New York: Kelompok peretas Cl0p mengklaim telah mencuri data hampir 50 perusahaan di berbagai negara, termasuk Philips, Shell, Fiserv, dan General Electric (GE).
Klaim tersebut disampaikan melalui situs web kelompok peretas. Dalam aksinya, kelompok tersebut diduga memanfaatkan perangkat lunak yang memungkinkan serangan terhadap sejumlah target secara bersamaan.
Mengutip Channel News Asia, Philips mengonfirmasi telah menjadi target serangan siber yang dikaitkan dengan Cl0p. Perusahaan asal Belanda itu mengatakan telah mengidentifikasi dan menangani upaya pelanggaran terhadap sejumlah server tertentu.
Server yang terdampak berkaitan dengan data internal perusahaan. Philips tidak merinci lebih lanjut mengenai jenis data yang menjadi sasaran.
Sementara itu, perusahaan teknologi keuangan dan layanan global asal Amerika Serikat, Fiserv, mengatakan telah mengetahui klaim kelompok peretas tersebut.
Berdasarkan peninjauan yang dilakukan perusahaan, Fiserv menyatakan tidak menemukan bukti adanya akses tidak sah terhadap data pelanggan, sistem perbankan, transaksi, maupun informasi pribadi.
Baca Juga :
ITSEC Luncurkan Cyber and AI Academy, Cetak Garda Pertahanan Digital Indonesia(Ilustrasi. Foto: Medcom.id)
GE aktifkan protokol tanggap siber
General Electric (GE) juga menyadari adanya klaim serangan tersebut. Juru bicara perusahaan mengatakan GE telah mengaktifkan protokol tanggap insiden siber untuk mengevaluasi potensi masalah.
GE merupakan perusahaan yang bergerak di sejumlah sektor, termasuk aviasi, layanan kesehatan, energi terbarukan, dan industri digital.
Namun demikian, belum dapat diverifikasi secara independen klaim kelompok peretas mengenai jenis dan jumlah data yang diduga dicuri. Kelompok peretas juga belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait klaim tersebut.
Belum diketahui secara rinci bagaimana kelompok peretas memperoleh akses ke sistem perusahaan yang menjadi target.
Namun, Ransom-ISAC mengeluarkan peringatan mengenai dugaan pemanfaatan kerentanan pada PTC Windchill dan FlexPLM. Kedua perangkat lunak tersebut digunakan untuk mendukung proses rekayasa dan manufaktur.
PTC, perusahaan yang berbasis di Boston, Amerika Serikat, belum memberikan pernyataan terkait dugaan serangan tersebut. Perusahaan diketahui telah menerbitkan sejumlah pemberitahuan keamanan melalui situs resminya sejak 18 Juni 2026. Dalam pemberitahuan tersebut, pelanggan didorong menerapkan pembaruan atau patch untuk mengatasi kerentanan keamanan siber. (Tiaranissa Juliansyah)





Komentar (0)