Jakarta (ANTARA) - Anggota Komisi VIII DPR RI Selly Andriany Gantina mengapresiasi gerak cepat pemerintah pusat dan daerah, kementerian/lembaga, BNPB, Basarnas, TNI, Polri, serta seluruh unsur yang terlibat dalam penanganan gempa di NTT.
Ia menilai melalui gerak cepat, evakuasi akan bisa maksimal, termasuk menyampaikan informasi kepada warga yang masih trauma atau ketakutan.
“Saya juga meminta agar pendataan korban dan masyarakat terdampak dilakukan dengan cepat, akurat, dan menyeluruh, bersamaan dengan pemenuhan kebutuhan di pengungsian,” ucap Selly dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Senin.
Selly menyampaikan duka mendalam bagi mereka yang terdampak, termasuk 38 orang yang dilaporkan meninggal.
Kendati demikian, ia turut meminta langkah kemanusiaan segera dilakukan dengan menyisir lokasi terdampak, memeriksa puing reruntuhan, dan mencari jika ada korban tambahan.
Dia pun berharap bantuan logistik seperti makanan, air bersih, obat-obatan, layanan kesehatan, tenaga medis, serta kebutuhan anak-anak sekolah harus tersedia di awal.
Menurutnya, anak-anak jangan sampai kehilangan rasa aman dan kesempatan untuk belajar hanya karena mereka menjadi korban bencana.
Begitu pula, kata dia, lansia, perempuan, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan lainnya, yang harus mendapat perhatian khusus.
Pemerintah, kata dia, melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), hingga Tentara Nasional Indonesia (TNI), harus segera melakukan penyisiran ke daerah yang terdampak.
"Lakukan upaya pembukaan jalur agar akses bantuan dan logistik bisa masuk," tuturnya.
Dirinya mengatakan dengan sikap gotong-royong yang dilakukan semua pihak, maka penanganan maksimal akan bisa dilakukan.
Ia menekankan hal yang terpenting jangan sampai ada masyarakat yang berada di tempat terpencil atau wilayah yang aksesnya terputus merasa ditinggalkan.
Selain itu, Selly juga mendorong Kementerian Sosial melalui Kampung Siaga Bencana (KSB) untuk memperkuat dukungan psikososial dan pendampingan masyarakat di wilayah terdampak, termasuk yang aksesnya terputus.
Penanganan bencana, menurutnya, tidak cukup hanya dengan evakuasi dan pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi juga harus memastikan pemulihan mental masyarakat.
Dikatakan bahwa Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) juga harus memastikan perempuan dan anak mendapat perlindungan khusus, termasuk trauma healing, pendampingan psikologis, serta ruang aman di pengungsian.
"Jangan sampai bencana menimbulkan trauma berkepanjangan maupun kerentanan baru terhadap kekerasan,” ucap anggota komisi DPR yang di antaranya membidangi sosial, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, serta penanggulangan bencana tersebut.
Di sisi lain, dirinya meminta BNPB mendata sembari memfokuskan evakuasi kepada para wisatawan di Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya yang berada di Labuan Bajo dan sekitarnya.
Selly menegaskan keselamatan manusia harus menjadi prioritas sembari membuka jalur untuk keperluan dan penyaluran logistik.
Sebelumnya, Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya menyatakan tambahan 25 ton bantuan dari pemerintah tiba di sejumlah daerah terdampak bencana gempa bumi di NTT pada hari ke-2 penanganan bencana, Minggu (16/8).
Dengan demikian, sejak hari pertama penanganan bencana digelar, yaitu pada hari yang sama saat gempa bumi Magnitudo 7,7 mengguncang sejumlah wilayah NTT, Sabtu (15/8), total bantuan yang telah disalurkan sebanyak 52 ton logistik, terdiri atas makanan siap saji, air minum, sembako, obat-obatan dan alat-alat kesehatan, tenda, air bersih, dan kebutuhan lain untuk pengungsi.
"Di hari kedua, bantuan logistik terus didatangkan untuk saudara-saudara kita di NTT. Pemerintah terus bergerak memastikan kebutuhan masyarakat terdampak terpenuhi dan bantuan tiba hingga ke lokasi," kata Seskab Teddy saat dihubungi di Jakarta, Senin dini hari.
Baca juga: Polisi rutin patroli di lokasi gempa cegah pencurian dan penjarahan
Baca juga: Satgas DPR kawal percepatan penanganan korban gempa NTT
Baca juga: BNPB umumkan total korban meninggal dunia gempa NTT 53 jiwa
Ia menilai melalui gerak cepat, evakuasi akan bisa maksimal, termasuk menyampaikan informasi kepada warga yang masih trauma atau ketakutan.
“Saya juga meminta agar pendataan korban dan masyarakat terdampak dilakukan dengan cepat, akurat, dan menyeluruh, bersamaan dengan pemenuhan kebutuhan di pengungsian,” ucap Selly dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Senin.
Selly menyampaikan duka mendalam bagi mereka yang terdampak, termasuk 38 orang yang dilaporkan meninggal.
Kendati demikian, ia turut meminta langkah kemanusiaan segera dilakukan dengan menyisir lokasi terdampak, memeriksa puing reruntuhan, dan mencari jika ada korban tambahan.
Dia pun berharap bantuan logistik seperti makanan, air bersih, obat-obatan, layanan kesehatan, tenaga medis, serta kebutuhan anak-anak sekolah harus tersedia di awal.
Menurutnya, anak-anak jangan sampai kehilangan rasa aman dan kesempatan untuk belajar hanya karena mereka menjadi korban bencana.
Begitu pula, kata dia, lansia, perempuan, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan lainnya, yang harus mendapat perhatian khusus.
Pemerintah, kata dia, melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), hingga Tentara Nasional Indonesia (TNI), harus segera melakukan penyisiran ke daerah yang terdampak.
"Lakukan upaya pembukaan jalur agar akses bantuan dan logistik bisa masuk," tuturnya.
Dirinya mengatakan dengan sikap gotong-royong yang dilakukan semua pihak, maka penanganan maksimal akan bisa dilakukan.
Ia menekankan hal yang terpenting jangan sampai ada masyarakat yang berada di tempat terpencil atau wilayah yang aksesnya terputus merasa ditinggalkan.
Selain itu, Selly juga mendorong Kementerian Sosial melalui Kampung Siaga Bencana (KSB) untuk memperkuat dukungan psikososial dan pendampingan masyarakat di wilayah terdampak, termasuk yang aksesnya terputus.
Penanganan bencana, menurutnya, tidak cukup hanya dengan evakuasi dan pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi juga harus memastikan pemulihan mental masyarakat.
Dikatakan bahwa Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) juga harus memastikan perempuan dan anak mendapat perlindungan khusus, termasuk trauma healing, pendampingan psikologis, serta ruang aman di pengungsian.
"Jangan sampai bencana menimbulkan trauma berkepanjangan maupun kerentanan baru terhadap kekerasan,” ucap anggota komisi DPR yang di antaranya membidangi sosial, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, serta penanggulangan bencana tersebut.
Di sisi lain, dirinya meminta BNPB mendata sembari memfokuskan evakuasi kepada para wisatawan di Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya yang berada di Labuan Bajo dan sekitarnya.
Selly menegaskan keselamatan manusia harus menjadi prioritas sembari membuka jalur untuk keperluan dan penyaluran logistik.
Sebelumnya, Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya menyatakan tambahan 25 ton bantuan dari pemerintah tiba di sejumlah daerah terdampak bencana gempa bumi di NTT pada hari ke-2 penanganan bencana, Minggu (16/8).
Dengan demikian, sejak hari pertama penanganan bencana digelar, yaitu pada hari yang sama saat gempa bumi Magnitudo 7,7 mengguncang sejumlah wilayah NTT, Sabtu (15/8), total bantuan yang telah disalurkan sebanyak 52 ton logistik, terdiri atas makanan siap saji, air minum, sembako, obat-obatan dan alat-alat kesehatan, tenda, air bersih, dan kebutuhan lain untuk pengungsi.
"Di hari kedua, bantuan logistik terus didatangkan untuk saudara-saudara kita di NTT. Pemerintah terus bergerak memastikan kebutuhan masyarakat terdampak terpenuhi dan bantuan tiba hingga ke lokasi," kata Seskab Teddy saat dihubungi di Jakarta, Senin dini hari.
Baca juga: Polisi rutin patroli di lokasi gempa cegah pencurian dan penjarahan
Baca juga: Satgas DPR kawal percepatan penanganan korban gempa NTT
Baca juga: BNPB umumkan total korban meninggal dunia gempa NTT 53 jiwa






Komentar (0)