رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ
“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan kebaikan apa pun yang Engkau turunkan kepadaku.” (QS. Al-Qaṣaṣ: 24)
Ini adalah doa Musa ketika berada di padang Madyan. Untuk memahami kedalaman maknanya, kita perlu melihat perjalanan hidup Musa sebelum sampai pada titik tersebut.
Kisah Musa di Madyan merupakan bagian dari rangkaian perjalanan hidupnya yang diceritakan dalam Al-Qur’an. Jauh sebelum itu, Musa adalah seorang anak yang diselamatkan dari kekejaman Fir‘aun. Saat itu, Fir‘aun bermimpi bahwa kekuasaannya akan runtuh oleh seorang anak dari Bani Israil. Ketakutan ini membuatnya memerintahkan pasukannya untuk melakukan pembunuhan terhadap setiap bayi laki-laki dari kalangan Bani Israil.
Namun, rencana Allah berjalan di atas segala rencana manusia. Ibu Musa menghanyutkannya ke sungai, hingga akhirnya ia sampai kepada istri Fir‘aun. Istri Fir'aun meminta kepada suaminya untuk menjadikannya anak angkat. Dia berkata:
وَقَالَتِ ٱمْرَأَتُ فِرْعَوْنَ قُرَّتُ عَيْنٍ لِّي وَلَكَ
“Istri Fir'aun berkata: Dia akan menjadi penyejuk mata bagiku dan bagimu...” (QS. Al-Qaṣaṣ: 9)
Musa kemudian tumbuh di lingkungan istana, menjadi seorang pemuda yang kuat. Suatu hari, dia melihat dua orang sedang berkelahi, seorang dari Bani Israil dan seorang dari kaum Qibthi. Karena melihat ketidakadilan Musa berniat melerai. Namun, tanpa sengaja, pukulannya menyebabkan orang Qibthi tersebut meninggal.
Peristiwa ini sampai kepada Fir‘aun, dan Musa pun terancam ditangkap. Musa akhirnya melarikan diri dari Mesir menuju Madyan (saat ini sekitar provinsi tabuk, Arab Saudi). Perjalanan itu sangat berat, Musa melaluinya tanpa alas kaki, tanpa bekal, kelaparan, dan kelelahan selama berhari-hari, hingga hanya memakan dedaunan yang ditemuinya diperjalanan.
Sesampainya di Madyan, dalam kondisi lemah dan lapar, Musa melihat dua perempuan yang kesulitan memberi minum ternak mereka. Sumur tertutup batu besar, dan mereka harus menunggu antrian. Ketika ditanya, keduanya menjelaskan bahwa ayah mereka sudah tua sehingga mereka harus bekerja sendiri.
Di tengah keletihan yang luar biasa, empati Musa muncul. Dia tetap memilih untuk membantu, mengangkat batu besar itu, dan memberi minum ternak mereka. Setelah itu, Musa kembali ke tempat teduh dan beristirahat. Dalam kondisi sangat lemah, sendiri, lapar, dan tanpa kepastian hidup, Musa berdoa:
رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ
“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.” (Q.S Qasas: 24)
Itu adalah doa dalam keputusasaan. Musa seakan berkata ya Tuhanku. Aku tidak punya apa-apa, aku lemah, aku lapar, dan aku sendiri. Maka berikanlah kepadaku rezeki, makanan atau apapun kebaikan dalam hidup. Aku sangat yakin dan percaya engkau akan menurunkan pertolongan kepadaku.
Di tengah kondisi sulit dan lemah, Musa tetap berbuat baik. Musa tetap memberikan bantuan fisik, dikala fisiknya juga sedang lemah. Tetapi, disitulah kemudian rumus pertolongan Allah datang. Musa berdoa bukan berarti menganggap bahwa Allah tidak mengetahui kondisi, tapi itu adalah ruang dimana manusia menyampaikan keluh kesah kehidupannya hanya kepada Allah.
Tidak lama setelah itu, dua perempuan tadi kembali kepada ayah mereka dan menceritakan kejadian tersebut. Sang ayah (yang menurut mayoritas ulama adalah Syu‘aib) mengutus salah satu putrinya untuk memanggil Musa.
Musa pun datang dan menceritakan seluruh perjalanan hidupnya. Salah satu putri tersebut berkata kepada ayahnya “Wahai ayahku, ambillah dia sebagai pekerja, karena sesungguhnya orang terbaik yang engkau ambil adalah yang kuat lagi terpercaya.” Tapi kemudian itu difahami oleh Syu’aib sebagai kekaguman kepada Musa. Sehingga Syu’aib menawarkan anaknya untuk dinikahkan kepada Musa. kemudian Musapun menikahi putri Syu’aib.
Pada akhirnya, Musa tidak hanya mendapatkan makanan untuk menghilangkan lapar. Allah memberikan lebih dari itu, berupa tempat tinggal, pekerjaan, pasangan hidup, bahkan keluarga baru. Musa menikah dengan salah satu putri Syu‘aib.
Di sinilah kita melihat bagaimana Allah menjawab doa Musa, bukan sekadar memenuhi kebutuhan sesaat, tetapi memberikan kebaikan yang jauh lebih luas.
Dari kisah ini, kita belajar bahwa dalam kondisi paling sulit sekalipun, kita tidak boleh berputus asa atau menyalahkan Allah. Justru saat itulah kita kembali kepada-Nya, mengakui kelemahan kita, dan memohon pertolongan dengan penuh keyakinan.
Menarik pula bahwa dalam doa tersebut digunakan kata أَنْزَلْتَ anzalta (Engkau telah menurunkan) dalam bentuk lampau. Ini menunjukkan keyakinan dan optimisme yang kuat, seolah-olah kebaikan itu telah datang yang dimaknai bahwa kebaikan itu pasti akan datang.
Seberapapun beratnya ujian hidup kita, optimislah dengan doa yang kita panjatkan. Percayalah bahwa Allah akan mengabulkan dan memberikan jalan keluar dari arah yang tidak disangka-sangka. Tetaplah berbuat dan melakukan kebaikan ditengah ujian dan keputus asaan hidup.





Komentar (0)