Kaddo Minyak, Kuliner Tradisional yang Sarat Makna

celebesmedia.id
2 jam lalu
Cover Berita

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Di antara kekayaan kuliner Sulawesi Selatan, Kaddo Minyak menempati tempat yang istimewa. Hidangan berbahan beras ketan ini tidak hanya menawarkan cita rasa gurih, tetapi juga menyimpan jejak panjang tradisi masyarakat Bugis-Makassar.

Ketan dimasak bersama bumbu dan santan hingga menghasilkan tekstur pulen dengan warna kuning yang umumnya berasal dari kunyit.

Dalam penyajian tertentu, ketan dibentuk menyerupai gunungan lalu dilengkapi lauk, termasuk ayam kampung dan telur rebus.

Kaddo Minyak tercatat sebagai salah satu makanan tradisional etnis Makassar dalam penelitian yang terhimpun di Garuda Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Keberadaannya juga tidak terlepas dari berbagai hajatan dan ritual yang berkembang di tengah masyarakat.

Bentuk gunungan pada Kaddo Minyak memiliki makna tersendiri. Sementara tekstur ketan yang lengket dan menyatu kerap dimaknai sebagai simbol harapan agar hubungan keluarga dan masyarakat tetap erat serta terhindar dari perpecahan.

Hidangan ini masih dapat ditemui dalam sejumlah perayaan keagamaan. Pemerintah Kota Makassar pernah mencatat Kaddo Minyak sebagai bagian dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, termasuk melalui perlombaan bakul Kaddo Minyak yang digelar TP PKK Makassar.

Kaddo Minyak juga menjadi bagian dari tradisi Maudu Lompoa di Cikoang, Kabupaten Takalar. Dalam perayaan tersebut, hidangan ini dipertahankan bersama berbagai unsur tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.

Di balik penyajiannya saat ini, Kaddo Minyak memiliki sejarah yang lebih tua. Dalam kepercayaan masyarakat Bugis-Makassar sebelum berkembangnya Islam di Susel, makanan tersebut digunakan sebagai bagian dari sesajian dalam ritual tradisional.

Pada masa itu, Kaddo Minyak dipersembahkan kepada entitas yang dipercaya menguasai dunia bawah atau mappano dan dunia atas atau mappanre.

Setelah prosesi berlangsung, makanan yang telah disajikan biasanya ditinggalkan di tempat ritual dan tidak dibawa kembali.

Kepercayaan tersebut juga melahirkan pandangan bahwa Kaddo Minyak merupakan simbol kekuatan. Proses pengolahannya yang membutuhkan tenaga dan ketekunan menjadi salah satu dasar pemaknaan tersebut, sementara orang yang menyantapnya dipercaya memperoleh kekuatan.

Nama Kaddo Minyak sendiri merujuk pada penggunaan unsur minyak atau santan dalam pengolahannya. Unsur tersebut menjadi pembeda dari olahan ketan biasa yang disajikan tanpa bumbu serupa.

Perjalanan Kaddo Minyak memperlihatkan bagaimana sebuah makanan dapat berubah fungsi seiring perkembangan zaman.

Dari bagian ritual kepercayaan masyarakat masa lampau, hidangan ini kemudian bertahan sebagai sajian dalam hajatan, perayaan keagamaan, dan berbagai tradisi masyarakat Bugis-Makassar.

Di balik sepiring ketan yang sederhana, tersimpan cerita tentang warisan leluhur, rasa syukur, kebersamaan, dan ikatan sosial yang terus dirawat dari satu generasi ke generasi berikutnya.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Kapal Terbalik di Zimbabwe Menewaskan 68 Orang, Puluhan Jasad Kembali Ditemukan
• 23 jam lalu
0
thumb
Kombes Jerrold Jadi Komandan Upacara Penurunan Bendera HUT 81 RI di Istana
• 45 menit lalu
0
thumb
Persita Tutup TC di Yogyakarta, Persiapan Menuju BRI Super League Terus Dimantapkan
• 8 jam lalu
0
thumb
Kisah Dariah "Dar Mortir" dan Nyi Kusnah Ruswo, Srikandi Dapur Umum Kemerdekaan
• 3 jam lalu
0
thumb
HUT ke-81 RI, Naik KRL-MRT Hari ini Cuma Bayar Rp 8
• 7 jam lalu
0
Berhasil disimpan.