Jakarta (ANTARA) - Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan rangkaian kegiatan dalam Tapak Tilas Proklamasi 2026 menjadi wadah untuk memupuk nilai perjuangan dalam diri masyarakat.
"Tapak Tilas Proklamasi ini harus kita maknai sebagai praktik literasi sejarah. Kita berjalan melewati ruang kota sambil membaca lapisan sejarah yang membentuk Indonesia,” kata Fadli dalam sambutannya di Jakarta, Minggu.
Tapak Tilas Proklamasi 2026 diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan melalui Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) DKI Jakarta dalam rangka memperingati dan mensyukuri Hari Kemerdekaan ke-81 Indonesia.
Baca juga: Kemenbud meriahkan HUT ke-81 RI melalui "Cultural Fair Day"
Ia mengatakan rangkaian kegiatan tersebut telah dimulai sebelumnya, seperti Cultural Fair Day “Pasar Pagi Nusantara” yang diselenggarakan pada Minggu pagi.
Menurut dia, tapak tilas merupakan kegiatan rutin yang telah dilaksanakan selama bertahun-tahun sejak era 1980-an.
Kegiatan tersebut bertujuan memupuk jiwa, semangat, dan nilai-nilai Angkatan 45 serta nilai-nilai perjuangan kemerdekaan bangsa. Selain itu, kegiatan tersebut juga ditujukan untuk meningkatkan literasi sejarah, terutama bagi generasi muda, pelajar, mahasiswa, dan komunitas pencinta sejarah.
Baca juga: Cultural Fair Day sajikan beragam produk dan budaya
Ia menyebut lebih dari 700 orang mengikuti kegiatan tapak tilas tersebut. Peserta berangkat dari Museum Perumusan Naskah Proklamasi dan akan berakhir di Tugu Proklamasi. Kegiatan itu menghubungkan nama, tempat, artefak, dan peristiwa dengan manusia yang pernah mengambil keputusan di dalamnya.
Meski telah dilakukan cukup lama, ia meminta agar ke depan Tapak Tilas Proklamasi itu menghadirkan variasi kegiatan dalam pelaksanaannya.
"Kita berharap ke depan nanti akan kita meriahkan lagi, mungkin dengan kegiatan dari Rengasdengklok begitu ke Museum Naskah Proklamasi dan juga kegiatan-kegiatan lain yang dalam rangkaian ini selalu kita selenggarakan," ujarnya.
Baca juga: Kementerian Kebudayaan berencana merekonstruksi Rumah Proklamasi
Dalam kesempatan itu, ia menekankan pentingnya menghargai dan menghormati para pendahulu, pejuang, pahlawan nasional, proklamator, serta para perintis kemerdekaan.
"Kita berutang pada Bung Karno, Bung Hatta, kita berutang kepada para pejuang dan para pahlawan nasional kita dan utang kita itu harus kita bayar dengan mengisi kemerdekaan ini dengan sebaik-baiknya untuk mewujudkan apa yang menjadi cita-cita mereka," ujarnya.
Menurut Fadli, para pendahulu telah mengantarkan bangsa Indonesia ke gerbang kemerdekaan, sementara perjalanan dari gerbang tersebut menuju cita-cita kemerdekaan menjadi tugas bersama.
Baca juga: Pemerintah mulai merekonstruksi Rumah Proklamasi
"Proklamasi adalah titik kulminasi dari perjuangan panjang bangsa Indonesia sekaligus awal dari tanggung jawab yang jauh lebih besar, mempertahankan kemerdekaan, membangun negara, bangsa, mempersatukan masyarakat yang sangat beragam," katanya.
Keberagaman masyarakat Indonesia merupakan kekayaan budaya yang perlu dihargai sekaligus menjadi bagian dalam mewujudkan cita-cita kehidupan bangsa.
Hal lain yang Fadli sampaikan yakni terkait rencana pendirian kembali Museum Rumah Proklamasi. Menurut dia, gambar asli rumah tersebut sudah tersedia dan desainnya telah disiapkan.
"Rumah Proklamasi itu akan kita, Insyaallah kalau lancar ini kita dirikan kembali. Sudah ada gambar aslinya dan juga sudah didesain sedemikian rupa," ujarnya.
Baca juga: Tugu Proklamasi, kesakralanmu kini
"Tapak Tilas Proklamasi ini harus kita maknai sebagai praktik literasi sejarah. Kita berjalan melewati ruang kota sambil membaca lapisan sejarah yang membentuk Indonesia,” kata Fadli dalam sambutannya di Jakarta, Minggu.
Tapak Tilas Proklamasi 2026 diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan melalui Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) DKI Jakarta dalam rangka memperingati dan mensyukuri Hari Kemerdekaan ke-81 Indonesia.
Baca juga: Kemenbud meriahkan HUT ke-81 RI melalui "Cultural Fair Day"
Ia mengatakan rangkaian kegiatan tersebut telah dimulai sebelumnya, seperti Cultural Fair Day “Pasar Pagi Nusantara” yang diselenggarakan pada Minggu pagi.
Menurut dia, tapak tilas merupakan kegiatan rutin yang telah dilaksanakan selama bertahun-tahun sejak era 1980-an.
Kegiatan tersebut bertujuan memupuk jiwa, semangat, dan nilai-nilai Angkatan 45 serta nilai-nilai perjuangan kemerdekaan bangsa. Selain itu, kegiatan tersebut juga ditujukan untuk meningkatkan literasi sejarah, terutama bagi generasi muda, pelajar, mahasiswa, dan komunitas pencinta sejarah.
Baca juga: Cultural Fair Day sajikan beragam produk dan budaya
Ia menyebut lebih dari 700 orang mengikuti kegiatan tapak tilas tersebut. Peserta berangkat dari Museum Perumusan Naskah Proklamasi dan akan berakhir di Tugu Proklamasi. Kegiatan itu menghubungkan nama, tempat, artefak, dan peristiwa dengan manusia yang pernah mengambil keputusan di dalamnya.
Meski telah dilakukan cukup lama, ia meminta agar ke depan Tapak Tilas Proklamasi itu menghadirkan variasi kegiatan dalam pelaksanaannya.
"Kita berharap ke depan nanti akan kita meriahkan lagi, mungkin dengan kegiatan dari Rengasdengklok begitu ke Museum Naskah Proklamasi dan juga kegiatan-kegiatan lain yang dalam rangkaian ini selalu kita selenggarakan," ujarnya.
Baca juga: Kementerian Kebudayaan berencana merekonstruksi Rumah Proklamasi
Dalam kesempatan itu, ia menekankan pentingnya menghargai dan menghormati para pendahulu, pejuang, pahlawan nasional, proklamator, serta para perintis kemerdekaan.
"Kita berutang pada Bung Karno, Bung Hatta, kita berutang kepada para pejuang dan para pahlawan nasional kita dan utang kita itu harus kita bayar dengan mengisi kemerdekaan ini dengan sebaik-baiknya untuk mewujudkan apa yang menjadi cita-cita mereka," ujarnya.
Menurut Fadli, para pendahulu telah mengantarkan bangsa Indonesia ke gerbang kemerdekaan, sementara perjalanan dari gerbang tersebut menuju cita-cita kemerdekaan menjadi tugas bersama.
Baca juga: Pemerintah mulai merekonstruksi Rumah Proklamasi
"Proklamasi adalah titik kulminasi dari perjuangan panjang bangsa Indonesia sekaligus awal dari tanggung jawab yang jauh lebih besar, mempertahankan kemerdekaan, membangun negara, bangsa, mempersatukan masyarakat yang sangat beragam," katanya.
Keberagaman masyarakat Indonesia merupakan kekayaan budaya yang perlu dihargai sekaligus menjadi bagian dalam mewujudkan cita-cita kehidupan bangsa.
Hal lain yang Fadli sampaikan yakni terkait rencana pendirian kembali Museum Rumah Proklamasi. Menurut dia, gambar asli rumah tersebut sudah tersedia dan desainnya telah disiapkan.
"Rumah Proklamasi itu akan kita, Insyaallah kalau lancar ini kita dirikan kembali. Sudah ada gambar aslinya dan juga sudah didesain sedemikian rupa," ujarnya.
Baca juga: Tugu Proklamasi, kesakralanmu kini






Komentar (0)