bagaimana tidak minder, bagaimana tidak gampang marah.

Ada orang yang merasa belum merdeka. Hidupnya penuh belenggu. Takut kepada atasan, takut kepada tetangga, takut kehilangan jabatan, takut kehilangan pekerjaan. Ada pula yang lebih aneh, sudah merdeka, tetapi masih mencari-cari siapa yang harus ditakuti.

Baca Juga :

Menengok Omzet Pedagang Pernak Pernik HUT RI
Lalu datang media sosial. Wah, di sini kemerdekaan rupanya mendapat lapangan bermain yang luas sekali. Orang bebas bicara. Bebas mencaci. Bebas mengumpat. Bebas menuduh. Bahkan bebas keliru.

Yang terakhir itu paling mengherankan. Dulu orang berjuang agar bisa bicara. Sekarang setelah bisa bicara, sebagian orang tidak merasa perlu berpikir lebih dulu.

Merdeka rupanya disalahpahami sebagai bebas mengeluarkan apa saja dari mulut dan jempol. Pengetahuan tidak perlu. Argumentasi boleh absen. Bukti bisa menyusul, kalau memang perlu. Yang penting umpatan keluar dahulu. Seolah-olah volume suara ialah ukuran kebenaran.

Padahal, orang merdeka mestinya bukan orang yang paling keras berteriak. Ia justru orang yang sanggup menggunakan kebebasannya dengan akal sehat. Persis seperti kata Albert Camus yang menegaskan bahwa kebebasan tidak boleh berubah menjadi kesewenang-wenangan. “Absolute freedom mocks at justice. Absolute justice denies freedom,” kata Camus. Kebebasan mutlak mencemooh keadilan. Keadilan mutlak menyangkal kebebasan.

Kemerdekaan membutuhkan keseimbangan dengan keadilan. Kalau kebebasan seseorang tidak mengenal batas sama sekali, kebebasan itu dapat berubah menjadi penindasan terhadap orang lain. Coba kita bertanya kepada Bung Karno, Bung Hatta, Sjahrir, M Natsir, Tan Malaka, dan para pejuang lain. Apakah mereka berjuang puluhan tahun hanya supaya kelak kita bebas mengumpat sesuka hati?

Rasanya tidak. Mereka menginginkan kemerdekaan yang memungkinkan manusia Indonesia berdiri tegak sebagai manusia. Itulah manusia yang berpikir sendiri, menentukan nasib sendiri, dan bertanggung jawab atas pilihannya sendiri.

Karena itu, kemerdekaan memang agaknya bukan pelajaran sekali tamat. Ia harus dipelajari terus-menerus. Barangkali, sepanjang abad. Membebaskan bangsa dari penjajahan ternyata lebih mudah daripada membebaskan kepala dari ketakutan, kebodohan, prasangka, dan kebiasaan ikut-ikutan.

Kita sudah merdeka dari penjajahan. Namun, apakah kita sudah merdeka dari rasa takut? Kita sudah bebas berbicara. Akan tetapi, apakah kita sudah merdeka dari kebencian? Kita sudah bebas berpendapat. Namun, apakah kita sudah merdeka dari kemalasan mencari pengetahuan?

Kalau jawabannya belum, jangan buru-buru malu. Belajar merdeka memang rupanya pekerjaan seumur hidup. Kata ahli psikologi sosial Erich Fromm, bebas dari belenggu belum tentu berarti merdeka.

Karena itu, kita perlu belajar merdeka. Dalam Escape from Freedom, Fromm mengembangkan gagasan bahwa manusia kadang justru takut terhadap kebebasan. Manusia dapat melarikan diri dari kebebasan karena kebebasan membawa tanggung jawab.


Kemeriahan masyarakat dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, pada Senin, 17 Agustus 2026 Foto: BPMI Setpres/Laily Rachev.

Sebab itulah, seseorang bisa lebih nyaman menyerahkan keputusan kepada penguasa, kelompok, ideologi, atau kerumunan. Kita bisa sudah merdeka secara politik, tetapi masih takut menggunakan kemerdekaan itu.

Dalam konteks sekarang, orang bahkan dapat memilih untuk mengikuti suara mayoritas di media sosial daripada berpikir sendiri. Dengan demikian, mengeja kemerdekaan barangkali pekerjaan sepanjang hayat.

Barangkali itulah sebabnya setiap 17 Agustus kita masih harus mengibarkan bendera. Bukan hanya untuk mengenang mereka yang telah memerdekakan negeri ini, melainkan juga untuk mengingatkan diri sendiri agar jangan sampai Indonesia sudah merdeka, tetapi kita belum. Sudah, tapi belum. Seolah sudah merdeka, tapi nyatanya belum.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
518 Warga Binaan Lapas Kediri Terima Remisi HUT Ke-81 RI, 12 Langsung Bebas
• 9 jam lalu
0
thumb
Kerahkan Bantuan Darurat, Pertamina Peduli Ulurkan Logistik untuk Ratusan Warga Maumere yang Terdampak Gempa NTT
• 16 jam lalu
0
thumb
Underinvoicing dan Pencucian Uang dalam Wajah Kejahatan Korporasi Modern
• 1 jam lalu
0
thumb
PNM Perluas Pembiayaan dan Pendampingan agar Pengusaha Ultra Mikro Ikut Tumbuhkan Ekonomi Indonesia
• 6 jam lalu
0
thumb
Viral Lansia Dibanting Setelah Elus Kepala Anak Kecil, Ternyata Pemilik Kedai Mi
• 5 jam lalu
0
Berhasil disimpan.