SERASAN, KOMPAS.com - Windri adalah Pak Guru yang sudah satu dekade mengajar di kepulauan terdepan Indonesia ini. Dia bersemangat mendidik generasi muda Natuna.
Windri, seorang guru Kimia di SMA Negeri 1 Serasan, Kabupaten Natuna menceritakan kisahnya mengajar yang harus berpindah-pindah pulau demi memastikan anak-anak di pelosok mendapatkan pendidikan yang layak.
Pria berusia 35 tahun ini berstatus Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), kini mengajar mata pelajaran Kimia di SMA Negeri 1 Serasan, Kabupaten Kepulauan Natuna, Kepulauan Riau.
Profesi yang dia cita-citakan sejak kecil ini sudah dia jalankan sejak 10 tahun lalu.
"Tahun 2017 saya di SMA Timur, setelah itu PPPK-nya di SMA Serasan. Antara Serasan ke Subi itu ada pulau lagi, yaitu kecamatan baru, (namanya) Pulau Panjang," kenang Windri kepada Kompas.com, Senin (17/8/2026).
Baca juga: Mental Baja Bidan Natuna Arungi Lautan Pakai Pompong ke Kalimantan
Subi yang dimaksud Windri adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Natuna, letaknya ada di seberang barat laut dari Pulau Serasan ini.
Adapun Pulau Panjang adalah pulau tempat Windri berasal, yakni berada di antara Pulau Serasan dan Pulau Subi di Kepulauan Natuna ini.
Bagi Windri, tantangan geografis tidak jadi halangan. Ia mengaku tetap semangat karena menjadi guru adalah cita-citanya sejak kecil.
Soal gaji, dia enggan berterus terang. Dia hanya menjawab "alhamdulillah" ketika Kompas.com bertanya soal gaji.
Meski memiliki semangat tinggi, Windri tidak menampik adanya tantangan nyata bagi tenaga pendidik di wilayah kepulauan, terutama terkait pengembangan kompetensi.
Baca juga: Berduyun-duyun Warga Serasan di Pulau Terdepan Menyambut HUT RI Ke-81
Pelatihan guru menyeberang pulauDia sangat berharap adanya pelatihan guru yang dilakukan secara tatap muka langsung di wilayah mereka, bukan sekadar melalui pertemuan daring.
"Untuk mengikuti pelatihan itu kami harus menyeberang pulau. Kalau biaya terbatas, kami tidak bisa ikut,” kata dia.
Teknologi informasi dan komunikasi membantunya mengakses pelatihan dari pulau terdepan ini, namun menurutnya itu tidak bisa mengganti kehadiran langsung dalam pelatihan kompetensi.
“Selama ini lewat Zoom, tapi ada keterbatasan ilmu yang didapatkan, tidak seefektif tatap muka langsung. Untuk pelatihan pendidikan, kami masih merasa kurang. Itu tantangannya," ungkap Windri.
Ia berharap pemerintah lebih sering terjun ke lapangan untuk memberikan pelatihan teknis, termasuk mendatangkan pakar wicara publik (public speaking) untuk membantu guru dalam mengontrol dan berkomunikasi dengan siswa di kelas.






Komentar (0)